
Harun mengernyitkan keningnya heran, "kamu yakin keluargaku menunggu di sini." tanya Harun pada manager hotel tersebut.
"Iya pak, memang di sini tempatnya. Silahkan !!" sang manager mengulurkan tangan ke depan.
“Dasar yah tuh cowok, mau ngajak istri gua romantis - romantisan apa, sampai tempatnya di bikin redup seperti ini." gumam Harun melirik kesal kepada Ica.
Harun melangkah memasuki ballroom hotel tersebut, langkah itu terhenti saat lampu tiba - tiba saja menyala dan riuh sorakan terdengar menyambutnya. "Happy birthday Harun." ucap semua yang serentak.
Harun melongo tak percaya, di liriknya Ica dengan tatapan haru, Ica membalas dengan senyum penuh keberhasilan.
"Makasih sayang !!" Harun merangkul tubuh istrinya dan menciumnya berkali - kali, seolah tengah melupakan rasa bahagianya pada sang istri.
"Papa, mama, pasti kalian yah yang berkomplot dengan Ica merencanakan ini, dasar! " kata Harun dengan tertawa ringan, "terimakasih..." lanjutnya dengan mata yang mulai berkaca - kaca, Harun lalu memeluk orang tuanya bergantian.
"Selamat ulang tahun sayang, semoga kamu dan Ica selalu bahagia." lirih Sinta dalam dekapan putranya.
"Ayah, bunda ... Terimakasih." kini Harun bergantian memeluk mertuanya.
*Flashback*
Di ruangan Harun ..
"Kamu ikut papa pulang yah sayang, mama pasti senang kalau kalian makan malam di rumah."
"Boleh pah, aku juga lagi kangen banget sama mama."
Setelah perbincangan yang cukup lama, Wirawan pamit meninggalkan menantunya itu.
Ica kembali melanjutkan membaca untuk mengusir kebosanannya, sambil menunggu Harun menyelesaikan pekerjaannya.
Sesuai permintaan Wirawan, Harun membawa Ica pulang ke rumah orang tuanya.
Setelah makan malam, Harun berbincang di ruang keluarga bersama papanya sedangkan Ica menghabiskan waktunya mengobrol dengan mama Sinta di meja makan.
"Mahh, mau bentuin Ica enggak ??"
"Bantu apa sayang ??" jawab mama Sinta yang terus mengusap lembut punggung tangan Ica.
__ADS_1
"Bikin kejutan buat mas Harun."
Sinta mengernyitkan keningnya menatap Ica, seolah berusaha mencerna kalimat yang di ucapkan menantunya barusan.
"Minggu depan kan ulang tahunnya mas Harun mah." lanjut Ica menjawab kebingungan mama mertuanya.
"Ohh iyahh, mama lupa sayang, boleh boleh mama mau kok bantuin, kamu mau ngasih kejutan apa ??" jawab mama Sinta antusias.
"Mmm, gimana kalau mama ngundang teman - teman dekatnya mas Harun. Kita bikin perayaan ulang tahun mas Harun di sini. dia pasti senang deh kalau liat orang - orang yang dia sayang pada ngumpul gitu. "
"Mmm, bagaimana kalau perayaanya di hotel tempat kalian dulu menikah." usul mama Sinta.
Ica terlihat berfikir,
Biar mama sama bunda Lidya yang mengurus semuanya, nanti kamu tinggal cari alasan saja buat ngajak Harun ke tempat itu."
"Boleh tuh mam, aku setuju, ehh tapi mama saja yah yang mengabari bunda. Kalau aku yang sampaikan pada bunda takutnya nanti malah ketahuan sama mas Harun."
"Ok sayang, nanti mama yang sampaikan."
Setelah agak larut, Harun dan Ica pamit untuk pulang pada orang tuanya.
---
Kembali ke hotel...
Setelah acara pemotongan kue, Harun mulai berbaur dengan para temannya, ia sungguh tidak menyangka kalau teman - temannya juga akan hadir dalam perayaannya ini. Ini sungguh reuni yang menyenangkan untuk Harun.
Puk puk puk, Harun merasakan tepukan kecil di bahunya, ia lalu menoleh ke belakang.
"Gladys...." tunjuk Harun tak percaya, pada wanita yang berada di hadapannya saat ini. Sang wanita hanya membalasnya dengan tersenyum manis, mereka lalu saling berpelukan melepaskan rindu.
"Astaga... Kamu kok bisa ada di sini juga ??"
"Kenapa ?? Enggak suka ??“ jawab Gladys dengan nada manjanya.
"Yahh bukan seperti itu, aku hanya heran setehuku kamu kan menetap di luar negeri. "
__ADS_1
"Aku sudah lama kok balik ke Indonesia. Kamu tuh yang nikah, enggak ngundang - ngundang." kata Gladys memanyunkan bibirnya.
Tanpa mereka sadari, mata Ica menatap jengah dari kejauhan.
"Kenapa ?? kamu cemburu dek ??" Tama menyenggol lengan Ica menggodanya.
"Apaan sih kak, siapa juga yang cemburu." bohong Ica.
"Enggak cemburu, tapi wajahnya ketekuk. Jujur aja kali dek, memangnya sejak kapan kamu bisa bohong sama kakak."
"Kakak... emang salah yah seorang istri cemburu melihat suaminya sedekat itu dengan cewek lain... mana ceweknya cantik lagi, cih!" rengek Ica pada kakaknya.
Tama refleks merangkul Ica, ia merasa gemas melihat adiknya itu sedang terbakar cemburu.
"Shitt, sialan tuh cowok, malah meluk istri gua di depan umum, dia enggak lihat apa di sini ada suaminya." umpat Harun kesal, melihat kemesraan Ica dan Tama.
Sepanjang acara mereka berdua saling diam, keduanya sama - sama kesal dengan kejadian yang mereka anggap menyakiti hati mereka masing - masing.
****
Di kamar...
Setelah membersihkan tubuhnya, Ica memilih untuk langsung tidur, ia membalut seluruh tubuhnya dengan selimut, ia masih merasa kesal pada suaminya.
Begitu pula sebaliknya.
Kekesalan Harun semakin menjadi, baru saja dia keluar dari kamar mandi, ia sudah mendapati istrinya bersembunyi di balik selimut.
"Emang dasar yah anak kecil, enggak tahu minta maaf kali yah !! Enggak ngerti banget kalau di sini tuh ada suaminya yang sedang menunggu penjelasan. Malah langsung tidur kayak gitu." Harun terus saja menggerutu, dengan perasaan dongkol ia naik ke atas tempat tidur, merebahkan tubuhnya dengan posisi memunggungi istrinya yang menyebalkan itu.
..
..
..
..
__ADS_1
..
..