
Kebiasaan yang begitu di senangi oleh Ica adalah menghabiskan waktu untuk saling bertukar cerita, tentang apa yang ia dan suaminya lakukan hari ini.
Kebiasaan seperti ini selalu di lakukan Harun dan Ica sebelum mereka tidur, mengetahui apa saja yang di lakukan orang yang kita cintai begitu menyenangkan, seolah kita ikut terlibat dalam segala hal yang di lakukannya.
"Mas, kamu tahu enggak hari ini aku bertemu siapa di kampus?? " tanya Ica dengan bodohnya, ia seakan lupa dengan kecemburuan yang pernah di rasakan suaminya pada orang itu.
Harun menggeleng, "siapa?? " tanyanya singkat sambil terus memainkan jari - jari tangan Ica yang ia tautkan di sela jemarinya.
"Danu!! "
Harun begitu terkesiap mendengar nama itu, ia menghentikan aktifitasnya, membalikkan tubuhnya dengan cepat, menatap tajam ke arah istrinya yang lugu itu.
"Uppss!! " Ica menggigit kecil bibirnya, memalingkan mata dari tatapan membunuh suaminya.
"Mau ngapain dia ke kampus kamu, heh?? apa dia masih berfikir untuk mendekatimu di belakangku?? lalu.. ekspresi apa ini...?? " Harun mengangkat wajah Ica agar bisa di tatapnya, "kenapa kamu harus sebahagia ini bisa bertemu dengannya, cih!! " Harun menghempas kasar dagu Ica dari tangannya.
Ica mendongakkan sedikit kepalanya berusaha mengintip raut kekesalan di wajah suaminya, bukannya merasa takut ia justru tertawa kecil melihat kemarahan Harun.
"Kamu tertawa?? Kamu fikir ini lelucon, hah?? " Harun semakin kesal dengan kelakuan istrinya.
Ica semakin menikmati kemarahan Harun, tatapan penuh cinta jelas terlihat di matanya yang indah, senyumnya masih mengambang menatap wajah tampan suaminya yang sedang terbakar api cemburu.
"Kenapa menatapku seperti itu??" Harun mendengus kesal, "dasar anak kecil, memangnya kamu tidak lihat apa, kekesalanku sudah sampai di ubun - ubun, malah tertawa seperti itu, " gumam - gumam kecil yang justru membuat Ica menggeleng dengan cepat
__ADS_1
"Maaf !! tapi sayangnya aku tidak bisa menemukan kekesalan di sini," Ica membelai lembut wajah suaminya, "aku hanya melihat ada banyak cinta. Di sini!! " lalu mengusap lembut mata Harun dengan jemarinya.
Sekatika Harun di buat luluh olehnya, di tariknya tangan itu melingkar di tubuhnya, mendekapnya dengan erat sambil menciuminya berulang kali. "Kamu sangat curang, dasar tengngil!! bagaimana aku bisa marah jika istriku ini begitu manis," masih terus menciumi wajah Ica.
Malam yang panjang akhirnya menjadi tempat kedua insan itu meluapkan rasa cinta mereka yang teramat dalam.
****
Di kampus..
Sosok Danu yang kerap kali hadir di sekitar Dita beberapa hari ini, menyisakan tanya yang begitu besar di benak gadis nan cantik itu. Hingga saat ini Dita masih merasa aneh dengan sikap Danu terhadapnya.
"Heii... melamun aja," Ica tiba - tiba datang dan melingkarkan tangannya di lengan Dita.
"Kamu kenapa sih Ta', jalan tuh jangan bengong kayak gini, entar kamu malah kesandung terus jatuh terkapar di bawah tanah, bagaimana coba?? " krikk krikk, candaan garing yang membuat sudut bibir Dita sedikit terangkat.
"Apaan sih loh Cha', kamu nyumpahin aku jatuh?? " Dita tersenyum garing.
Haha, yah enggak lah, mana tega aku.
"Cha... " Dita terdiam sesaat, berfikir dengan keras lalu membuang nafas dengan kasar. "Danu kenapa yah Cha ', apa coba, maksud dari perhatiannya akhir - akhir ini?? dia tuh..... hehh??" Dita kembali menghela nafas.
Dia kenapa??
__ADS_1
"Aku takut Cha, saat ini aku tidak ingin lagi menumbuhkan harapan di hatiku, tapi sikap dia justru bikin hati aku bimbang, aku takut salah paham dengan perhatiannya Cha', " suara Dita mulai bergetar, kepalanya tertunduk menahan cairan bening yang mulai menetes berjejak di wajahnya.
Kedua tangan Ica menggenggam erat bangku taman yang di dudukinya, pandangannya lurus ke depan menatap dedaunan yang bergerak tertiup angin, "Danu.. aku harap kali ini kamu tidak akan melukai hati Dita lagi, " gumam Ica, ada rasa bersalah di hatinya, entah kejujurannya pada Danu tentang perasaan Dita adalah keputusan yang benar atau salah.
"Bukannya ini yang kamu harapkan, bukannya selama ini kamu memang sangat merindukannya?? jangan membuatnya jadi sulit Ta', biarkan semuanya mengalir seperti air, jalani saja jika ini memang membuat hati kamu bahagia."
"Yahh, aku memang sangat merindukannya, tapi aku hanya berharap dia kembali dan menjadi teman untukku seperti dulu, bukan seperti ini. "
"Aku takut terluka, jika terlalu terbuai dengan perhatian yang di berikan olehnya Icha, " air mata itu tak lagi mampu di bendungnya, Dita terisak meluapkan isi hatinya pada Ica.
"Setidaknya luka itu telah memberimu kenangan yang indah dengan orang yang kamu cintai, ini akan menjadi cerita yang berharga untukmu, setidaknya cinta ini.... " Ica menunjuk dada Dita, " tidak lagi merasa terabaikan oleh cinta sepihaknya. "
Dita terdiam, bahunya bergetar, ia masih sesegukan dengan kepala yang tertunduk.
Ica memeluk sahabatnya itu dengan erat, berharap pelukan itu akan menguatkan hati dan mengurangi kesedihan yang dirasakan oleh Dita.
"Maaf Dita, aku sungguh tidak bisa membantumu jika hal itu berkaitan dengan Danu, mas Harun bisa murka jika mengetahui aku berbicara dengannya, walau itu tentangmu " batin Ica mengusap lembut punggung sahabatnya.
..
..
..
__ADS_1