He Is Mine

He Is Mine
Eps 100


__ADS_3

Sore hari rumah kedatangan beberapa tamu. Dan tamu itu adalah Rayna bersama dengan kedua orangtua nya.


Ibu dan Ayah menyambut hangat kedatangan Rayna sekeluarga. Dan tidak memberitahu Keisya yang sedang berada di dalam kamar bersama dengan Diandra.


Setelah di suguhkan air dan beberapa makanan ringan, Ayah Rayna mulai mengutarakan kedatangan nya.


Tujuan nya tidak lain dan tidak bukan, ingin meminta kejelasan antara hubungan anak nya dan Diandra.


Ibu dan Ayah sedikit terkejut mendengar nya. Bukan apa-apa, Ayah dan Ibu hanya berfikiran tidak kah Rayna dan kedua orangtua nya melihat kondisi Diandra yang belum pulih pasca kecelakaan yang menimpa nya.


"Untuk itu kami akan melamar Rayna secepatnya. Setelah kondisi putra kami membaik dan kembali pulih." Jawab Ayah dengan pelan. Takut Keisya mendengar pembicaraan ini.


Ayah Rayna terkekeh kecil mendengar nya, waktu yang cepat itu kapan. Sementara sejauh ini setelah melakukan beberapa pertemuan pun masih belum ada titik terang nya. Begitulah pikir Ayah Rayna.


"Kami mohon maaf sebelum nya. Bukan nya kami tidak mengerti akan kondisi Diandra yang sedang tidak baik. Tapi kami sendiri juga ingin kepastian untuk masa depan putri kami." Ujar Ayah Rayna.


Ibu dan Ayah saling melempar tatapan. Haruskah mereka menikahkan Diandra dan Rayna dalam kondisi Diandra yang belum pulih.


"Apa tidak sebaiknya menunggu kondisi putra kami pulih dulu?" Kali ini Ibu yang berbicara.


"Bukan nya kami tidak ingin menunggu. Tapi kondisi kandungan Rayna akan semakin membesar. Apa kata tetangga nanti kalau tau anak kami satu-satu nya ini hamil di luar status pernikahan." Jawab Ibu Rayna.


Ayah Rayna kembali menimpali, kali ini Ayah Rayna berbicara tentang kondisi Diandra yang belum bisa pulih sepenuh nya. Walaupun dalam jangka waktu yang lama.


Dan harus sampai kapan dirinya dan keluarga menunggu kepastian untuk putri sulung nya tersebut.


Ada sedikit nada seperti sebuah ejekan dari orangtua Rayna saat membicarakan hal tersebut.


Seperti, mereka tidak percaya bahwa Diandra dapat pulih sepenuh nya.


"Aku akan menikahi mu secepatnya! Berhenti memperdebatkan perkara ini." Terdengar suara Diandra dengan lantanga nya.

__ADS_1


Semua orang yang ada di ruangan menoleh bersamaan.


Diandra duduk di atas kursi roda nya, dengan Keisya di belakang nya. Menghampiri mereka yang berada di ruang tamu.


Diandra kembali berbicara setelah dirinya dan Keisya telah sampai di hadapan semua orang.


Dirinya berjanji akan secepatnya menikahi Rayna. Dan meminta kedua orangtua Rayna berhenti membahas hal ini dengan kedua orangtua nya.


Ibu dan Ayah menatap nanar kepada putra dan menantu nya.


Bagaimana perasaan Keisya saat ini. Dirinya mendengar dan menyaksikan secara langaung bahwa suami nya dengan lantang mengatakan dirinya akan menikahi Rayna, di hadapan nya.


"Beri aku waktu satu minggu, setidak nya kondisi ku akan semakin membaik dalam satu minggu kedepan. Setelah itu, aku berjanji aku akan datang kerumah untuk melamar mu." Diandra meminta waktu satu minggu kepada Rayna dan kedua orangtua nya.


Rayna dan kedua orangtua nya terlihat sangat bahagia mendengar penuturan dari Diandra. Akhirnya mereka pun setuju untuk menunggu selama satu minggu lagi, dan setelah itu Rayna sekeluarga langsung berpamitan untuk pulang.


