Harun Untuk Khaliesah

Harun Untuk Khaliesah
90%


__ADS_3

"Assalamu alaikum bunda", teriak Ica saat sudah duduk di sofa bersama Harun.


"Wa'alaikum salam sayang, kok cepat banget pulangnya?" Tanya bunda Lidya melirik ke Harun.


Harun hanya tersenyum melihat Lidya. Seolah tahu apa arti dari tatapan calon mertuanya itu.


"Ica cuman ke sekolah tadi, tapi karena di sekolah teman - teman Ica pada heboh kepoin hubungan Ica dan mas Harun, jadi kita pulang saja dari pada jadi lalat yang di kerubutin", ucap Ica santai sambil mengunyah kripik di toples.


Cieee nak Harun jadi artis dadakan dong di sekolahnya Ica.


Harun terkekkeuh mendengar ucapan Lidya.


Ya sudah kalian pasti lapar, makan gih bunda sudah masak.


"Makasih bundaku sayang tau aja Ica lagi laper", Ica memeluk dan mencium pipi Lidya. Ica menoleh menatap Harun dan mengajaknya untuk makan.


"Enggak usah, mas Harun pulang saja," Jawab Harun dengan senyum menatap Ica, "makasih tante tapi aku masih ada urusan", pamit Harun.


Harun kamu harus makan dulu nak, kamu pasti lelah menemani Ica tadi,


Lagi pula ini sudah jam makan siang.


"Mas Harun apaan sih, udah di tawarin juga'!, memangnya urusan mas itu penting banget yah ?", ucap Ica kesal. "Ehh ehh yah ampun kenapa aku jadi posesif gini, hello Ica hello sadar dong siapa kamu posesifin tuh cowok." Batin Ica.


Harun mengangkat alisnya heran melihat tingkah gadis di hadapannya. "Yah sudah maaf, aku akan ikut makan denganmu," jawab Harun lembut, dia tidak ingin melihat Ica semakin cemberut dan menekuk wajah lucunya itu.


Bunda Lidya hanya tersenyum melihat tingkah Ica dan Harun yang sudah seperti sepasang kekasih.

__ADS_1


Di meja makan Ica mengambilkan nasi dan lauk untuk Harun, Ica melayani Harun seperti halnya seorang istri yang sedang melayani suaminya.


Harun yang merasa begitu di perhatikan oleh Ica merasa sangat bahagia, tak hentinyaa Harun menatap wajah manis calon istrinya itu


-----------------


"Assalamualaikum ma," Harun duduk di samping Sinta.


"Wa'alaikum salam sayang, tumben jam segini sudah pulang kerja," tanya Sinta melirik jam di tangannya.


Enggak kerja ma !!


Sinta meletakkan majalah di tangannya menatap Harun penuh selidik.


"Habis nganterin Ica ke sekolahnya," jawab Harun menjawab kecurigaan Sinta.


"Apaan sih ma !" Wajah Harun memerah


"Ohh iya mah persiapan pernikahannya gimana ?" tanya Harun mengalihkan pembicaraan.


Mmm alhamdulillah sudah 90%, ohh iya kamu sudah mengambil cuti kan ??


Iya papa sudah menyerahkan tugas kantor ku ke Dito (asisten Harun). Harun Tinggal merampungkan beberapa berkas sebelum libur.


Mmm syukurlah, kirain papa lupa anaknya mau nikah jadi masih di suruh kerja saja.


"Enggak mungkinlah ma, yang sibuk menjodohkan kan sih papa." Harun mencium pipi mams Sinta gemas lalu beranjak ke kamarnya.

__ADS_1


----------------


Harun baring di tepi ranjang sambil menggelayutkan kakinya ke bawah mencoba mengistirahatkan sejenak tubuhnya.


Harun melirik jam di tangannya. "Ya Allah sudah mau ashar lagi" Harun beranjak dari tidurnya dan segera membersihkan diri dan segera sholat dhuhur, di sela waktu menunggu ashar Harun pun menyempatkan untuk membaca al-quran.


------


Di kamar Ica...


Ica duduk bersandar di atas kasur sambil membaca sebuah buku..


Lidya menghampiri putrinya dan duduk di sampingnya.


Ica melirik Lidya sesaat kemudian kembali menatap bukunya. "kenapa bun ??"


Lidya tersenyum membelai lembut pucuk kepala putrinya. "gimana Harun ?"


Ica menutup bukunya, seketika Ica menoleh melihat mimik wajah Lidya yang tersenyum menyiratkan ada sebuah kebahagiaan di balik mata indah itu.


.


..


..


..

__ADS_1


__ADS_2