
Sejak pagi, tak hentinya Ica mondar - mandir masuk kamar mandi. Perutnya benar - benar terasa seperti di aduk, ia lemas terduduk di depan closet.
Harun begitu khawatir melihat keadaan istrinya. Berulang kali ia mengekori wanitanya itu ke toilet, memijat pelan tengkuk istrinya saat sedang berperang dengan rasa mualnya.
" Kita ke Rumah sakit yah sayang, " lirih Harun sambil memijat istrinya.
" Tidak usah mas, aku hanya masuk angin. Tiduran sebentar pasti akan membuatku lebih baik. " bohong Ica. " kenapa begitu sulit tuk ku ungkapakan, maaf mas... kebohongan ini pasti sangat melukaimu kelak. "
Harun tidak lagi memaksa. Jika dulu iya pasti akan menatap dengan tajam jika istrinya membantah. Tapi seminggu ini, ia sungguh melihat Khaliesah yang berbeda. Khaliesah yang tidak lagi sehangat dulu, Harun tidak ingin menambah kepiluan di tatapan itu dengan memaksakan Ica-nya untuk ke pergi ke Dokter.
Setelah ia membantu istrinya tidur di atas kasur, Harun berlari ke dapur membuat secangkir jahe hangat. " minumlah!! " perlahan Harun membangunkan tubuh istrinya lalu membantunya untuk minum.
" Terimakasih mas! " ucapnya Lirih dengan sedikit tersenyum.
Harun membalas dengan anggukan, tangannya lembut mengusap kepala Ica. " Tidurlah!! "
Ica menggeleng, menarik satu tangan Harun melingkar ke tubuhnya. Harun tersenyum bahagia, sejak pertengkaran itu, baru kali ini Ica ingin di peluk seperti ini lagi.
Harun lalu ikut membaringkan tubuhnya, memeluk erat tubuh istrinya sambil tetap mengusap lembut kepalanya.
" Nyaman ! " tersenyum kecil. "kamu sedih yah nak, melihat mama dan papa yang selalu bertengkar? kamu suka di peluk seperti ini yah nak sama papa ?" batin Ica. Iya juga heran dengan sikapnya yang tiba - tiba ingin bermanja di dada bidang suaminya.
"Ku harap tidak akan ada lagi drama, jadi aku bisa selalu memelukmu seperti ini. " gumam Harun.
Seharian ini Ica benar - benar bersikap sangat manja pada suaminya, masalah kemarin seolah tak pernah terjadi di antara mereka. Sekarang yang nampak hanya kehangatan sepasang suami istri.
***
Keesokan harinya...
__ADS_1
" Maaf... apa hari ini aku boleh ke kampus??" tanya Ica dengan sungkan.
Harun menatap tak percaya, fikiran - fikiran aneh tiba - tiba muncul menari di kepalanya.
" Ada apa dengan perubahan sikap ini? kenapa dia kembali dingin? " batin Harun tak mengerti.
" Kenapa kamu seolah mencipta jarak di antara kita ? kamu belum memaafkanku? apa sebesar itu kesalahan yang ku lakukan? " terdengar kegetiran dalam suara itu. Harun terus menatap lekat wajah istrinya yang tertunduk pilu.
" Ini kesempatan terakhirku bisa bertemu Dosen itu," lanjutnya mengabaikan pertanyaan Harun.
Harun sungguh tidak ingin memperkeruh suasana lagi, ia menggenggam tangan yang terus saling meremas itu, " Iya, pergilah! " katanya lembut dengan tersenyum hangat.
Setelah sarapan Harun mengantarkan Ica ke kampus. Adegan yang sama masih terjadi, Ica mencium punggung tangannya, lalu ia mengecup kening Ica dan mengucup singkat bibir tipis itu. " Hati - hati di jalan mas, " pesan Ica sebelum menutup pintu mobil. Harun begitu bahagia dengan semua ritual ini. ia merasa Ica nya telah kembali seperti dulu.
Baru saja Harun memarkirkan mobilnya, ia kembali memutar kemudi. Kembali melajukan mobil ke arah kampus istrinya. " Dasar ceroboh! selalu saja dia meninggalkan ponsel seperti ini. " gumam Harun tersenyum kecil.
***
" Ica maafin aku!! " Danu tiba - tiba muncul di hadapan Ica dengan wajah penuh penyesalan.
Ica menautkan alisnya, menatap Danu dengan penuh tanya. " maaf...?? kamu punya salah sama aku. " Ica menunjuk dirinya tak percaya.
" Waktu itu... karena sikapku, Dita jadi salah paham padamu. " lirih Danu tak enak hati.
Ica tersenyum hangat, "itu bukan kesalahan kamu kok. " katanya lembut.
" Tapi.... " Ucap Danu menggantung, belum sempat ia melanjutkan, Ica sudah mendahuluinya.
Sudahlah Nu' bagiku kesalah pahaman ini terjadi bukan karenamu. Bukankah sebuah hubungan harusnya dilandasi dengan kepercayaan?
__ADS_1
Jadi jika Dita meragukanku, apa itu salah kamu?
Tidakkan ?? itu bukan karena kamu Nu', tapi karena Dita lebih memilih mempercayai apa yang di lihatnya. Dari pada mempercayai hubungan yang telah di bangunnya selama bertahun - tahun.
Danu mematung, ia begitu terkesima dengan apa yang di ucapkan wanita di hadapannya. " Betapa beruntungnya suamimu itu, karena ia mampu mendapatkan cinta dari wanita yang luar biasa sepertimu. " gumam Danu. Ada rasa sesal di hatinya karena tak bisa memenangkan hati seorang khaliesah.
Danu dan Ica berbincang cukup lama, hingga seseorang datang dan mengakhiri percakapan itu.
Bugghh.. satu pukulan yang langsung membuat Danu jatuh tersungkur di tanah.
**
Harun POV
Dengan perasaan bahagia karena akan melihat wajah istrinya lagi, Harun berjalan memasuki pelataran kampus, sesekali senyumnya mengembang saat krmbali melihat ponsel di tangannya. Namun belum setengah perjalanan Harun sudah menghentikan langkahnya. Menatap samar di antara pepohonan.
Tiba - tiba tangannya terkepal dengan kuat menggantung di udara, rahangnya mengeras menampakkan tonjolan - tonjolan urat di sekitar lehernya. Kakinya melangkah cepat menghampiri sosok yang di lihatnya, dan dengan cepat tinju itu melayang di wajah Danu.
" Astagfirullah mas, " Ica tersentak, ia langsung beranjak dari duduknya, menahan lengan Harun. "Kamu enggak apa - apa kan Nu'??" tanyanya khawatir melihat Danu yang tersungkur di tanah. Perasaan bersalah menyeruak di hatinya, ingin rasanya ia menolong pemuda itu. Namun kemurkaan Harun pasti akan semakin tersulut.
Harun memicingkan mata, menatap istrinya dengan dingin. "bisa -bisanya dia masih mengkhawatirkan bocah itu. " gumamnya kesal
Danu mencoba bangkit, tangannya masih menyentuh pelipisnya yang memerah. Terlihat darah membekas di sudut bibirnya. " Maaf... anda salah paham. Saya dan Ica... " masih mencoba menyelamatkan wanita di hadapannya. namun dengan cepat Harun memotong perkataannya.
" Tutup mulut loe, gua enggak butuh penjelasan dari laki - laki perusak rumah tangga seperti loe. " menunjuk wajah Danu dengan tegas.
..
...
__ADS_1
...
..