Harun Untuk Khaliesah

Harun Untuk Khaliesah
grogi


__ADS_3

Ehhh iya kok bisa dua bulan lagi kamu nikah, memangnya kamu sudah menyetujui perjodohan itu ??


Ica menganggukkan kepalanya.


Haaaa sumpehh loo ?? Bukannya kamu terpuruk atas perjodohan ini, lantas apa yang membuat kamu menerima semua ini Ica ?


Karena keputusan ini membuat semua orang bahagia.


Lantas, apa kamu juga bahagia ??


Yahh, apa pun yang membuat orang tua ku bahagia aku juga pasti akan bahagia.


“Tidak semua hal Ica,!! Ada kalanya kebahagiaan orang lain justru adalah duka untuk kita."


Aku tidak memutuskan semua ini segampang itu Dita, karena Allah, karena atas izin Allah aku memantapkan pilihanku ini.


Aku juga tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan, apalagi ini menyangkut kehidupanku.


Aku tahu apapun yang di kehendaki oleh_Nya pasti adalah yang terbaik untukku.


"Hhummmp.. Ica" Dita memeluk erat sahabatnya itu.


Aku enggak nyangka pemikiranmu akan sedewasa ini, aku yakin semua keikhlasan mu ini pasti akan medapatkan balasan yang setimpal. Aku harap pernikahanmu ini akan mendatangkan bahagia untukmu Ica.


"Thanks yah Ta',"cap Ica lalu memeluk tubuh sahabatnya dengan erat.


------------------


Sebulan kemudian.

__ADS_1


"Sayang nak Harun ada di bawah tuh." Kata Lidya setelah duduk di bibir ranjang"


"Hmmm.. Mau ngapain dia kesini bun ?" jawab Ica dengan suara serak dan masih memejamkan matanya.


Hari ini kan kalian ada fitting baju sayang, makanya nak Harun jemput.


Haaaaa ???


Iyahh bunda dan tante Sinta sudah memilih model yang bagus buat kamu, nanti kamu tinggal mencocokkan ukurannya saja.


Itu sajalah bun, enggak usah ribet pakai acara fitting segala. Pasti muat kok di badan Ica.


Enggak boleh gitu dong sayang, kamu nih enggak ada serius-seriusnya yah, masa urusan penting kayak begini mau di sepelehin juga sih nak.


Mandi gihh, kasihan tau Harun sudah dari tadi menunggumu.


"Hmmm" Ica bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar mandi, Ica malas berdebat dengan bundanya, Ia tahu kalau dirinya tidak segera kabur untuk mandi pasti bunda masih menasehatinya panjang lebar.


Lidya menggeleng tersenyum melihat tingkah putrinya.


---


"Mm hai maaf yah menunggu lama," ucap Ica sedikit kikuk saat menghampiri Harun yang tengah duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


Harun mendongak menatap Ica, ia tersenyum, baru kali ini dia bisa bertatap mata langsung dengan gadis di hadapannya karena saat pertemuan kemarin Ica hanya menunduk dan seolah menghindarinya.


Mmm iya enggak masalah kok, mau berangkat sekarang ??


Ica hanya mengangguk, "jadi ini toh sih Harun Harun itu,, Ehh yahh ampun kok aku jadi grogi begini sih, Ica ayo sadar Ica", bathin Ica.

__ADS_1


----------------


Sesampainya di salah satu butik Ica dan Harun pun di sambut oleh salah seorang pelayan.


Sang pelayan pun memberikan beberap gaun pada Ica, dan beberapa setel jas pada Harun.


"Silahkan mas, mba bisa di coba dulu di ruang ganti", pelayan menunjukkan ruang ganti tersebut.


Ihhhh apaan sihh bunda, kok bajunya malah kayak gini, niat pilihin buat aku enggak sih.


"Kok enggak dipakai ?“ tanya Harun heran, saat melihat Ica keluar tanpa memakai gaun pengantinnya.


"Hehe maaf, nih !" Ica menunjukkan gaunnya pada Harun, membuat Harun terbelalak.


"Loh kok lengannya pendek ?" Harun menunjuk gaun yang di pegang oleh Ica.


"Mungkin bunda lupa kali kalau anaknya pakai hijab, atau lagi mengkhayal kali yah Ica nikah tanpa memakai hijab. Heheh." ceplos Ica.


Harun hanya tersenyum, dan segera memanggil pelayan wanita tadi.


"Mbak ini gaunnya enggak salah kan ??" Tanya Harun pada sang pelayan.


"Maaf mas sebentar saya cek dulu.


Ehh iya mas maafkan saya tadi salah mengambil gaun", ucap sang pelayan terbata dia takut akan di marahi atas kecerobohannya itu.


..


..

__ADS_1


.


__ADS_2