
Panggilan telepon..
"Assalamu alaikum mam ??"
"Wa'alaikum salam sayang, wahh senangnya akhirnya anak mama nelpon."
"Hehe, maaf ma. Mama dan papa apa kabar ?"
"Sehat sayang kalian ??"
"Alhamdulillah sehat juga."
"Kok gak pernah kesini nak ?"
"Maaf ma, mas Harun sangat sibuk setiap hari dia selalu pulang malam." Suara Ica seperti seseorang yang mengadu.
"Maafkan anak mama yah, dia memang seperti itu tidak pernah bisa tenang jika pekerjaannya belum selesai." Sinta mencoba menenangkan Ica yang terdengar sedih.
Mereka berdua larut dalam obrolan panjang.
****
Ica menghempas tubuhnya di kasur menatap nanar langit - langit kamarnya. Sepertinya aku sudah terbiasa dengan kehadirannya, kenapa rasanya hatiku begitu sesak melihatnya begitu sibuk dan tidak memiliki banyak waktu untuk bersamaku.
Haaaa... Ada apa denganku, Ica teriak dengan bantal yang menutup wajahnya.
-----------
Assalamu alaikum. Ucap Harun yang baru saja pulang.
Ica yang sedang menonton berlari kecil mendengar suara Harun. Wajahnya cerah mengukir raut bahagia, kedua sudut bibirnya terangkat sempurna. Mas udah pulang ?? Tanyanya seakan tak percaya kemudian meraih punggung tangan Harun dan menciumnya.
Seberat apapun rasa lelahku sepertinya akan langsung hilang jika mendapat penyambutan yang begitu hangat darinya seperti saat ini. "Batinnya"
__ADS_1
Harun dan Ica berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Mas mandi dulu yah, gerrah !! Kata Harun menyibakkan kera kemejanya.
Ica mengiyakan dengan anggukan. Mau kopi ??
Hem.. boleh !! Makasih sayang. Kata Harun kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Ica mematung tersenyum tanpa jeda. Sepertinya meski Harun tak berkata apapun dan hanya tersenyum, sudah bisa membuat hati Ica menjadi senang.
-------
Ica mengisi teko dengan air lalu memasaknya. Lalu mengambil sebuah cangkir di dalam lemari.
Lagi ngapain non ?? Tanya bik Ipah saat baru saja masuk ke dapur.
Bikin cappuccino. Katanya girang mengibas -ngibaskan saset cappuccino di tangannya.
Bik Ipah membulatkan mulutnya dan mengangguk. Ciee kayaknya non bahagia banget lihat den Harun pulang cepat. Ledek bi Ipah.
Ica berjalan menaiki anak tangga dengan secangkir kopi dan setoples biskuit di tangannya.
Harun sudah pulang sayang ?? Tanya bunda Lidya yang baru saja keluar dari kamar.
Ica mengangkat kedua alisnya tersenyum menganggukkan kepala.
Lidya tersenyum melihat wajah Ica yang begitu bahagia.
Naik dulu yah bun ?? Lidya menganggukkan kepala.
Ica mendorong pintu kamarnya yang sedikit terbuka dengan kakinya.
Harun menoleh saat pintu mulai terbuka, dia berjalan cepat menghampiri Ica. Dan mengambil kopi di tangan Ica. "Hati - hati sayang panas." katanya setelah melihat Ica kerepotan dengan bawaannya.
__ADS_1
Makasih mas.
Harun berjalan keluar ke balkon kamar, Ica terus mengikuti langkah kaki suaminya. Lalu ikut duduk saat Harun sudah duduk.
Kamu kenapa ?? Tanya Ica saat Harun hanya duduk membisu menatap kosong ke arah pepohonan.
Hem ?? Jawab Harun kemudian menggelengkan kepalanya.
Jangan berbohong, aku tidak suka.
Harun menatap Ica lalu menidurkan kepalanya di bahu Ica. Aku hanya sedang merindukan mama. Katanya lirih
dengan mata terpejam.
Apa besok kita bisa pulang ke rumahku ?? Tanyanya kembali.
Nginap ??
Jika boleh. jawab Harun datar.
Ica menganggukkan kepala.
Merasakan anggukan kepala Ica membuat Harun kembali duduk menatap Ica. Serius ??
Kenapa tidak.
Makasih... Kini Harun memeluk tubuh Ica. Yang di peluk jadi salah tingkah dan menatap ke sembarang arah.
..
..
..
__ADS_1
..
..