Harun Untuk Khaliesah

Harun Untuk Khaliesah
kekecewaan khaliesah


__ADS_3

Assalamu alaikum...


Maaf jika diriku terlalu lama hidup dalam dunia nyata, dan melupakan dunia khayalan ini.


Diriku berharap... Masih akan ada yang berminat dengan cerita yang retceh ini.


Selamat membaca.😊😊


***


Perlahan mata gadis yang tengah terlelap di atas pembaringan itu mengerjap, sayup menatap sekelilingnya.


"Bunda... Ica ada dimana?" tanyanya bingung, ketika maniknya menangkap sosok bunda Lidya yang kini duduk di sampingnya.


Senyum Lidya seketika mengambang mendengar suara itu, ia lalu bangkit dari duduknya agar bisa menatap putrinya dengan lebih dekat, "kamu sudah bangun sayang," mengusap wajah putrinya dengan mata yang berkaca - kaca.


Ica menatap sendu manik mata itu, "apa yang terjadi bunda, Ica ada dimana?" lirihnya kembali bertanya.


"Kamu di rumah sakit sayang."


"Rumah sakit?" tanya Ica tak percaya, bayangan kejadian yang menimpanya kembali melintas di pikirannya. Seketika membuat raut wajahnya bersedih.


Lidya menyadari akan perubahan air muka putrinya itu, "ada apa sayang?"


Ica menggeleng dan mencoba memaksakan agar bibirnya dapat mengukir senyum.


"Bunda tahu, ada sesuatu yang sedang membebani dirimu. Ada apa? Lalu kenapa kamu seceroboh ini, untung saja Tama tidak sampai menabrakmu."


"Kak Tama?"


"Iya, kata Tama tadi kamu berjalan terburu - buru dan tidak melihat mobilnya yang sedang melintas. Tama hampir saja menabrakmu."


"Kak Tama udah balik bun?" bertanya meyakinkan, Ica bahkan mengabaikan pertanyaan yang di lontarkan bundanya.


"Iya sayang." Obrolan itu seketika terhenti, ketika pelan pintu itu terbuka. Lidya dan Ica menoleh ke arah pintu itu bersamaan, terlihat Harun berdiri disana. Lelaki itu lalu berjalan dengan cepat ketika melihat istrinya yang sudah sadar.


"Sayang... Kamu enggak apa - apakan, enggak ada yang sakit kan?" tanyanya panik membelai lembut wajah istrinya.

__ADS_1


Ica menatapnya nanar, tergambar kekecewaan dan kesedihan dalam raut itu. Bayangan Harun dan Gladys yang kembali terlihat duduk bersama di Restoran itu kembali melintas di pikiran gadis yang nampak pucat itu.


Lidya memutuskan keluar dari ruangan itu tanpa berpamitan, dirinya bisa merasakan kekhawatiran menantunya. Jadi ia meninggalkan sepasang suami istri itu agar lebih leluasa untuk bercerita.


Tak ada respon, Ica memalingkan wajahnya. Air mata menetes dari sudut matanya.


"Sayang..." Harun terus memberinya usapan lembut, tapi tetap saja tak meluluhkan hati istrinya, bahkan untuk sekedar menatap matanya.


...Jika manusia memiliki batas kesabarannya,


Maka inilah batas kesabaranku.


Mungkin aku yang salah,


Mungkin aku yang bodoh.


Seluruh hidup dan cintaku telah ku curahkan sepenuhnya,


Namun tak sekalipun kepercayaan diberinya.


Berulang kali dia menganggapku berdusta,


Namun selalu ku maafkan.


Tapi pernahkah dia menjaga cinta itu?


Mungkin tidak.


Karena yang ku tahu,


Dirinyalah sang pendusta itu...


***


Malam semakin larut, kedua orang tua Ica dan yang lainnya sudah berpamitan pulang sejak tadi.


Hanya ada Harun dan Ica dalam ruangan serba putih itu.

