He Is Mine

He Is Mine
Eps 77


__ADS_3

Diandra beserta Ayah dan Ibu dalam perjalanan menuju apartemen Rayna.


Meskipun semua nya dilanda rasa tidak yakin dengan jawaban apa yang akan di berikan oleh Rayna nanti, tapi ketiga nya harus siap menerima jawaban apapun itu.


"Ayo.." Ucap Diandra sambil turun dari mobil, di ikuti oleh Ayah dan Ibu.


"Kamu tahu betul dimana Rayna tinggal." Gumam Ayah.


Diandra menundukan kepala nya, dia sadar bahwa ucapan Ayah barusan adalah sebuah sindiran halus baginya yang secara tidak langsung mengatakan bahwa Diandra memang telah sering datang kesini.


Diandra mengetuk pintu.


"Apa mungkin Rayna sedang tidak ada disini." Ucap Ibu ketika beberapa kali pintu di ketuk tidak ada jawaban.


Baru saja Diandra akan buka suara, pintu tiba tiba saja terbuka.


"Om, tante.." Sapa Rayna.


Rayna mempersilahkan ketiga nya masuk kedalam.


Sebelum memulai pembicaraan, Rayna menuju ke dapur terlebih dahulu untuk membuatkan minuman untuk ketiga tamu spesial nya tersebut.


Selesai menyuguhkan minuman dan makanan ringan, Rayna duduk di antara ketiga nya.


Hening, selama beberapa menit tidak ada yang angkat bicara. Termasuk Diandra yang hanya tertunduk saja sedari datang.


"Ada apa. Om, tante?" Akhirnya tanya Rayna.


Ayah terlihat menghela nafas dan melirik Ibu sejenak.


"Begini nak, kedatangan kami semua kesini untuk membicarakan pernikahan kamu dan Diandra." Ujar Ayah.


Mendengar itu Rayna reflek menatap Diandra.


"Sukurlah kalau begitu." Jawab Rayna tersenyum senang sambil mengusap usap perut nya, seolah mengingatkan dirinya yang sedang mengandung anak dari Diandra.


"Rayna, Ibu memiliki satu permintaan untuk kamu." Sambung Ibu.


"Tentu Ibu, katakan saja apa yang Ibu inginkan dariku?" Tanya Rayna antusias.


Pelan pelan, Ibu mulai mengatakan permintaan yang di maksudkan oleh barusan yang sebetul nya bukan permitaan dari Ibu saja.


Melainkan keinginan dari ketiga nya, yang meminta Rayna untuk mau menyembunyikan status pernikahan nya dengan Diandra dan tanpa ada pesta pernikahan.


Ketika Ibu selesai berbicara, suasana kembali hening tidak ada yang berbicara kembali. Semua nya kini menunggu jawaban dari Rayna.


"Kenapa?" Tanya Rayna dengan air mata yang mulai membasahi pipi nya.


Ibu, Ayah dan Diandra menatap Rayna yang mulai terisak.


Dengan tangan yang mencoba untuk menghapus airmata nya, Rayna berbicara kembali.

__ADS_1


"Kenapa! Kenapa kalian melakukan hal seperti ini padaku? Apa salah ku?" Rayna mulai terisak.


Ayah menatap Diandra yang sedaritadi hanya menunduk saja.


"Nak, ayo jelaskan pada Rayna tentang kondisi mu saat ini." Ucap Ayah.


"Percuma saja Ayah, Rayna telah mengetahui semua nya apa lagi yang harus aku jelaskan. Saat ini aku hanya bisa berharap Rayna dapat menerima kenyataan ini." Ucap Diandra.


"Kenyataan apa?" Timpal Rayna cepat dengan sesegukan.


"Kenyataan bahwa aku hanya menjadi alat pemuas nafsu mu saja? Itu maksud mu hah!" Teriak Rayna.


Ibu dan Ayah cukup kaget dengan pernyataan dari Rayna, hingga Ibu berdiri dan menghampiri Rayna yang duduk di sebrang nya.


"Tidak seperti itu nak, tidak." Ibu mulai ikut menangis sambil mencoba menenangkan Rayna.


"Lalu apa?" Tanya Rayna.


"Apa om dan tante tau, sampai detik ini pun kedua orangtua ku belum mengetahui bahwa aku sedang hamil." Jelas Rayna.


