
"Kamu tidur disini Run ??" tanya Wirawan yang melihat bantal bertengger manja di atas sofa.
Herman menaikkan keningnya heran.
"Anak ayah tidak mengusir kamu dari tempat tidur kan nak .." tanya Herman khawatir.
Haha enggaklah yahh, Harun hanya tidak ingin mengganggu Ica, dia terlihat sangat lelah semalam. Lagi pula akan terasa canggung baginya jika Harun tiba - tiba tidur bersama dirinya.
Herman dan Wirawan menganggukkan kepala mendengar penuturan Harun.
"Ica akan memahaminya nak, dia mungkin terlihat manja tapi sejujurnya dia adalah gadis kecil yang begitu pengertian, dia sangat dewasa dengan kepribadian yang begitu hangat." jelas Herman.
Harun menganggukkan kepala mencerna setiap ucapan ayah mertuanya.
"Belajarlah memahaminya, terkadang Ica sulit untuk mengungkapkan kesedihannya pada orang lain, semua orang tau jika dia adalah gadis yang periang, tapi tak pernah ada yang menyadari kalau sebenarnya hatinya begitu lemah, dia begitu sensitif bahkan terkadang ayah juga tidak sadar ketika membuat hatinya terluka. Ayah baru menyadari kesalahan ayah ketika melihatnya terisak dibalik selimutnya." lanjut Herman.
Raut sedih kini tergambar jelas di wajah Herman, sejujurnya dia belum sanggup melepas putri kecilnya itu.
"Harun akan berusaha untuk membuatnya bahagia, hHarun akan belajar memahaminya, Harun janji yah." Harun menggenggam erat tangan Herman, ia tak tega melihat wajah mertuanya yang begitu sedih.
"Ayah percaya padamu nak." Herman memeluk erat Harun.
"Ehem ehem," Ica berdehem melihat adegan di depannya. Kini matanya menatap kesal dengan tangan terlipat di dadanya.
Harun dan Herman melepaskan pelukannya, lalu menatap Ica yang kini sudah rapi dengan kemeja berwarna dusty dan rok plisket panjang di sertai kerudung yang senada dengan roknya.
__ADS_1
"Dia cemburu tuh," bisik Herman pada Harun, kaduanya pun terkekeh.
Ica menghambur duduk di antara Herman dan Wirawan. "Ayahhh... kok malah pelukan sama mas Harun sih, sudah tidak sayang lagi yah sama Ica, " rotes Ica dengan manja.
Sontak semua tertawa melihat tingkah Ica.
"Sini biar papa yang peluk, sekarang Ica akan jadi anak kesayangannya papa." Rayu Wirawan memeluk Ica.
"Makasih pa.. bakalan lebih sayang sama Ica kan dari pada mas Harun ??" tanya Ica dengan nada manjanya.
Iya sayang..
Mendengar jawaban Wirawan, Ica lalu menjulurkan lidahnya mengejek Harun.
*****
"Bunda... Ica juga pengen pulang bareng bunda, please ??" rengek Ica saat orang tuanya pamit pulang.
"Maafkan bunda sayang,.
kamu di sini saja berikan waktu pada suamimu, kalian kan belum lama kenal jadikan ini moment untuk kalian bisa mengenal satu sama lain," bujuk Lidya.
Ica melirik sekilas ke arah Harun, lalu kembali menatap bundanya, ia mengangguk dan tidak lagi menyuarakan apapun.
"Ayah sayang kamu nak," peluk Herman.
__ADS_1
Mereka berempat pun meninggalkan hotel, berharap keputusan itu dapat membuat anak - anak mereka semakin mengakrabkan diri.
*****
Harun mondar - mandir, cemas !! Sejak orang tua mereka pulang. Ica masuk ke kamar mandi sudah hampir satu jam namun Ica belum juga keluar.
"Pasti lagi nangis deh sih anak kecil itu, yah ampun aku harus ngapain yah, mau manggil enggak enak." gumam Harun menggigit kukunya.
Ica keluar dari kamar mandi, heran melihat Harun yang berdiri mematung.
"Ngapain mas ??" Harun menengok,
"Awas loh di patok ayam ngelamun gitu. ha ha ha 😁😁", lanjut Ica.
"Bisa yah nih anak ketawa, jelas - jelas tuh mata masih sembab.. ayah benar Ica tidak menunjukkan kesedihannya di depan orang. Ruarrr biasa," gumam Harun.
Ica mengambil tasnya yang tergeletak di meja, menatap nanar pada buku yang di ambil nya. "Bunda memang serius ninggalin aku disini, sampai buku kesukaanku pun di bawa kesini."
.
.
.
.
__ADS_1