__ADS_1


Sudah beberapa jam Harun duduk di kursi samping tempat pembaringan istrinya. Tak ada percakapan apapun, keheningan benar - benar menyelimuti ruangan itu.


Harun hanya menatap sendu pada punggung istrinya yang kini sedang tidur membelakanginya. Sedari tadi ia kembali memikirkan kesalahan apa yang telah di perbuatnya.


Sungguh tak nyaman untuknya, jika Icanya terus saja mendiaminya seperti ini. Seingat Harun, pagi tadi Khaliesahnya itu masih bersikap baik padanya, lalu kenapa saat ini ia terlihat begitu marah. Kesalahan apa yang sudah dilakukannya?


Ica menggigit kecil bibir bawahnya, tangannya terlihat memegang perutnya.


Sedari tadi dirinya memang tidak tidur karena merasa lapar, namun ia begitu enggan untuk mengatakan itu pada suaminya yang sangat menyebalkan itu.


"Tuhan... Ica laper..." adunya dalam hati. "kenapa harus dia sih yang menjagaku disini, kenapa bukan bunda saja tadi yang tinggal untuk menjagaku." mendesah kesal, saat merasakan suaminya masih setia duduk di kursi pembesuk dibelakangnya.


Melihat istrinya yang terus saja menggeliat, membuat Harun berdiri dan mendekat. "Kamu kenapa sayang, ada yang sakit?" tanyanya lembut mengusap lengan istrinya.


Ica tetap tidak ingin merespon, membuat Harun terpaksa berjalan memutar agar bisa menatap langsung wajahnya istrinya.


"Hei, kamu marah sama mas Harun?" mengusap lembut wajah pucat dihadapannya.


Ica meliriknya sesaat lalu kembali membuang pandangannya, rasanya ia terus saja membayangkan wajah wanita itu saat ia melihat suaminya.


Harun menangkap keanehan itu, karena tak biasanya istri polosnya itu bersikap seperti saat ini. "Apa yang membuatnya begitu kesal?" pikir Harun dalam hati. Manik Harun kembali menangkap pergerakan tangan Ica yang sedang memegang perutnya, ia lalu beralih melihat jam di tangannya. "****... Kenapa gua lupa, kalau istri gua belum makan dari tadi." Umpatnya mengutuk diri sendiri.


"Sayang, mas Harun pamit sebentar yah. Kamu enggak apa - apa kan mas tinggal sendiri?" Rasanya sia - sia saja Harun mengoceh, karena saat ini istrinya benar - benar tidak ingin meresponnya.


Harun lalu memutuskan untuk keluar mencari makan, ia berjalan dengan terburu - buru karena tidak ingin meninggalkan istrinya terlalu lama .


Mendengar suara pintu yang mulai tertutup, Ica membalikkan tubuhnya seketika ia menghela nafas dengan lega. Akhirnya ia bisa segera keluar untuk mencari makanan.


Ica lalu mendudukkan tubuhnya, ia terdiam sejenak. Menatap infus yang menggantung di hadapannya dan dengan terpaksa ia harus berjalan keluar sambil mendorong tiang infusnya.


Belum jauh dirinya berjalan meninggalkan ruangan itu, Ica sudah mendengar dentuman suara sepatu yang berbenturan dengan lantai rumah sakit yang seolah berlari mendekatinya.


"Kamu mau kemana sayang, tubuhmu masih lemah, kenapa kamu turun dari tempat tidur dan berjalan - jalan seperti ini." Benar saja langkah itu terhenti tepat di sampingnya, terdengar kekhawatiran dari suara Harun yang kini menggenggam tangannya.


"A-aku ha-hanya ingin keluar untuk mencari udara segar." Bohong Ica.


"Ini sudah larut malam, sebaiknya kita kembali kedalam." menuntun istrinya perlahan, dan satu tangannya mengambil alih tiang infus.

__ADS_1


Hati Ica begitu bahagia bisa merasakan kehangatan dan perhatian suaminya, tapi perasaan itu sungguh terselimuti dengan kekecewaan yang di rasakannya.


__ADS_2