
Di rumah Harun..
Kenapa kamu terlihat begitu bahagia ?? Tanya Wirawan saat melihat Sinta tak hentinya mengukir senyum.
Aku sangat bersyukur Sekarang Ica berada di antara kita.
Ehm, dia gadis manis yang begitu polos dia begitu hangat. Wirawan mulai mengingat momen dirinya bersama Ica.
Lihatlah !! Sinta menunjukkan ponselnya. Bukankah dia sangat manis.
Dia mengirim hadiah untukmu ?? Sinta mengangguk bahagia.
Ponsel sinta kembali bergetar.
"Mah sepertinya hadiahnya sudah di depan rumah, dia baru saja mengabariku." Ica
Ting tong
Mas itu hadiahnya ayo kita lihat, Sinta menarik tangan Wirawan untuk segera turun membuka pintu.
Biar saya saja bik Nah, kata Sinta saat bik Nah ingin membuka pintu.
Ceklek, pintu terbuka.
Sinta diam mematung melihat hadiah di depannya, cairan bening jatuh membasahi pipinya.
Belum juga salam mama malah nangis, enggak suka yah Harun datang ?? Kata Harun sedikit meledek.
Sinta menghempaskan tubuhnya memeluk Harun. Mama sangat merindukanmu.
Ica yang sedari tadi bersembunyi di balik punggung Harun, kini sudah terlihat oleh Sinta.
Sinta melepaskan pelukannya lalu menggeser tubuh Harun,
Harun hanya menatap bingung kemudian melirik Wirawan.
Wirawan hanya tersenyum. Lalu memeluk Harun.
Ica... Terima kasih nak, hadiahnya begitu indah. Kata Sinta meraih tubuh Ica ke dalam pelukannya.
Hadiah ?? Kamu bawa hadiah ?? Kok gak bilang ?? Tanya Harun heran pada Ica.
__ADS_1
Ica, Sinta dan Wirawan hanya tersenyum.
Ihhh apaan sih, kalian kompak gitu. Ada apa ??
Ini hadiah mama. Sinta menempelkan tangannya di kedua pipi Harun.
Aku ?? Tunjuk Harun pada dirinya. Sinta menjawab dengan anggukan.
Harun sama sekali tidak mengerti.
Setelah mengobrol cukup lama, Harun dan Ica pamit untuk
ke kamar. Sinta mengiyakan karena iya tahu dari Ica kalau akhir - akhir ini Harun selalu lembur. Mungkin dia lelah dan ingin tidur. Fikirnya.
-------------
Di kamar..
Tadi chatingan sama siapa ?? Tanya Harun yang kini sudah rebahan di ranjang.
Enggak ada kok mas,
Harun menatap penuh selidik.
Mana ponselmu ?? Harun mengulurkan tangannya.
Kok gitu sih mas, kamu curiga sama aku ??
Enggak, cuma mau lihat saja. Tidak boleh ??
Itu sama saja kamu curiga. Ica menepis tangan Harun.
Harun membalikkan tubuhnya mencoba menggeledah Ica.
Ihhh mas apaan sih, enggak boleh. Ica tetap mempertahankan ponselnya.
Kamu merahasiakan sesuatu dariku ?? Harun mulai kesal.
Jangan berburuk sangka !! Jawab Ica yang lebih kesal.
Ponsel !! Tegas Harun menengadahkan tangannya.
__ADS_1
Dengan pasrah Ica memberikannya, dia malas jika harus terus berdebat.
Dengan perasaan dongkol Ica menutup mata dan memunggungi Harun. Bisa - bisanya dia berfikiran buruk tentangku. "Gumam Ica".
Harun terkejut melihat chat di ponsel Ica, ia melirik Ica tak percaya.
Ya Tuhan, jadi dia yang membuat mama begitu terharu saat melihatku. Hehh, manisnya !! Batin Harun.
Harun mendekat ke arah Ica memeluknya dari belakang.
Maaf... Katanya lirih.
Makanya jangan selalu berburuk sangka, apalagi sama istri sendiri. Jawab Ica ketus, sebenarnya ia merasa sangat malu karena sudah ketahuan oleh Harun.
Lagi pula apa susahnya bilang kamu lagi chatingan sama mama. Sikapmu yang membuatku merasa curiga.
"Deg, kalah telak !! Iya juga sih. Kenapa jadi aku yang marah yah ??"
Kamu tuh yang enggak percayaan malah nyalahin aku. Ica masih mencoba membela diri.
Harun menarik lengan Ica berusaha membalikkan tubuhnya.
Maaf !! Terima kasih sudah memberikan kebahagiaan untuk mama. Harun membelai lembut rambut Ica, mengecup pucuk kepalanya berulang.
Ica menempelkan wajahnya di dada Harun mencoba menutupi mukanya yang sedang merah padam karena perlakuan Harun.
Aku hanya memberinya sedikit kejutan. Bukan hal yang besar.
Tapi kejutan kecil kamu membuat papa dan mama begitu bahagia.
Apa kamu tidak marah, Meskipun aku menggunakan mu sebagai alat ??
Tidak masalah, aku hanya berdiri mematung di hadapan mereka. Aku bahkan rela memberi seluruh hidupku hanya untuk melihat senyum itu.
Ica semakin kagum dengan sifat yang dimiliki suaminya.
..
..
..
__ADS_1
..