Ibu semakin terisak mendengar penuturan Rayna, yang ternyata dia sendiri masih menyembunyikan kehamilan nya dari kedua orangtua nya.


Di mata Ibu saat ini, Rayna masih berbesar hati dengan tindakan nya yang berani


mengambil resiko sendirian.


***


Sejak pulang dari apartemen Rayna, ketiga nya duduk di sofa ruang keluarga tanpa ada pembicaraan.


Seperti apa yang di takutkan oleh ketiga nya, Rayna masih tetap dengan pendirian nya yang ingin melakukan pesta pernikahan dan tanpa menyembunyikan status nya.


"Apa yang harus aku lakukan.." Gumam Diandra.


"Tidak ada jalan lain lagi, Ayah rasa mungkin kamu harus jujur pada Keisya tentang masalah ini." Ujar Ayah.


Diandra menatap Ayah.


"Tidak Ayah, tidak mungkin aku mengatakan hal yang sebenarnya pada Keisya. Dia pasti akan sangat akan marah padaku." Jelas Diandra.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan? Tidak mungkin kamu membiarkan masalah ini semakin lama, kandungan Rayna akan terus membesar." Timpal Ibu.


Memang tidak ada jalan lain lagi, mau tidak mau saat ini Diandra harus berkata yang sejujur nya pada Keisya setelah Rayna yang bersikeras ingin mengadakan sebuah pesta pernikahan.


Di sisi lain hal ini pasti akan berimbas pada nama Ayah dan keluarga nya, yang memang dari keluarga terpandang di Bandung.


"Baiklah, aku akan membicarakan hal ini dengan Keisya." Diandra berdiri dengan lemas.


"Ayah, Ibu aku pulang dulu." Diandra berpamitan.


Dalam perjalanan pulang, sudah terbayang dalam benak nya bagaimana hancurnya perasaan Keisya ketika mengetahui perselingkuhan dirinya yang sampai membuat Rayna mengandung.

__ADS_1


Namun apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Waktu tidak akan bisa di ulang kembali dan kenyataan yang sedang terjadi saar ini harus di hadapi nya.


"Asalamualaikum." Diandra membuka pintu.


Keisya menjawab salam sambil menghampiri dirinya.


"Mas, ko tumben masih siang sudah pulang." Ucap Keisya.


"Eh tapi tidak apa apa sih, kebetulan mas pulang aku kangen banget sama mas." Keisya memeluk suami nya tersebut dengan sangat manja.


Diandra mencoba memberi sebuah senyuman pada istri nya tersebut.


"Apa mas lapar?" Tanya Keisya.


Diandra menggelengkan kepala nya.


"Tidak sayang, aku belum lapar." Jawab Diandra.


"Apa kamu sudah makan?" Tanya Diandra balik.


Keisya mengangguk dengan senyuman manisnya.


Beberapa saat kemudian, Diandra berjalan menuju kamar untuk berganti pakaian terlebih dahulu sedangkan Keisya pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat.


Dalam kamar, Diandra langsung masuk ke kamar mandi dan mengunci dirinya sendiri di dalam.


"Bagaimana bisa aku membicarakan hal ini dengan Keisya." Gumam nya.


Melihat ekspresi istri nya yang sangat senang dan manja pada nya semakin membuat nyali nya menjadi ciut, dan semakin di bayang bayangi keraguan untuk membicarakan hal tersebut.


Namun di sisi lain Diandra memang harus membicarakan hal ini, sebelum kandungan Rayna semakin membesar.


Diandra membasuh wajahnya dengan kasar.


"Mas.." Keisya tersenyum menyambutnya yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Eh.." Diandra tersentak.


"Ini mas.." Keisya memberikan secangkir teh hangat.


Keisya berjalan menuju tempat tidur dan menepuk nepuk sebelah nya, nemberi kode pada Diandra supaya tidur di sebelah nya.


"Sini.." Keisya menjulurkan tangan nya, seolah menunggu sebuah pelukan dari suami nya tersebut.


"Iya sayang." Diandra mencoba bersikap biasa saja.


Diandra menaiki tempat tidur dan merangkul istri nya tersebut.


"I love u." Ucap Keisya tiba tiba sambil mengecup pipi nya.


"I love u too sayang." Jawab Diandra.

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Diandra, Keisya tersenyum bahagia sambil mengeratkan pelukan nya.


__ADS_2