He Is Mine

He Is Mine
Eps 104


__ADS_3

Malam tiba. Keisya mengantarkan Anya sampai masuk kedalam mobil nya. Seharian ini, Keisya menghabiskan waktu bersama dengan Anya dan Zia.


Banyak hal yang menjadi topik perbincangan mereka bertiga. Dan yang paling menarik adalah tawaran dari Anya untuk Keisya.


Anya menawarkan Keisya sebuah pekerjaan di kantor nya.


Anya tahu, rumah tangga Keisya dan Diandra saat ini benar benar berada di ujung kehancuran. Apalagi saat ini Rayna telah tinggal di rumah Diandra, untuk mengurus Diandra. Rasanya rumah tangga Diandra dan Keisya sudah tidak dapat di selamat kan lagi.


Di siang hari, sebelum pergi ke kampung Keisya, Anya sempat datang ke rumah Diandra terlebih dahulu. Namun itu tidak lama, saat Anya melihat ternyata yang bersama Diandra itu adalah Rayna dan bukan Keisya. Anya putar arah dan langsung pergi ke kampung halaman Keisya.


"Bagaimana, apa kamu mau menerima nya?" Tanya Zia.


Keisya terdiam. Tawaran dari Anya memang sangat menarik, dirinya di tawari sebuah pekerjaan yang mudah untuk di lakukan oleh seorang yang sedang hamil seperti Keisya.


Anya hanya meminta Keisya untuk menjadi asisten pribadi nya. Dan mengecek semua laporan harian kantor. Hanya itu saja.


Sungguh, tawaran yang sangat menarik sekali. Selain itu Anya juga akan memberikan beberapa fasilitas kepada Keisya. Seperti sebuah mobil, tempat tinggal. Dan biaya persalinan nya pun nanti akan di tanggung oleh Anya.


"Iya kemungkinan besar aku akan menerima nya. Nanti aku akan bicarakan dulu dengan nenek dan kakek.." Jawab Keisya.


Kedua nya kembali terdiam, sibuk dengan pikiran masing masing.


***


Terdengar suara adzan shubuh berkumandang. Zia membangunkan Keisya untuk mengajak nya shalat shubuh berjamaah di mesjid.


Kedua nya bergantian masuk kedalam kamar mandi untuk bersih bersih dan mengambil air wudhu.


"Ibu, kami mau shalat di mesjid." Ucap Zia pada ibunya.


Ibu mengangguk, dan menyuruh kedua nya untuk berhati hati. Zia dan Keisya bergantian mencium tangan ibu lalu pergi berangkat ke mesjid untuk melaksanakan kewajiban nya sebagai umat muslim.


Selama dalam perjalanan menuju mesjid, banyak orang yang bertanya kabar kepada Keisya. Tidak jarang para ibu ibu itu juga meminta izin untuk mengusap perut nya yang semakin membuncit.


Keisya yang memang ramah dan pandai bersosialisasi menanggapi semua orang yang menyapa dan bertanya kabar padanya dengan sopan.


"Kita main yu, mau ikut ga?" Tanya Keisya sambil berjalan arah pulang menuju rumah.

__ADS_1


"Kemana?" Tanya Zia.


Baru kali ini setelah selama mendapat masalah, Zia melihat Keisya terlihat ceria kembali. Seperti tidak ada beban pikiran dan seolah semua baik baik saja.


Hari ini, rencana nya Keisya akan mengajak Zia untuk main ke kantor milik Anya. Selain untuk mengalihkan pikiran nya dari Diandra. Keisya juga merasa bosan berada di rumah terus.


"Memang nya tidak apa apa jika aku ikut?" Tanya Zia.


Keisya menghentikan langkah nya tepat di depan pintu rumah, dia mengatakan pada Zia memangnya jika Zia ikut apa yang akan terjadi. Dan siapa juga yang akan melarang Zia untuk ikut bersama nya.


Kedua nya masuk kedalam rumah.


***


Pagi ini, Diandra mulai mencoba untuk melangkahkan kaki nya kembali. Meskipun kaki nya masih di balut perban elastis.


Diandra sedikit berjingjit dan menggigir bibir bawah nya sendiri ketika merasakan rasa ngilu pada kaki nya.


