
Sedikit bingung rasanya saat ini. Diandra terus menatap ponsel nya yang memperlihatkan sebuah foto yang baru di kirim oleh istri nya.
Balasan apa sekiranya yang pas dia berikan pada istri nya itu.
Mungkin jika saat ini Diandra belum mempunyai perasaan sayang dan cinta pada istri nya itu seperti dulu, mungkin akan mudah bagi nya untuk memberi jawaban.
Namun kali ini berbeda. Diandra merasa takut untuk menjawab dan tidak mau jika harus terus berbohong.
Diandra mengusap kasar wajahnya.
"Permisi pak." Desi mengetuk pintu.
Diandra mengangkat kepala nya.
"Ah Desi. Silahkan masuk" Ucap nya.
Desi masuk seperti biasa sambil membawa beberapa dokumen penting di tangan nya.
Beberapa saat kemudian.
Urusan Desi telah selesai, ia hendak berdiri dan keluar dari ruangan bos nya ini.
"Desi." Ucap Diandra.
Desi yang hendak melangkahkan kaki nya, menoleh kembali.
"Iya pak?" Ucap Desi.
Diandra sedikit ragu ragu dengan apa yang ingin dia katakan pada asisten nya ini.
Namun seperti nya ini memang menjadi jalan satu satunya bagi diri nya untuk bisa menjawab pertanyaan dari istri nya.
"Bisakah kamu membantu saya?" Tanya Diandra.
Desi kembali duduk, dan tersenyum sambil menganggukan kepala nya.
"Tentu saja pak! Apa yang bisa saya bantu?" Tanya nya.
Diandra menghela nafas sebelum membicarakan permasalahan nya saat ini pada asisten pribadi nya itu.
"Ini." Diandra membuka ponsel nya dan memperlihatkan poto yang di kirim oleh Keisya.
Desi menatap poto tersebut.
Namun dia belum mengerti dengan apa yang di maksud kan oleh atasan nya ini, dan apa yang bisa dia bantu dengan poto ini.
"Maaf pak, saya kurang mengerti. Maksud nya bagaimana?" Tanya Desi.
"Begini.." Diandra mulai menjelaskan tentang poto itu terlebih dahulu sebagai awal mula pembicaraan nya.
Setelah menjelaskan poto tersebut, Diandra meminta Desi untuk membantu nya berbohong pada Keisya. Dan mengatakan bahwa noda di pakaian itu adalah noda lipstik diri nya, yang tidak sengaja tergores.
__ADS_1
Desi hanya diam saja mendengarkan penjelasan dari atasan nya itu.
Dalam hati nya sebenarnya dia tidak ingin menerima untuk membantu atasan nya ini, untuk berbohong pada istri nya sendiri.
Walaupun baru beberapa kali bertemu dengan Keisya, namun Desi juga sangat menghormati istri dari bos nya itu.
Terlebih lagi sikap Keisya yang selalu mengumbar senyuman dan bersikap sopan kepada siapa pun itu, tanpa memandang status.
Membuat nya ikut merasa tidak enak.
"Bagaiamana Desi? Apa kamu mau membantu saya?" Tanya Diandra yang melihat Desi hanya diam saja sedari tadi.
Desi menundukan kepala nya, tidak berani untuk menatap atasan nya itu.
"Maaf pak, bukan saya membantah. Tapi saya merasa tidak enak sama ibu kalau harus membantu bapak untuk berbohong" Jawab Desi pelan dengan rasa takut.
Diandra kembali menghela nafas.
Desi tidak salah, dan tidak seharusnya meminta maaf. Pikirnya.
Memang Diandra sendiri juga tidak ingin membohongi istri nya itu lagi.
Tapi harus bagaiamana, karna rasanya tidak mungkin untuk berbicara yang sebenar nya.
"Tidak apa apa Desi, kamu tidak salah. Ini salah saya dan kamu tidak perlu minta maaf." Ucap Diandra.
Beberapa saat kemudian, ruangan menjadi hening.
Diandra mempersilahkan Desi untuk keluar dari ruangan nya.
Dia tidak menyangka dan benar benar tidak menyadari bahwa ada bekas lipstik dari Rayna yang menempel di pakaian nya.
