Harun Untuk Khaliesah

Harun Untuk Khaliesah
memberi kebebasan


__ADS_3

Harun menelan kasar salivanya merasa terkejut dengan jawaban Ica.


Harun meraih tangan Ica, menggenggam tangan itu dalam pangkuannya. "Maaf, tapi sedikitpun aku tidak pernah bermaksud merenggut masa mudamu, please jangan jadikan pernikahan ini sebagai beban. Bukankah kita teman ??" katanya lirih.


Ica mengulum senyum, puas dengan jawaban suaminya.


"Tapi ingat jangan menggunakan kebebasanmu ini dengan bergaul bersama para lelaki." Harun menekan kalimat terakhirnya.


Wajah yang tadinya bahagia tiba - tiba jadi masam.


"Heh, sudah ku duga tidak mungkin dia membebaskanku seperti ini tanpa syarat." Ica


Bukan maksudku melarang, aku hanya tidak ingin timbul fitnah diluaran sana, statusmu sekarang kan istriku. Bukan nya seorang istri harus menjaga kehormatan suaminya ??


"Iya... aku paham." Hanya itu yang keluar dari mulut Ica.


Soal kuliahmu apa kamu tidak keberatan jika mas Harun yang mengurusnya ??


Ehm, Ica mengangguk mengiyakan.


---------


Ting Tong..


"Assalamu alaikum tante." Sapa Dita ketika Lidya membuka pintu.


Wa'alaikum salam, masuk sayang.


"Mau jalan yah ??" tanya Lidya saat mereka sudah duduk di sofa.


"Hehe iya tante, Ica nya mana tan ??" Dita celingak celinguk mencari sosok Ica.


"Ada di kamar, tunggu sebentar yah tante panggilkan." Kata Lidya lalu beranjak menuju kamar Ica.


Tak lama kemudian bik Ipah muncul dengan nampan di tangannya. "Silahkan diminum non ??" Bik Ipah meletakkan segelas jus jeruk ke atas meja.


Makasih bik maaf merepotkan.


"Dita......." Teriak Ica berlari kecil menuruni tangga, di susul Harun dan juga Lidya di belakangnya.

__ADS_1


Dita berdiri kegirangan melihat Ica. "Emmm kangen banget," kata Ica memeluk Dita.


"Iyah aku juga kangen banget." Jawab Dita lalu melepaskan pelukannya saat melihat Harun yang sudah berdiri di belakang sahabatnya.


"Siang mas ??" Sapa Dita sedikit canggung.


"Siang" balas Harun tersenyum tipis.


****


*epilog*


Tok Tok Tok


Ica ... ada Dita nak nungguin kamu.


"Iya bun." Teriak Ica dari dalam kamar.


Kamu jalan hari ini ??


"Iya, kemarin kan mas bilang aku boleh pergi." Jawab Ica dengan senyum polosnya.


"Yah enggak sekarang juga Kale, masa iyah gua di tinggal dirumah sendirian." Batin Harun


"Mas enggak keberatan kan ?? Mmm, atau gimana kalau mas Harun ikut saja ?? " usul Ica.


"Tidak." Tolak Harun cepat.


Nge-gas banget mas !!


Heh ?? Bukan seperti itu, aku sudah ada janji dengan Dito sore nanti.


Ehm, Ica mengangguk. "Kok mas Harun enggak bilang kalau ada janji ??"


Ini mas bilang !!


"Telat." ketus Ica.


"Yah sudah temani aku turun." Ica tidak ingin melanjutkan perdebatan dan segera menarik tangan Harun untuk mengikutinya.

__ADS_1


Heii kenapa aku harus ikut turun ?? Kan kamu yang mau pergi bukan aku.


Enggak enak mas !!


-----------


"Bunda Ica jalan dulu yah, assalamualaikum." Pamit Ica mencium tangan Lidya bergantian dengan Dita.


Harun berjalan di belakang Ica mengantarnya hingga ke mobil.


"Yakin mas kamu enggak mau ikut ??" Ica kembali memastikan.


Harun tersenyum menggelengkan kepala menolak ajakan Ica.


Ica lalu menciumi punggung tangan Harun, di balas kecupan di pucuk kepanya.


Harun menundukkan kepalanya. "Hati - hati bawa mobilnya." Pesannya pada Dita.


Dita meletakkan tangannya di sudut kening kanan (hormat) "ok mas.. !!" lalu mulai mengemudikan mobilnya meninggalkan Harun yang masih berdiri menatap kepergian istrinya.


"Cieee, romantis banget, pakai acara cium kening segala," ledek Dita menaik turunkan alisnya.


"kenapa ?? jones ngiri ??" Ica terbahak menjawab sindiran Dita.


Dita memutar bola matanya malas, kata jones sungguh membuat jiwa kewanitaannya ternoda.


---------


Di ruang tamu..


"Ayah kemana bun ??" Tanya Harun saat duduk di samping Lidya.


Ada di kamar sayang, lagi istirahat. Kenapa ??


Ah ? He .. Aku hanya ingin mengobrol bersamanya. Ehh sama bunda juga sih.


Ada apa ??


..

__ADS_1


..


..


__ADS_2