Harun Untuk Khaliesah

Harun Untuk Khaliesah
bertengkar


__ADS_3

Tepat setelah dosen keluar ruangan, dengan cepat Ica merapikan bukunya. "Duluan yah Ta', " Ica menepuk kecil bahu Dita lalu bergegas keluar ruangan, menenteng ranselnya yang belum sempat ia pakai.


"Astaga, bener - bener yah tuh anak," desah Dita menggelengkan kepala, menatap sahabatnya yang sudah menghilang dengan cepat.


Ica berjalan dengan cepat berharap suaminya tidak akan menunggu lama.


"Ica.. !!" langkah Ica seketika terhenti saat seseorang memegang tangannya.


Ica menatap wajah lelaki di depannya dan dengan cepat menepis tangannya, "apaan sih Nu'??" katanya dingin.


Maaf,. kita boleh bicara sebentar enggak??


"Aku enggak bisa Nu', maaf yah aku buru - buru," baru saja Ica ingin melangkah Danu sudah menahan tangannya lagi.


"Danu... enggak sopan kamu megang tangan aku kayak gini, orang - orang bisa salah paham dengan sikap kamu." Kesal Ica mengedarkan pandangannya ke arah mahasiswa lain yang sedang berbisik menatap ke arahnya.


Maaf Ica, aku tidak bermaksud seperti itu. Ada hal penting yang ingin ku bicarakan padamu, kamu bisakan, please??


"Maaf Danu, aku tahu kamu sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadapku, tapi Dita dan mas Harun tidak akan bisa mengerti itu. Mereka akan salah paham jika melihat kita mengobrol berdua seperti ini." Ica berlalu meninggalkan Danu tanpa ingin mendengarkan penjelasan apapun lagi.


"Ica... tidak bisakah kita bersama, walau hanya sebatas teman", gumam Danu menatap kepergian Ica.

__ADS_1


Dadanya masih terasa sesak jika melihat Ica bersikap dingin seperti itu padanya.


***


Sejak menjemput Ica di kampus, Harun terus saja diam, tak sekalipun ia mengajak Ica bicara. Bahkan setelah menurunkan Ica di depan rumah, ia langsung melajukan mobilnya tanpa berpamitan pada istrinya.


"Ya Tuhan, apa mas Harun melihatku dengan Danu tadi?? " batin Ica, hatinya sungguh sangat gelisah melihat perubahan suaminya tadi.


Berkali - kali Ica menghubungi Harun, tapi tak satu pun panggilannya yang di jawab, dengan gelisah ia mondar - mandir di depan pintu menunggu suaminya datang.


Ica berbalik saat mendengar suara knop pintu yang terbuka, dengan tersenyum ia menyambut kehadiran sosok di balik pintu itu. "Mas...??" panggil Ica ingin memeluk Harun yang baru saja masuk.


Ica hanya bisa diam mematung mendapatkan penolakan itu, belum pernah Harun menolak untuk memeluknya seperti ini, hatinya benar - benar terasa hancur.


Air menggenang di pelupuk matanya, namun ia hiraukan, ia berlari mengejar suaminya yang sudah menaiki tangga, "mas.. maafkan aku, " katanya menggenggam tangan Harun. Namun Harun kembali menepis tangannya dengan keras.


"Ahhh.. " teriak Ica yang langsung menggenggam pegangan tangga dengan kedua tangannya, hampir saja ia terjatuh karena Harun menghempas tangannya dengan sangat kasar.


Deraian air mata membajiri wajahnya saat melihat Harun yang sama sekali tidak menghiraukannya. Lelaki yang di cintainya itu hanya meliriknya sesaat dan kembali melangkahkan kaki menuju kamar.


"Mas... jika ini soal Danu maafkan aku, kamu hanya salah paham, " Ica kembali menggenggam tangan suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Jangan pernah menyebut namanya di depanku," kata Harun dengan dingin, lalu kembali meninggalkan Ica.


"Lalu aku harus bagaimana?? apa yang harus ku kakatan agar kamu tidak menghindariku seperti ini??" suara Ica bergetar, namun ia coba untuk bicara dengan lantang.


Harun beranjak dari tempat tidur, "jika kamu memang tidak ingin hal seperti ini terjadi, seharusnya kamu bisa menjaga sikap," Harun berkata dengan keras, meluapkan segala emosi yang menumpuk di hatinya.


"Sungguh, aku sangat kecewa padamu mas." lirih Ica, berjalan cepat keluar kamar.


"Shiit!! " umpat Harun, menendang keras tempat tidur di hadapannya,


"harusnya aku yang berkata seperti itu Ica, aku kecewa padamu. Kamu jelas tahu aku tidak menyukai kedekatanmu dengannya tapi kamu tetap saja berduaan seperti dengan dia," gumam Harun, mengepalkan tangannya.


"aarghhh.. kamu bahkan berani berpegangan tangan seperti itu di tempat umum, " kekesalan Harun benar - benar memuncak membayangkan tangan istrinya yang di sentuh lelaki lain, lelaki itu bahkan pernah sangat mencintai istrinya.


..


..


..


..

__ADS_1


__ADS_2