"Sekarang harus bagaimana" Gumam nya
sambil menyandarkan tubuh.
***
Waktu sudah memasuki shalat dzuhur.
Keisya yang sedari tadi menonton televisi sambil menunggu balasan dari suami nya yang tidak kunjung ada balasan juga itu berdiri dari sofa, dan menuju kamar mandi.
Selesai mengambil air wudhu keisya berjalan menuju kamar nya, untuk menunaikan ibadah shalat dzuhur.
Keisya menggelar sejadah, dan mulai memakai mukena nya.
"Ya allah ya rabb, engkau yang maha mengetahui segala nya. Termasuk dengan apa yang suami hamba lakukan di luar sana, tanpa sepengetahuan hamba yang menunggu nya pulang di rumah. Jika memang suami hamba melakukan hal yang tidak baik di luaran sana, hamba minta tolong untuk segera memberi nya hidayah. Jangan sampai suami hamba terperosok lebih jauh dalam kesalahan nya. Jangan biarkan mata dan hati nya tertutup untuk kebenaran. Hanya pada mu hamba berserah diri."
Sepenggal do'a Keisya setelah melakukan ibadah shalat.
Beberapa saat kemudian.
__ADS_1
Keisya berdiri, dan melipat sejadah dan mukena nya.
Setelah membereskan nya kembali, Keisya kembali keluar dari kamar dan turun menuju lantai bawah.
Keisya berjalan menuju dapur, untuk membuat makan siang.
Walaupun saat ini selera makan nya sedang tidak ada, karna pikiran nya teralihkan pada noda di baju suami nya itu.
Namun Keisya harus tetap makan, dan memaksakan diri sendiri.
Agar kesehatan nya tidak terganggu.
Keisya mengeluarkan beberapa sosis potong dari kulkas.
Lalu mulai memotong nya secara kecil kecil.
Sial bagi nya, saat sedang memotong sosis tiba tiba saja jari nya sedikit teriris dan berdarah.
"Astagfirullah" Ucap nya, sambil memegangi jari nya yang terluka.
Keisya mengulum jari nya sendiri untuk mengentikan darah yang keluar, sambil berjalan menuju ruang keluarga untuk mengambil kotak P3K yang di simpan di lemari di ruang keluarga.
Sambil membawa betadine dan plester. Keisya kembali berjalan menuju dapur, dan mencuci luka nya terlebih dahulu karna takut infeksi.
"Ya allah ceroboh sekali aku." Ucap nya.
Padahal rasa nya, Keisya tidak melamun saat sedang memotong sosis tadi.
Tapi entah kenapa tiba tiba saja pisau itu bisa sampai mengenai tangan nya sendiri.
Keisya mulai membersihkan luka nya, dan membalut nya dengan plester.
Seolah tidak terjadi apa apa, setelah jari nya di balut Keisya kembali melanjutkan lagi memotong sisa sosis yang tadi belum sempat terpotong.
Setelah selesai, Keisya mulai memasak.
Dan berlanjut makan siang setelah masakan nya telah siap santap.
Selesai makan Keisya kembali menuju ruangan keluarga, dan melanjutkan menonton acara televisi.
Sambil sesekali mengecek ponsel nya, yang belum juga mendapatkan sebuah balasan dari suami nya itu.
Padahal poto yang dia kirim telah di lihat oleh suami nya itu.
Ini bukan kali pertama, Keisya pernah melihat yang lebih dari ini sebelum dia mencintai suami nya itu.
Bekas merah di dada suami nya, yang dia ketahui saat mengganti pakaian suami nya yang waktu itu pulang dalam keadaan mabuk parah.
Saat itu rasa nya biasa nya. Walaupun Keisya tahu, itu adalah sebuah bekas kecupan dari seorang perempuan.
Keisya tidak pernah membahas nya sama sekali, dan tidak ingin mengungkit atau bertanya pada suami nya itu.
__ADS_1
Tapi kali ini rasa nya berbeda, walaupun hanya sebuah goresan merah seperti bekas lipstik.
Hati nya juga terasa ikut tergores.