"Sayang..." Rayna yang baru saja membuka pintu kamar terkejut melihat Diandra yang tengah berusaha untuk berdiri dan menyeimbangkan tubuh nya.


"Jangan di paksa sayang. Nanti juga ada waktu nya kamu akan sembuh.." Usul Rayna.


Melihat Diandra yang berusaha untuk berjalan kembali Rayna mengusulkan pada Diandra untuk ikut terapi.


Namun Diandra langsung menolak usulan dari Rayna, dia tidak ingin masuk kembali ke rumah sakit. Sudah cukup baginya dia berada di rumah sakit waktu itu. Dia tidak ingin kesana lagi.


Lama berusaha menyeimbangkan badan nya, Diandra merasa lelah dan akhirnya menyerah. Dia duduk di kursi roda dan mengelap sedikit keringat yang turun dari pelipis nya.


"Tolong ambilkan ponsel ku." Pinta Diandra.


Rayna diam.


Diandra memandang Rayna dan meminta tolong untuk mengambilkan ponsel nya sekali lagi.


Kali ini Rayna tidak diam, namun menggelengkan kepala nya. Menolak permintaan dari Diandra.


Diandra memutar bola matanya dengan jengah. Dia mencoba untuk berdiri kembali. Namun Rayna langsung menahan tubuh nya agar tidak turun dari kursi roda.

__ADS_1


"Jika kamu menginginkan ponsel mu hanya karna kamu akan melihat nomor istri mu itu sudah aktif atau belum aku tidak mau mengambilkan ponsel mu itu. Lebih baik kamu mencoba untuk melupakan nya dari sekarang, dan memulai kehidupan yang baru dengan ku." Jelas Rayna dengan wajah datar.


Pipi Diandra memerah mendengar pernyataan dari Rayna. Dengan penuh emosi Diandra menggebrak meja di samping tempat tidur.


"Kamu tidak usah mengatur dan ikut campur dengan itu. Aku hanya akan menikahi mu saja, bukan hidup bersama mu!" Jelas Diandra dengan penuh penekanan pada setiap kata nya.


Rayna di buat tidak bisa bicara apa apa lagi dengan ucapan Diandra. Dirinya terkejut melihat Diandra yang terlihat sangat emosi saat ini.


Setelah berhasil mengambil ponsel nya, Diandra kembali duduk di kursi roda dan keluar dari kamar.


Beruntung bagi Diandra, dia yang sedang kesusahan mendorong kursi roda dengan tangan nya itu bi Lala melihat nya dan langsung menghampiri nya.


Kata kata dari Rayna terngiang ngiang di telinga nya. Wajah nya memerah menahan emosi.


Masih pagi dan belum sempat untuk sarapan, Rayna telah mengacaukan mood nya hari ini.


***


Keisya dan Zia baru saja selesai sarapan bersama sama. Sebelum menghubungi Anya, Keisya dan Zia akan ke rumah nenek terlebih dahulu untuk membicarakan tawaran kerja dari Anya kemarin.


"Asalamualaikum.." Keisya dan Zia masuk kedalam rumah.


Nenek dan kakek tersenyum menyambut kepulangan cucu nya itu.


"Nek, kek. Ada yang mau Kei bicarakan." Ucap Keisya dengan santai.


Mendengar ada sesuatu hal yang ingin di sampaikan oleh cucu nya itu tiba tiba raut wajah nenek dan kakek menjadi terlihat cemas.


"Ada apa sayang?" Tanya nenek lembut.


Keisya tersenyum lalu mulai membicarakan tawaran kerja dari Anya. Keisya menceritakan semua nya secara detail karna kemungkinan besar dia pun akan tinggal di kota jika mendapatkan izin dari nenek dan kakek untuk bekerja.


Setelah mendengar semua cerita dari Keisya, nenek dan kakek terdiam saling berpandangan. Keisya mengerti pasti nenek dan kakek nya merasa berat untuk melepasnya pergi bekerja di kota.


Keisya memegang tangan nenek.


"Nenek tidak usah khawatir. Orang yang memberi tawaran Keisya bekerja itu orang baik, dan dia juga sahabat Keisya di kota." Jelas Keisya seolah mengerti kecemasan nenek dan kakek..

__ADS_1


__ADS_2