
Semalam Ica memutuskan untuk tidur di kamar tamu, ia sungguh tidak ingin jika Harun melihat betapa lemah hatinya, malam itu ia benar - benar sesegukan meluapkan segala kesedihan di hatinya, rasa kecewanya terhadap sikap Harun membuat air matanya mengalir tiada henti.
Pagi ini ia kembali ke kamarnya, menyiapkan pakaian untuk di kenakan suaminya ke kantor. Ica berdiri di sudut ranjang, menatap sendu wajah suaminya yang tertidur pulas dan tanpa sadar air mata kembali memecah membayangkan kemarahan Harun semalam. "Mas, apa begitu sulit bagimu untuk bisa percaya padaku?? " lirih Ica lalu kembali meninggalkan kamar itu.
**
Harun menatap istrinya yang makan dengan wajah tertunduk, hatinya begitu sakit melihat wajah wanita yang di cintainya terlihat begitu pucat dengan mata yang bengkak. "Apa kamu menghabiskan sepanjang malam dengan menangis??" gumam Harun.
Ingin rasanya Harun meraih tubuh itu lalu mendekapnya dengan erat, namun kecemburuan membuat egonya begitu besar, rasa cemburu kembali menelusup ke pikirannya sehingga membuatnya kembali mengabaikan istrinya.
***
Ica berjalan dengan gontai memasuki kelasnya, duduk dengan menempelkan pipinya di atas meja, tatapannya menatap kosong kearah jendela.
"Kamu kenapa??" tanya Dita sedikit dingin saat baru saja duduk di sebelahnya.
"Enggak apa - apa, " jawab Ica tanpa mengubah posisinya.
Ica sama sekali tidak menangkap apapun yang di sampaikan Asisiten Dosen barusan, pikirannya berkelana kemana - mana.
"Kamu mau ikut ke kantin?? " Dita kembali berkata dengan dingin, namun pikiran Ica yang kacau membuatnya tidak menyadari perubahan sikap Dita.
Ica hanya tersenyum dan menggeleng, Dita lalu beranjak meninggalkannya.
****
"Ehh Dit, Ica sakit apaan emangnya ??" tanya Tika teman jurusannya, saat baru saja meletakkan makanan di atas meja dan duduk menghadap Dita
Dita menegernyitkan keningnya, "sakit?? Ica enggak lagi sakit kok," jawab Dita menatap satu per satu temannya yang baru saja duduk.
__ADS_1
"Emang iyah?? tapi tadi gua lihat Ica jalan sempoyongan masuk ke ruang UKS kok, " timpal Lia yang datang bersama Tika, Tika juga mengangguk membenarkannya.
"Serius?? tapi tadi waktu gua tinggal dia baik - baik aja kok, "jawabnya tak percaya, dengan cepat Dita meneguk es teh di depannya, "gua susul Ica dulu yah, thank you infonya, " lanjut Dita menepuk kecil bahu Lia lalu segera lari menuju UKS.
Dita membuka pintu ruang UKS, dengan pelan ia membuka gorden yang menutup tempat tidur di dalam ruangan itu. ia lalu menatap sahabatnya yang sedang terbaring dengan wajah pucat.
"Kamu sakit Cha', kok enggak nelpon aku tadi, kok malah datang ke sini sendirian?? " Dita terlihat sangat khawatir, ia menggenggam tangan Ica dengan erat.
Ica lalu tersenyum menatapnya, "kepalaku hanya sedikit pusing, jangan terlalu cemas seperti itu. "
Dita tahu sahabatnya itu sedang berbohong, namun sia - sia saja jika ia memaksa Ica untuk jujur karena sejak dulu seperti inilah sahabatnya, tidak pernah ingin menyusahkan siapapun.
Kenapa akhir - akhir ini kepalamu selalu sakit?? sebaiknya kamu ke Dokter, agar tahu kamu sebenarnya sakit apa. Tidak mungkin ini hanya pusing biasa, kalau sakitnya malah kambuh setiap hari.
"Iya bunda, anakmu ini akan periksa ke Dokter nanti, " goda Ica tertawa kecil melihat sahabatnya yang berbicara panjang lebar.
"Apaan sih Cha, aku tuh serius tauk!!" Dita memutar bola mata jengah.
*****
"Tumben masih nunggu, biasanya mas Harun selalu datang bahkan sebelum kelas berakhir." tanya Dita yang baru saja menghampiri Ica, ia begitu heran melihat Ica yang masih menunggu padahal ia sudah keluar kelas sejak setengah jam yang lalu.
"Aku lagi nungguin kamu kok, mas Harun ada meeting penting makanya enggak bisa jemput aku, " bohong Ica
"Kok enggak nyamperin, telepon gitu! kamu kan lagi sakit ngapain malah nunggu panas - panasan begini, " kata Dita khawatir.
"Udah ahh, buruan!!" Ica mendorong tubuh Dita berjalan menuju parkiran.
"Jalan dulu yuk Ta'??" ajak Ica saat Dita sudah melajukan mobilnya, Dita hanya mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Selama perjalanan, Ica hanya menatap hampa ke arah bangunan yang terasa bergerak begitu cepat, ingin sekali rasanya ia menangis namun ia tidak ingin membuat Dita menjadi khawatir.
Sesampainya di mall, Dita mengajak sahabatnya itu untuk ke tempat makan, ia tahu Ica belum makan apapun saat istirahat tadi. "Kamu lagi ada masalah yah?? " tanya Dita sambil menyeruput jus buahnya.
Ica tersenyum dan menggeleng.
"Jangan bohong, aku bisa lihat dengan jelas kamu sedang berbohong. " lanjut Dita.
"Dita kemarin Danu... " belum sempat Ica melanjutkan kalimatnya Dita sudah memotongnya.
"Jangan bahas dia, " kata Dita datar.
Perasaan Ica tiba - tiba menjadi tidak enak mendengar kalimat itu, " jangan - jangan.... " gumam Ica menelan salivanya kasar.
Kamu juga lihat kejadian kemarin??
Dita hanya tersenyum tipis.
"Dita.. kamu percaya sama aku kan?? " tanya Ica dengan putus asa. Namun Dita kembali tersenyum tipis menjawab pertanyaannya.
HumHufffthh, Ica menghela nafas dengan berat, "bahkan kamu enggak percaya Ta', " Ica menatap Dita yang hanya diam tertunduk.
Rasa sesak kembali menusuk hatinya, "kamu yang mengenalku selama bertahun - tahun saja meragukanku, bagaimana mas Harun, " lanjutnya lalu tertawa hampa.
Ica meletakkan sendok dan garpu yang di pegangnya, "makasih yah untuk hari ini, " Ica beranjak dari duduknya, tersenyum hangat pada sahabatnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.
..
..
__ADS_1
..
..