He Is Mine

He Is Mine
Eps 81


__ADS_3

"Di depan, itu rumah Nenek." Ucap Diandra.


Anya dan Diandra baru saja sampai di kampung.


Anya membuka seatbelt dan turun dari mobil.


"Ayo, apa kamu tidak mau turun?" Tanya Anya.


Diandra menghela nafas panjang sejenak sebelum akhirnya ikut turun dari mobil.


Di depan halaman rumah yang terlihat sederhana ini Diandra menghentikan langkah kaki nya, dalam hati nya kini timbul rasa takut.


Dirinya benar benar tidak yakin bahwa Keisya ada di rumah, dan mau menerima permintaan


maaf nya.


"Apa harus aku yang masuk duluan?" Tanya Anya.


Diandra menggelengkan kepala nya.


"Tunggu sebentar, aku sedang mengumpulkan keberanian ku." Ujar Diandra.


Akhirnya mereka berdua berdiam diri untuk beberapa saat.


Hingga tiba pada Diandra yang berusaha meyakinkan kembali dirinya untuk membawa pulang Keisya mulai melangkahkan kaki nya kembali.


Baru saja akan tiba di depan pintu, tiba tiba ponsel milik Diandra berbunyi.


Membuatnya harus menghentikan langkah nya kembali, dan mengambil ponsel dari saku celana nya.


Ada sebuah panggilan masuk disana, tertera nama Rayna di layar ponsel nya.


Diandra enggan untuk menjawab panggilan dari Rayna, namun karna Anya menyuruh nya untuk menjawab panggilan itu, pada akhirnya Diandra menjawab panggilan tersebut.


"Ada apa?" Tanya Diandra datar.


"Kamu dimana? pulang lah, aku di rumah mu dengan kedua orangtua ku." Ujar Rayna.


Mendengar itu, tiba tiba jantung Diandra berdetak dengan cepat.


Dirinya tidak percaya bahwa saat ini Rayna datang ke rumah orangtua nya membawa serta kedua orangtua nya.


"Hallo, hallo. Kenapa diam? dimana kamu? Pulanglah ini penting. Ibu dan Ayah mu juga sudah menunggu disini." Lanjut Rayna.


Diandra tidak mengucapkan sepatah kata pun kembali, dirinya langsung memutus sambungan telpon.


"Ada apa?" Tanya Anya.

__ADS_1


Diandra memutar badan kembali, dan berjalan menuju mobil.


"Hey tunggu dulu! Ada apa?" Tanya Anya kembali.


Diandra mengatakan pada Anya bahwa Rayna saat ini sedang berada di rumah nya, selain itu Rayna datang bersama dengan kedua orangtua nya.


***


Suara lantunan ayat ayat suci al'quran terdengar sayup sayup di kamar sederhana milik Zia.


Setelah melaksanan shalat maghrib Keisya membuka al'quran dan mengaji, dirinya sangat merindukan Nenek dan Kakek nya yang berada tidak jauh dari tempat ia tinggal saat ini.


Ingin rasanya di saat dirinya sedang terpuruk seperti sekarang ini dia memeluk dan mengadukan segala keluh kesah nya kepada sang Nenek.


Tapi sungguh itu tidak dapat di lakukan oleh nya, Keisya benar benar takut kesehatan dari Nenek dan Kakek akan menurun ketika mengetahui kabar hancur nya rumah tangga cucu mereka ini.


Terlebih lagi, Nenek dan Kakek lah yang menerima lamaran dari kedua orangtua Diandra di awal pertemuan dulu.


Keisya takut Nenek dan Kakek akan merasa bersalah atas semua ini, walaupun sebenarnya Keisya mengerti semua yang terjadi dalam hidup nya sudah di atur oleh sang maha pencipta, dan di balik semua peristiwa ini pasti ada hikmah yang dapat di ambil.


"Kamu rindu sama dia ya?" Tanya Zia setelah Keisya selesai mengaji.


"Aku rindu Nenek dan Kakek." Keisya menundukan kepala nya.


Zia menawarkan dirinya untuk mengantar Keisya pulang ke rumah, kalau Keisya mau.


Namun Keisya menolak nya, karna dirinya belum siap untuk menceritakan semua nya, dan mungkin tidak akan pernah siap dengan semua rasa takut yang kini menghantui pikiran nya.


