Harun Untuk Khaliesah

Harun Untuk Khaliesah
datang bulan


__ADS_3

Harun bersender di punggung kasur sambil memainkan ponselnya, ia berbalik saat mendengar suara pintu kamar mandi yang perlahan terbuka.


"Kamu kenapa sayang ??" Harun berjalan dengan panik menghampiri Ica.


"Tidak, aku tidak kenapa - kenapa kok mas." Ica menjawab sambil menggeleng.


"Jangan berbohong padaku, jelas - jelas wajah mu pucat seperti itu." Harun masih saja panik, ia lalu menuntun Ica untuk berbaring di kasur.


Jangan lebay seperti itu, aku sungguh tidak apa - apa kok.


Mendengar jawaban seperti itu, Harun langsung memicingkan mata, menatap tajam ke arah Ica.


Harus berapa kali mas memberitahumu, jangan pernah menyembunyikan apapun, jangan menyimpan rasa sakit mu sendirian. Heh, kamu selalu saja membuatku kesal.


"Woii, ngaca woii siapa yang selalu membuat kesal siapa," Ica


"Aku hanya sedang datang bulan, berhentilah terlalu khawatir seperti itu," Ica mulai berkata dengan kesal.


"Upss !! Pantas saja, baru bangun tidur dia sudah mengoceh tidak karuan. Harun... jangan membangunkan macan tidur , Wanita yang sedang datang bulan, sangarnya melebihi singa si raja hutan." Batin Harun.


"Maaf, aku hanya khawatir melihat wajahmu yang tiba - tiba saja pucat." Nada suara Harun memelan, ia tidak ingin memulai perdebatan dengan Ica yang hormonnya sedang tidak stabil.


Ica sama sekali tidak meresponnya, ia berjalan menuju lemari lalu mengambil pakainnya.


"Jangan melihat kesini, aku ingin pakai baju di sini saja," ucap Ica dengan ketus.


"Huuffthh," Harun membuang nafas dengan kasar lalu memalingkan wajahnya. "Perasaan terakhir kali dia datang bulan tidak seemosional ini, apa karena dia masih sungkan padaku yah waktu itu. Oh Tuhan, kenapa engkau ciptakan wanita dengan sifatnya yang begitu sulit di mengerti." Harun tak hentinya menggerutu dalam hati.


Ica berjalan menghampiri Harun. "Aku sudah selesai mas, " katanya saat sudah duduk di samping suaminya itu.


"Ya sudah, ayo kita turun !!" Ajak Harun dengan lembut.


Hadehh, kenapa wajahnya masih di tekuk seperti itu. Wahai wanita, jelaskanlah kegundahanmu agar suami mu yang bodoh ini bisa mengerti.


"Ada apa ??" Harun kembali bertanya dengan lembut. Namun yang di tanya lagi - lagi hanya menggeleng.

__ADS_1


Harun meraih dagu Ica, mengangkat wajah itu pelan agar bisa di tatapnya. "Jangan memasang wajah cemberut seperti ini, " kata Harun lalu mengecup bibir mungil Ica.


Ica memalingkan wajah, merasa gugup !! "Apa yang kamu lakukan." Katanya menepis tangan Harun.


"Menghibur Istriku !! " jawab Harun polos memamerkan deretan gigi rapinya.


Mendengar kalimat itu, Ica menoleh menatap Harun, melihat Harun yang memasang wajah sok imut. Bibir Ica langsung terangkat dengan sempurna.


"Hem, cantiknya !! Suka deh kalau lesung pipinya kelihatan begini, " puji Harun mencubit gemas pipi Ica.


"Tuh kan, mas Harun nyubit pipi aku lagi." Rengek Ica dengan manjanya.


"Sudah... sudah jangan berdebat terlalu lama, kasian mama dan bunda sudah lama menunggu kita." Harun memeluk manja tubuh Ica, lalu segera mengajaknya turun menemui Sinta dan Lidya.


***


"Bunda... mama..." Ica berlari kecil menghampiri dua wanita terhebatnya, lalu memeluknya bergantian.


"Ica... ini sudah siang sayang, kenapa kamu baru bangun sekarang, tidak malu apa sama suami mu tuh yang sudah bangun dari pagi, " ceramah Lidya pada putrinya yang baru saja turun.


"Maaf, Ica benar - benar lelah, makanya setelah sholat subuh Ica kembali tidur, " sesal Ica menundukkan kepala.


"Jangan memarahinya bun, atau bibirnya akan terus cemberut seperti ini." Harun memeluk tubuh Ica dari belakang lalu mencubit kecil bibirnya.


"Mas... Jangan semakin membuatku malu." Kesal Ica yang semakin menekuk wajahnya.


Harun, Sinta dan Lidya terkekeh di buatnya.


-----


Acara pun dimulai saat pak Ustad dan beberapa anak yatim sudah hadir.


Herman dan Wirawan pun sudah hadir di tengah - tengah mereka, keluarga dekat Ica dan Harun pun satu per satu mulai berdatangan.


Setelah pak Ustad selesai dengan ritualnya, terlihat para keluarga itu saling berkenalan dan melepas rindu.

__ADS_1


"Assalamu alaikum !!" Sapa seorang lelaki yang baru saja datang bersama dua orang paruh baya di belakangnya.


Mendengar suara yang begitu di kenalinya, Ica langsung mengedarkan pandangannya ke arah pintu masuk.


"Kak Tama..." Teriak Ica berlari menubruk tubuh tegap itu, ia memeluknya begitu erat seolah tengah meluapkan kerinduan yang teramat dalam.


Harun yang melihat adegan itu begitu murka, kedua tangannya terkepal kuat, rahangnya mulai mengeras menahan emosi yang sudah sampai di ubun - ubun.


"shitt, siapa pria b**** itu berani - beraninya dia memeluk istriku seperti itu, " umpat Harun dalam hati.


..


..


..


..


..


Haii Haii terimakasih banyak teruntuk kalian yang sudah membaca novel yang receh ini.


jujur diriku terkadang berfikir,


Ada gak yah yang baca novel ini ??


kok likenya dikit, komennya gak ada, apalagi votenya.


Tapi pas liat jumlah terbaca novel ini,, ribuan !! kaget beudd sumpah.


apa yang baca pas di tengah" udah bosan yah ??


makanya gak sempat like 😂😂 yahh udah lah yah gak papa.


silahkan dukung author dengan cara kalian masing - masing.

__ADS_1


selamat membaca 😍😘😘


__ADS_2