Harun Untuk Khaliesah

Harun Untuk Khaliesah
Kekecewaan Danu


__ADS_3

Ica kembali masuk ke kamar dengan wajah tertekuk, ia lalu mengambil baju santai di lemari kemudian mengganti pakaiannya. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut gadis berlesung pipit itu, ia berjalan menuju rak lalu mengambil sebuah buku dan berjalan ke arah tempat tidur.


Harun berdiri mematung, menyandarkan tubuhnya di tembok samping meja kerjanya sambil melipat kedua tangannya di atas perut. Matanya sibuk memperhatikan setiap gerak - gerik istrinya, "siapa yang kamu telepon tadi? " tanyanya menyelidik.


Ica tidak merespon, ia hanya sibuk membaca buku yang di pegangnya.


Harun lalu berjalan mendekat, ia mencengkram lengan Ica dengan kuat, " ada apa dengan sikap mu ini? " tanyanya kesal.


Ica meringis menggigit kecil bibir bawahnya, menahan rasa sakit atas perlakuan suaminya, " ada apa lagi mas... aku sudah menuruti keinginanmu untuk tidak ke kampus, sekarang apa lagi? " suara Ica mulai bergetar.


" Tuhan... apa pantas ku dapatkan semua ini?? hatiku bahkan sudah sangat hancur lalu kenapa dia harus kembali mencabik - cabiknya. Tuhan... ku mohon jangan goyahkan rasaku, aku bahkan takkan sanggup membayangkan kesedihan ayah dan bunda jika hubungan ini berakhir dengan buruk, " batin Ica, kini matanya terpejam, mencoba menahan sakit akibat cengkraman lelaki yang di cintainya.


Harun menghempas tangan Ica dengan kasar, lagi - lagi ia melupakan penyesalan yang telah ia ucapkan pada istrinya kemarin. Amarah dan kecemburuan benar - benar telah menutup hatinya, dan dengan kasar ia mengambil ponsel yang berada di samping Ica, mengecek panggilan terakhir yang di lakukan oleh istrinya tadi.


" Dosen?? " gumamnya, lalu kembali menatap wajah istrinya yang sudah terlihat mendung.


" Bagaimana kita bisa menjalani sebuah hubungan tanpa adanya sebuah kepercayaan. " Lirih Ica lalu kembali memejamkan matanya. Bahkan air mata takkan bisa mewakili kekecewaannya terhadap Harun, " Bunda... pada siapa harus ku gantungkan kepercayaanku, jika orang - orang yang kusayangi justru meragukanku. " batin Ica.


Tubuh Harun seperti tak bertulang, ia seakan ditampar dengan kalimat yang di lontarkan istrinya, "Maaf!! " lirihnya, tak ada lagi kata yang mampu menggambarkan kebodohannya. "Harunn... hanya karena Danu, loe patahin hati istri loe berkali - kali. Bodohh.. bodohh..." gumamnya mengutuk diri sendiri.


" Aku memaafkanmu mas, aku akan selalu memaafkan semua kesalahanmu, tapi maafkan aku jika kepercayaanku padamu harus memudar. "


Mendengar kalimat itu, Harun langsung mendekap tubuh istrinya, ia seakan takut menggambarkan arti dari perkataan itu. Harun semakin mengeratkan pelukannya, ia sungguh tidak ingin jika Khaliesahnya pergi meninggalkan dirinya, hanya karena kebodohan yang terus saja di ulanginya.

__ADS_1


***


Sudah seminggu Ica tidak pernah pergi ke kampus, dan hal itu membuat rasa bersalah Dita kian bertambah. Karena sejak kejadian di Mall waktu itu, sahabnya tidak pernah lagi mengangkat teleponnya, bahkan tak satu pun pesannya yang di balas. Ingin rasanya Dita mendatangi rumah Ica, namun ia begitu sungkan dengan Harun.


"Kamu kenapa?? " tanya Danu yang tiba - tiba saja muncul.


Dita tidak merespon, tatapannya masih kosong menatap ke depan. kepalanya yang ia senderkan di lengan yang yang menempel di bangku taman, sama sekali tak bergerak menatap Danu.


"Kamu marah?? kenapa akhir - akhir ini kamu selalu menghindariku? " tanya Danu kembali.


" Nu' please... aku pengen sendiri! " ucap Dita tanpa mengubah posisinya.


Danu lalu duduk berjongkok di hadapan Dita, menggenggam lembut tangan wanita cantik itu, " kamu kenapa, hem? mentang - mentang aku lama ngilang. Kamu udah enggak mau anggap aku lagi ?


Danu mengernyitkan keningnya, merasa bingung dengan apa yang di ucapkan oleh Dita, " maksud kamu?? "


Dita menegakkan kepalanya, menyempurnakan posisi duduknya. " gara - gara sikap kamu yang labil, hubunganku dengan Ica sekarang jadi renggang," Dita berkata dengan lantang, ia benar - benar meluapkan kekesalannya pada lelaki di hadapannya.


" Kamu dan Ica... maksud kamu apa, aku enggak ngerti Ta'? " Danu masih mencoba menelaah apa yang di ucapkan Dita padanya.


" Sudahlah... aku benar - benar sedang tidak ingin berbicara padamu, " Dita beranjak dari duduknya, namun Danu menggenggam tangannya sebelum ia melangkah pergi.


" Ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi saat ini, " tutur Danu.

__ADS_1


" Aku enggak punya kewajiban untuk menjelaskan masalahku dan sahabatku padamu. Namun satu hal yang harus kamu tahu, sebaiknya kamu buang jauh - jauh perasaan kamu padanya, ingat Nu' dia itu sudah berkeluarga. Jangan jadi orang ketiga yang menghancurkan kehidupan orang lain. " ucapnya dengan tegas.


Danu semakin di buat bingung atas tuduhan yang secara terang - terangan di tujukan padanya. Dan kata - kata Ica tempo hari tiba - tiba muncul dalam ingatannya. "Jadi ini maksud kamu cha? apa tindakan bodohku di halaman kampus kemarin benar - benar membuat orang lain salah paham?? Ica maafkan aku. " batin Danu.


"Aku pikir hanya kamu satu - satunya orang yang bisa mengerti diriku, ternyata tidak. " ucap Danu lalu tertawa remeh.


Seketika wajah Dita menjadi pucat mendengar kalimat itu, perasaan bersalahnya pada Ica semakin menciutkan dirinya.


" Tidak usah padaku Ta', tapi setidaknya kamu bisa percaya pada sahabatmu sendiri. Wanita sepolos Ica tidak mungkin melukai siapapun, dan kamu sangat tahu itu. " lanjut Danu.


" Nu'... aku... " ucapan Dita menggantung saat Danu kembali berbicara.


" Aku sangat kecewa dengan sikap kamu yang seperti ini, asal kamu tahu Ta' sahabat kamu itu selama ini bersikap dingin padaku untuk menjaga perasaanmu. Mungkin dia tidak pernah mengatakan apapun, tapi aku bisa lihat itu dari matanya. Rasa cintanya yang begitu besar pada sahabatnya mampu membuatnya merelakan apapun. " Danu mengakhiri kalimatnya dan beranjak pergi meninggalkan taman itu.


Air mata sudah membanjir di wajah Dita, bukan hanya Ica sekarang ia juga sudah membuat Danu kecewa padanya. " Ica... maafkan aku, maafkan aku... kamu di mana Cha' aku benar - benar butuh kamu di sini. "


..


..


..


..

__ADS_1


__ADS_2