Keisya dan Zia bertatapan sejenak.


"Biar aku yang buka." Zia berdiri untuk membuka pintu.


"Nenek.." Gumam Zia ketika melihat Nenek telah berdiri di hadapan pintu kamar nya, dengan Kakek dan kedua orangtua nya.


Keisya yang mendengar itu segera membalikan badan nya dan berjalan menghampiri Zia.


"Nenek.." Ucap Keisya dengan mata yang berkaca kaca.


Keisya berjalan dan berhamburan kedalam pelukan Nenek, tangis nya kali ini pecah.


Keisya menangis sejadi jadinya dalam pelukan Nenek, begitupun dengan Nenek, tidak bisa menahan tangis nya dan ikut menangis.


Suasana kesedihan sangat terasa saat ini, tidak ada satu orangpun yang tidak menangis, termasuk Zia dan kedua orangtua nya yang ikut merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Keisya saat ini.


"Kenapa kamu tidak bilang sama kami nak." Nenek mencoba menghapus air mata Keisya.


"Tidak nek, Keisya tidak mau membebani pikiran Nenek dengan masalah Keisya." Keisya menggelengkan kepala nya.

__ADS_1


"Tidak nak, tidak ada yang merasa terbebani, maafin Nenek dan Kakek." Seperti apa yang telah di takutkan oleh Keisya, Nenek dan Kakek merasa bersalah.


Beberapa saat kemudian.


Semua orang berpindah tempat di ruang tengah, Keisya kini sedikit merasa lega dan rindu yang di tahan nya selama beberapa hari ini telah terbayar kan.


"Maafin bibi Kei, bibi sengaja memberitahu Nenek dan Kakek karna bibi dan paman khawatir dengan kondisi kesehatan kamu." Ibu Zia meminta maaf pada Keisya.


Ibu Zia lah yang memberitahu Nenek dan Kakek tentang keberadaan Keisya yang ada di rumah nya, melihat Keisya yang pucat dan berat badan yang terlihat menurun membuat kedua orangtua Zia harus memberitahukan hal ini kepada Kakek dan Nenek.


Selain itu kedua orangtua Zia juga telah memberitahukan tentang permasalahan yang sedang menimpa rumah tangga Keisya saat ini.


"Kamu harus makan nak, jangan seperti ini." Nenek mengusap punggung Keisya yang berbaring di atas pangkuan nya.


Keisya menggelengkan kepala nya, dan membenamkan kepala nya pada perut Nenek.


"Ingat kandungan kamu nak, ingat kesehatan kamu." Timpal bibi.


Keisya diam, sama sekali tidak merespon.


Terdengar suara adzan isya berkumandang, Keisya bangun dari tidurnya.


"Keisya mau shalat dulu." Ujar nya.


Baru saja Keisya berdiri, tiba tiba badan nya terasa panas dan kepala nya sangat pusing.


Keisya memegangi pelipisnya, lalu jatuh tidak sadarkan diri.


Untung lah saat Keisya akan jatuh, Zia yang berada di sebelah nya dengan cepat menahan tubuh sahabat nya tersebut.


"Keisya, Keisya!" Teriak Zia.


Semua orang terlihat sangat panik, Ayah Zia akhir nya menggendong tubuh Keisya menuju kamar.


Dalam kamar, tak henti nya Nenek dan Kakek menangis sambil meminta maaf kepada Keisya atas apa yang terjadi padanya saat ini.


Nenek dan Kakek merasa bersalah karna merasa telah gagal memilihkan pasangan untuk cucu nya tersebut.


40 menit berlalu.


Keisya mulai membuka matanya perlahan lahan.


"Kei.." Zia tersenyum sambil menyeka air mata nya.


"Alhamdulillah kamu sudah sadar." Ucap Zia.


"Dimana Nenek?" Tanya Keisya pelan.

__ADS_1


Zia mengatakan pada Keisya bahwa Nenek dan Kakek telah pulang, selain waktu yang telah malam Kakek dan Nenek memang sengaja pulang untuk beristirahat karna kesehatan kedua juga ikut menurun.


Mendengar hal itu membuat Keisya mengeluarkan air matanya.


__ADS_2