Harun Untuk Khaliesah

Harun Untuk Khaliesah
mengabaikan danu


__ADS_3

Sederatan ujian dan try out pun telah berakhir.


"Nak gimana sekolah kamu ? " tanya ayah Herman di tengah kegiatan nonton bersama.


Mmm gitu deh ayah. aku lagi pusing banget karena bentar lagi akan UAN. rasanya kepalaku hampir pecah dengan deretan soal yang begitu rumit.


"Sabar sayang. " ayah Herman mengusap lembut kepala putri kecilnya. "Semuanya bakalan baik-baik saja. Lagi pula kamu kan sudah belajar dengan giat, apa pun hasilnya nanti, kamu pasrahkan saja sama yang di atas. " lanjut ayah Herman menyemangati Ica berharap anak semata wayangnya itu tidak terlalu stress menghadapi Ujian Akhir Sekolahnya.


Ica memeluk ayah Herman dengan rasa bahagia, dia bersyukur memiliki ayah dan bunda yang selalu bisa ada untuknya. Ica bersyukur ayah dan bunda tidak pernah menuntutnya belajar terlalu keras agar dia bisa menjadi yang terbaik.


Namun itu justru memotivasi Ica agar bisa selalu belajar dengan giat.


-------------------


Tak terasa akhirnya hari yang di tunggu itupun tiba.


"Ica !! " sapa Dita setengah berlari menghampiri sahabatnya itu.


"Heii !! " balas Ica dengan senyum hangatnya ketika Dita tengah merangkul lengannya.


"Deg degan banget nih aku, hikz," rengek Dita memanyunkan bibirnya.


Ica hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.


"Calm down beibb," ucap Ica mengelus bahu Dita, mencoba menangkan kekhawatiran sahabatnya itu. Meski sebenarnya dia juga merasa sedikit takut menghadapi UAN ini.


Selang beberapa hari UAN pun berakhir.


____


"Ica jalan yukk, pusing aku beberapa hari ini berkutat dengan Ujian. Rasanya kepalaku hampir pecah," ucap Dita sambil menggenggam kepalanya dengan kedua tangan dan mengacak acak rambutnya.

__ADS_1


Ica mengernyitkan keningnya tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.


"Haiii seru amat gabung dong. " Sapa Danu menghampiri Ica dan Dita.


Dita tersenyum tipis melihat Danu. Sedangkan Ica sama sekali tak menanggapi Danu, ia malah pamit pada Dita untuk menghampiri ayahnya.


"Aku duluan yah Dita, ayah sudah menunggu," tunjuk Ica ke arah mobil yang tengah terparkir di depan pagar sekolah.


Sikap Ica yang cuek dan sama sekali tidak menggubris kehadiran Danu tadi, justru membuat


pemuda itumemasang wajah masamnya, dia sadar sedari tadi Ica mengabaikannya dan sama sekali tak pernah melirik ke arahnya.


"Apa aku ini tak terlihat olehnya, bahkan melirikku pun tidak." Gumam Danu.


Dita dan Danu mengikuti Ica yang berjalan menuju mobil yang terparkir itu.


"Assalamu alaikum om," sapa Dita mencium punggung tangan Herman.


"Wa'alaikum salam sayang," balas om Herman dengan senyuman.


Danu yang sedari tadi memperhatikan Dita, seketika itu juga memberi salam dan mencium punggung tangan om Herman.


Herman kembali membalas dengan anggukan dan tersenyum. Sembari menatap lekat wajah Danu.


"Saya Danu om," ucap Danu seolah mengerti isyarat tatapan Herman.


Mmmm. Herman hanya mengangguk.


Dita kamu mau ikut ?


Om dan Ica akan menghabiskan waktu di luar hari ini.

__ADS_1


Ica hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya berharap Dita pun akan ikut.


"Seriusan om ? Memangnya Dita tidak mengganggu ? " tanya Dita dengan polosnya.


Ayah Ica hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Kamu mau ikut juga," tanya ayah Herman mengalihkan pandangannya ke Danu".


Tidak om terimakasih, aku harus pulang.


Ayah Ica kembali mengangguk.


Danu pun berpamitan.


Disusul Ica dan Dita yang tersenyum ceria memasuki mobil.


Ditaa kamu nggak nelfon orang rumah dulu, takutnya mama kamu nyariin.


"Ohh iya aku lupa," Dita menepuk jidatnya dan segera mengambil handphonenya.


Ica hanya geleng-geleng sembari tersenyum melihat ekspresi konyol sahabatnya.


..


..


..


..


..

__ADS_1


__ADS_2