
Di salah satu mall..
"Mau ngapain dulu nih ??" Tanya Dita saat sudah berada di dalam gedung besar itu.
"Mmmm, bagaimana kalau kita nonton ??" Usul Ica
"Boleh !!" Kata Dita lalu menarik Ica ke arah bioskop.
"Ica aku lapar Banget, aku enggak makan siang tadi." Rengek Dita saat baru saja keluar dari bioskop.
"Iya sama, aku juga lapar banget." Mereka berdua memasuki sebuah cafe yang masih berada di dalam mall tersebut, dan segera memesan makanan dan minuman.
"Gila.. baper banget tadi nonton filmnya, haaa kapan yah ada pangeran yang akan seromantis itu padaku." Dita mulai melamun membayangkan adegan film romantis yang ia tonton tadi, dengan kedua tangan yang menyangga wajahnya.
"Woii.." Ica mengusap kasar wajah Dita, membuyarkannya dari lamunan. "Makanya cari pacar." ejek Ica lalu tertawa.
Dita memanyunkan bibirnya menatap kesal pada sahabatnya. "Apaan sih lho, mentang - mentang sudah nikah." Protes Dita.
Ica terkekeh melihat aksi protes sahabatnya itu.
Satu menit,.. dua menit... Lima menit masih hening. Hingga akhirnya Dita membuka suara.
"Cha',.. Danu udah enggak ada kabar lagi." Kata Dita lirih, tatapannya sendu menyiratkan kesedihan.
Maksud kamu ??
Aku terakhir telponan sama dia pas dia ada di lombok, setelah itu dia tidak ada kabar lagi, sekarang Danu juga tidak bisa di hubungi.
Ica tertegun menggigit kecil bibirnya. "Apa dia sudah tahu tentang perasan Dita ?? Astaga apa dia menghilang karena apa yang ku sampaikan ?? kenapa dia sepengecut itu ??" perang batin Ica.
"Dita maafkan aku...." Batin Ica, dia mulai merasa bersalah.
__ADS_1
"Apa kalian bertengkar ?? Kenapa Danu bisa tiba - tiba hilang kontak seperti itu ??" tanya Ica yang masih berusaha mencari kebenaran agar tak menyalahkan diri sendiri.
"Tidak.., aku juga tidak mengerti. " Dita menggeleng. Hahh Menjawab dengan gelengan saja masih terasa berat baginya.
"Dia masih kelihatan bahagia saat vidio call.an. tapi entahlah !!" Lanjut nya mengangkat kedua bahu, merasa tidak paham dengan apa yang terjadi.
"Ehh,, gimana kamu dan mas Harun ??" berusaha mengalihkan.
Mereka berdua mengobrol begitu lama saling melepaskan keluh dan rindu. Dan akhirnya mengabaikan pembicaraan mereka tentang Danu.
------
"Assalamu alaikum..." Ica menghempas tubuhnya di sofa.
"Kok lama banget sayang perginya, kasian tuh suami kamu pasti bosan," tegur Lidya.
"Mas Harun sudah pulang bun ??" Tanya Ica kaget membetulkan posisi duduknya.
Tidak keluar bun?? masalahnya tadi mas Harun pamit ada janji sama temannya.
Mmm, mungkin di batalkan sayang.
Ica mengangguk anggukkan kepala.
Ke kamar gih mandi, sudah hampir masuk maghrib.
"Iya bun." Ica berjalan lunglai menaiki tangga dengan barang belanjaan di kedua tangannya.
Assalamu alaikum mas,
Ica meletakkak belanjannya di atas meja belajar lalu berjalan menghampiri Harun yang sedang duduk bersandar di atas ranjang dengan laptop yang duduk manja di pangkuannya.
__ADS_1
Ica lalu menciumi punggung tangan Harun dan duduk disisinya.
Harun mengulum senyum, "Wa' alaikum salam kok pulangnya cepat sayang ??"
Ica mengangkat alisnya menatap heran pada suaminya.
cepat ?? bunda saja sudah menegurku karena pergi terlalu lama. Ica
"Kamu menyindirku yah karena terlalu lama bersenang - senang," ketus Ica dengan menggembungkan pipinya.
"Hehhh,.. lagi - lagi menyimpulkan sesuatu seenak jidat," ucap Harun malas.
Memang benar kan ??
"Aku serius Ica !!" gemas Harun menggenggam tangan istrinya. "Jika aku yang di posisimu, pasti akan lupa waktu dan pulang larut. Apalagi kamu kan sudah lama tidak bersenang -senang dengan Dita."
*A*hh,..sungguh perhatiannya dirimu. Adek meleleh Bang. Ica
"Kenapa liatin mas kayak gitu ?? terpesona yah ??" ledek Harun dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Ishhh apaan sih." Ica menghempas tangannya dari genggaman Harun, memalingkan wajahnya yang sudah bersemu merah.
..
..
..
..
..
__ADS_1