He Is Mine

He Is Mine
Eps 72


__ADS_3

Hari menjelang pagi, semua orang di rumah baru saja selesai sarapan bersama sama.


"Sayang.." Panggil Diandra.


"Iya mas?" Keisya menoleh.


"Jam berapa kita ke makam?" Tanya Diandra.


Seperti yang telah di bicarakan sebelum nya, hari ini Keisya akan pergi berziarah ke makam orangtua nya.


"Sebentar lagi saja." Jawab Keisya.


Diandra mengangguk, lalu kembali keluar dari kamar.


Sambil menunggu Keisya selesai bersiap siap, Diandra mengobrol dengan Kakek di ruangan tengah.


Untuk hari ini, Kakek dan Nenek sengaja tidak pergi ke sawah karna sepulanh dari makam mereka ber empat akan pergi berbelanja.


Sedang asik mengobrol dengan Kakek, tiba tiba saja ponsel nya berbunyi.


Diandra melihat layar ponsel nya, terdapat nama Rayna disana.


Tanpa pikir panjang Diandra menolak panggilan dari Rayna.


Baru saja ingin menyimpan ponsel nya, tiba tiba ada satu pesan masuk berupa voice note.


Diandra kembali membuka ponsel nya, dan memutar voice note yang ternyata itu dari Rayna.


"Aku baru saja pulang dari rumah mu dan bertemu dengan Ibu disana, saat aku sedang di rumah mu tadi kebetulan sekali Ayah juga masih ada di rumah jadi sekalian saja aku mengobrol dengan mereka berdua. Aku menceritakan kembali tentang kehamilan ku pada orangtua mu, beda nya kali ini Ayah juga telah mengetahui nya. Saat aku membicarakan itu, terlihat sekali dari ekspresi Ayah bahwa beliau sangat kecewa dan marah padamu. Selain itu, aku juga sudah mendengar langsung dari kedua orangtua mu yang ternyata apa yang kamu katakan kamu telah menikah itu benar." Isi voice note dari Rayna.


Diandra terdiam memandangi layar ponsel nya, tiba tiba ada satu voice note lagi masuk.


"Lihat saja, jika sampai kamu tidak mau bertanggung jawab atas perbuatan mu sendiri kamu akan menyesal dan kehilangan segala nya! Termasuk istri mu." Voice note kedua dari Rayna.


Diandra menutup matanya, menggenggam ponsel nya secara erat untuk meluapkan rasa emosi nya saat ini.


Apa yang harus di lakukan nya saat ini, Ayah telah mengetahui nya dan apa yang akan terjadi padanya saat dia pulang dan bertemu dengan Ayah.


Tidak terbayang Ayah akan semarah apa padanya nanti.


"Mas.." Panggil Keisya memecah lamunan nya.


Diandra menoleh dan memaksakan senyuman untuk istri nya itu.


"Sudah siap sayang?" Tanya Diandra.


Keisya mengangguk.


"Ya sudah kalau begitu kamu panggil Kakek sama Nenek, aku mau manasin mobil sebentar." Diandra pergi keluar rumah, sedangkan Keisya pergi menuju kamar Nenek.

__ADS_1


Dalam mobil, Diandra kembali mengingat perkataan Rayna barusan.


Hati nya terasa begitu cemas saat ini, namun di sisi lain Diandra harus memastikan sendiri apakah yang di katakan oleh Rayna itu benar atau hanya sekedar bualan.


Walaupun ragu ragu dan takut, Diandra menelpon Ibu.


***


Diandra, Keisya Nenek dan Kakek saat ini sedang berada di sebuah pemakaman umum yang terletak cukup jauh dari rumah Keisya.


Di depan sebuah batu nisan, Keisya berjongkok lalu membersihkan rumput rumput liar yang berada di atas tanah kuburan tersebut.


"Dulu, kalau aku kangen sama Ibu dan Ayah aku akan berada disini selama berjam jam." Ujar Keisya.


Diandra ikut berjongkok dan membantu mencabuti rumput liar tersebut.


"Oh iya?" Tanya Diandra.


"Iya." Jawab Keisya singkat.


"Tapi kan sayang jarak dari rumah kesini lumayan jauh, kamu dulu sama siapa kesini?" Tanya Diandra penasaran.


Keisya menghela nafas.


