Harun Untuk Khaliesah

Harun Untuk Khaliesah
wasiaat terkhir opa


__ADS_3

Deg,, Ica begitu terkesiap mendengar perkataan Herman. Seketika tubuhnya melemas.


"Tuhan.. hidupku, impianku, akan kah semuanya berakhir seperti ini. Pernikahan ?? aku bahkan tak pernah memikirkannya". Batin Ica.


"Dan di saat-saat terakhir opa...." Lanjut Herman namun seketika ia tertunduk ada perasaan sedih yang menghampirinya ketika mengenang almarhum sang ayah.


Ica mengusap lembut punggung tangan sang ayah mencoba menguatkannya.


Namun hati Ica sudah merasa sesak, Ia paham ke mana arah pembicaraan ini, namun ia tak sanggup jika harus menambah kepedihan Herman dengan mengakhiri pembicaraan yang bahkan belum di selesaikan ayahnya.


Lidya pun mencoba menguatkan suaminya, dengan mengusap ngusap bahu sang suami.


"Nak, opa sangat ingin jika kamu dan putra om Wirawan menjalani hubungan yang sakral, pernikahan." ucap ayah Herman lirih, sejujurnya di lubuk hatinya dia tak ingin melukai perasaan putrinya dengan perjodohan ini, namun Herman pun sangat ingin menjalankan wasiat terakhir dari orang tuanya tersebut.


Ica lemas seketika bibirnya bergetar, seakan ada ribuan panah yang kini menghujam jantungnya.


Melihat putrinya yang begitu syok, Herman pun menggenggam kuat tangan mungil anaknya itu.


Ayah tidak akan memaksamu nak, ayah tahu ini akan menyakiti hatimu, sesungguhnya ayah sangat ingin melihatmu bersanding dengan seseorang yang kamu cintai, ayah tak pernah ingin merenggut kebahagiaan itu darimu.


Ayah hanya menyampaikan ini karena wasiat opa begitu membuat hati ayah cemas, namun jika kamu menolak, ayah akan tetap menghargai keputusanmu.


"Ica ke kamar dulu yah ayah, bunda." Ucap Ica dengan tersenyum tipis sambil berlalu meninggalkan orang tuanya. Ia sungguh tak bisa mengekspresikan perasaannya saat ini.

__ADS_1


"Bun, ayah sungguh tidak tega, kamu lihatkan ada kesedihan di matanya, aku tak pernah ingin membahas ini bun, namun bang Wirawan juga menunggu kepastian kita." Herman menyandarkan kepalanya di sofa dan memejamkan mata dengan tangan yang mengepal yang ia hentakkan dengan pelan di keningnya.


"Iya sayang, aku ngerti bagaimana perasaan kamu, sekarang kita hanya bisa sabar menunggu keputusan Ica, berikan dia waktu untuk memikirkan semua ini". Lidya mencoba menenangkan sang suami.


Aku takut Ica akan membenci ku dengan perjodohan ini. Aku sangat takut jika akhirnya ia akan membuat jarak di antara kita. sayang aku sungguh tidak sanggup jauh dari putri kecilku itu.


Lidya tersenyum. " Ica tidak sejahat itu yah, ayah kan tau Ica begitu mencintaimu, dia anak yang baik dan bijak dia pasti mengerti kamu hanya ingin menyampaikan wasiat terakhir papa".


Herman hanya menghela napas panjang.


-----------


Di kamar Ica..


Ica merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menatap nanar langit-langit kamarnya. Dadanya begitu sesak dan sudah nampak bulir air di pelupuk matanya. seketika Ica pun terisak.


Seharian Ica hanya mengurung diri di kamarnya, bunda sudah berkali-kali mengetuk pintu namun Ica sama sekali tidak ingin di ganggu.


Herman dan Lidya begitu sedih, Herman tahu dia pasti sudah melukai perasaan putrinya.


Ica pun tertidur dalam kelelahan nya menangis berjam-jam. Ica bahkan berkali-kali menumpahkan air matanya di atas sejadahnya berharap Allah kan memberikan jawaban dari kegundahannya.


----------------

__ADS_1


"Sayang kita jalan yuk." Ajak Lidya yang melihat mata putrinya begitu sembab.


Herman dan Lidya begitu sedih melihat Ica yang sudah seminggu ini nampak murung.


Ica hanya diam. Entah apa yang ada dalam hati dan fikirannya saat ini. Ia bahkan tak mendengar ajakan bundanya.


Lidya memeluk Ica mencoba membujuknya agar dia ingin keluar, setidaknya saat pergi jalan mungkin Ica bisa melupakan sedikit kesedihannya. Begitu fikirnya.


"Bukannya kamu sangat ingin kita liburan nak ? Kamu mau kan ikut ayah dan bunda". Tanya Lidya kembali.


Ica menggeleng dan tersenyum, menolak halus ajakan sang bunda.


"Nak, sudah lupakan perkataan ayah, ayah tidak memaksamu, ayah tidak ingin melihat putri kesayangan ayah jadi murung seperti ini", ucap Herman sungguh-sungguh memegang dagu Ica dan mengarahkan ke wajahnya.


Herman begitu terpukul melihat wajah polos itu, wajah yang dulunya begitu ceria, nampak pucat dan murung.


Ica hanya tersenyum, dan pamit untuk masuk ke kamar.


..


..


..

__ADS_1


..


..


__ADS_2