Setelah keluarga Rayna pulang Keisya duduk di sofa. Bersama dengan Ibu dan Ayah yang masih berada di sofa juga.


"Ibu, Ayah. Keisya minta maaf karna Keisya telah gagal menjadi istri yang baik bagi mas Andra dan menantu yang baik bagi Ibu dan Ayah." Keisya berbicara sambil menangis.


Mendengar hal itu Diandra beserta Ayah dan Ibu sangat terkejut. Bukan Keisya yang salah, namun Diandra lah telat menyadari betapa cinta nya dia kepada Keisya. Hingga semua hal ini terjadi.


Ibu menghampiri Keisya dan duduk di sebelah nya. Ibu memegang tangan Keisya dan mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak salah dan tidak gagal.


"Kamu tidak gagal sayang. Tidak ada yang salah dari kamu. Seharus nya yang minta maaf itu Ibu, Ibu telah gagal mendidik putra Ibu sehingga hal ini dapat terjadi."


"Ibu bersalah kepada kamu, nenek kakek dan mendiang Ibu mu." Jelas Ibu panjang lebar. Disertai dengan air mata yang jatuh dengan deras nya.


Mendengar nama Ibu nya di sebutkan Keisya terdiam menatap Ibu.


"Apa ibu mengenal almarhumah Ibu Keisya?" Tanya Keisya penasaran.

__ADS_1


Kesempatan untuk bertanya tentang hal ini akhirnya datang juga kepada Keisya. Setelah beberapa waktu yang lalu ibu sempat keceplosan mengatakan suatu hal yang menyangkut dengan almarhumah ibu nya.


Ibu terlihat diam dan menundukan kepala nya, Ibu menyadari dirinya telah kembali keceplosan mengatakan hal itu.


Dan kali ini ibu seperti nya tidak dapat menutupi hal itu lagi.


"Iya nak, Ibu dan Ibu kamu memang saling mengenal. Kami berteman baik sejak masih sekolah." Ibu mengutaran pertemanan dirinya dengan Ibu Keisya.


Keisya sangat terlihat terkejut sekali dengan hal yang baru saja di dengar oleh nya. Dirinya tidak tahu tentang hal ini, dan kakek dan nenek nya pun juga tidak pernah menceritakan bahwa Ibu dari suami nya itu adalah sahabat dari Ibu nya.


Ibu mulai menceritakan semua hal tentang dirinya dan Ibu Keisya. Persahabatan yang sangat dekat, seperti seorang saudara.


Ibu menceritakan masa-masa sekolah nya, yang hanya memiliki beberapa teman. Dan Ibu Keisya lah teman yang paling dekat dengan Ibu sehingga persahabatan yang mereka jalin sudah seperti kakak dan adik.


"Kenapa Ibu tidak memberitahu hal ini sedari awal?" Tanya Keisya setelah ibu telah selesai dengan cerita nya.


Ibu meminta maaf kepada Keisya dan mengatakan bukan Ibu tidak ingin memberitahu hal ini, hanya saja ibu menunggu waktu yang tepat untuk bercerita.


"Apa menurut Ibu ini waktu yang tepat? Di detik-detik kehancuran rumah tangga Kei dan mas Andra?" Tanya Keisya sambil menangis.


Ayah dan Diandra hanya diam saja sedari tadi. Kedua nya juga merasa bersalah, sangat-sangat merasa bersalah. Dan tidak tahu harus berbicara apa. Hingga kedua nya memilih untuk diam dan membiarkan Ibu yang berbicara dengan Keisya.


Keisya sudah tahan lagi, kali ini Keisya menangis dengan keras. Tidak menahan nya lagi. Keisya membiarkan semua kesedihan dsn kesakitan yang dia rasakan keluar tercurah lewat air mata.


Diandra ikut menangis melihat hancur nya perasaan istri nya Keisya.


"Sayang maafkan aku." Diandra menundukan kepala nya di pangkuan Keisya.


"Aku yang telah bersalah. Ini semua salah ku, aku memohon permintaan maaf ku kamu terima." Diandra menangia sesegukan.


Keisya menungkup kedua tangan untuk menutupi wajah nya, dirinya tidak tahan lagi dengan rasa sakit di hati nya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2