"Sendiri, jalan kaki." Jawab nya.


Bagi Keisya, tidak ada kata jarak yang terlalu jauh untuk bisa bertemu dengan kedua orangtua nya.


Diandra terdiam menatap istri nya.


Tiba tiba, terlihat ada air mata yang jatuh, Diandra reflek mengambil tissue yang memang dia bawa di saku jaket nya.


"Jangan sedih sayang." Diandra menyeka air mata istri nya dengan lembut.


Walaupun dalam keadaan pipi yang semakin di basahi oleh air mata, Keisya masih mencoba menyintaskan sebuah senyuman kepada suami nya.


"Mas tahu, aku merasa sangat beruntung dapat bertemu dengan mas dan keluarga." Keisya mulai terisak.


"Setelah mengenal Ayah dan Ibu, aku merasa seperti mempunyai orangtua kembali selain Kakek dan Nenek." Keisya menyeka air mata yang terus saja berjatuhan.


Keisya ingin melanjutkan perkataan nya kembali, namun dengan cepat Diandra memeluk istri nya tersebut.


Karna dia sendiri sudah tidak tahan mendengar kesedihan istri nya itu.


Diandra mengusap lembut punggung istri nya.


"Sudah sayang, jangan bersedih lagi ada aku yang akan selalu menemani dan menjaga mu." Ujar nya.


Keisya melepas pelukan dari suami nya tersebut, dan mengucapkan terimakasih.

__ADS_1


Setelah kedua makam orangtua nya bersih dari rumput rumput liar, Keisya Nenek Kakek dan Diandra mulai mengaji.


Walaupun Keisya sudah sedikit tenang, tapi tidak jarang masih ada beberapa bulir bulir air mata yang jatuh dari pelupuk mata nya.


30 menit berlalu, Keisya masih berasa betah berada di sini.


"Ayah, Ibu. Lihat Keisya saat ini sedang mengandung.." Ucap Keisya antusias bercerita tentang kehamilan nya.


Keisya menceritakan banyak hal di depan makam kedua orangtua nya, sedangkan Kakek Nenek dan Diandra berdiri di belakang nya.


Selain Keisya, Diandra kini juga dapat merasakan kesedihan dari Kakek dan Nenek yang tentu saja pasti merasa sedih karna keadaan Keisya yang tumbuh dewasa tanpa kedua orangtua nya.


Diandra menengadahkan kepala nya.


"Ya allah, apa yang telah hamba lakukan." Batin Diandra sambil menutup erat matanya.


Meneyesali diri nya sendiri yang telah terlalu bodoh dengan menduakan cinta tulus dari istri nya, dan lebih menuruti nafsu nya yang kembali dengan serpihan masalalu nya.


***


Waktu menjelang siang.


Semua orang kini telah kembali ke rumah, sebelum pergi berbelanja semua orang memutuskan untuk bersih bersih terlebih dahulu.


Dan memutuskan akan berangkat setelah melaksanakan ibadah shalat dzuhur.


"Sayang.." Panggil Keisya.


Diandra yang sedang duduk di tengah rumah menoleh.


"Iya sayang?" Tanya Diandra.


Keisya menghampiri suami nya, dengan membawa segelas kopi hitam.


"Perasaan aku saja, atau memang mas dari tadi banyak melamun?" Tanya Keisya.


Diandra terdiam, Keisya memang benar benar mengerti pada dirinya bahkan setiap perubahan sikap dari Diandra Keisya dan menyadari nya dengan cepat.


"Ah tidak sayang tidak apa apa." Diandra tersenyum.


Baru saja ingin mengobrol lebih lanjut, terdengar suara kumandang adzan dzuhur.


"Ayo mas." Ajak Keisya.


Diandra mengangguk, kedua nya berjalan menuju kamar mandi untuk bergantian mengambil air wudhu.


"Aku tunggu di kamar ya mas, sambil nyiapin sejadah nya." Ucap Keisya saat keluar dari kamar mandi.


Diandra masuk kedalam kamar mandi, sebelum mulai mengambil wudhu Diandra diam sebentar menatap pantulan dirinya dari air yang tersedia di bak mandi.

__ADS_1


Harus sampai kapan Diandra akan menutupi hal ini dari istri nya, dan akan sampai kapan Diandra terus menerus membohongi istri nya.


__ADS_2