
Malam yang telah semakin larut membuat Keisya tidak mempunyai pilihan lain selain membiarkan Diandra menginap.
Apalagi setelah Keisya meluapkan semua kesedihan nya pada sang suami, dirinya kini merasa tenang.
Berada dalam satu tempat tidur yang sama tidak membuat mereka berdua seperti dulu, sebelum adanya peristiwa ini.
Kedua nya tidur saling memunggungi dan tidak membicakan hal apapun lagi.
"Apa kamu sudah tidur?" Tanya Diandra.
"Belum." Jawab Keisya pelan.
Diandra memberanikan diri untuk merubah posisi, menghadap istri nya yang masih
memunggungi dirinya.
"Apa kamu tidak merindukan ku?" Tanya Diandra.
"Tentu saja aku merindukan mu, aku merindukan semua hal tentang mu." Jawab Keisya pelan.
Diandra tersenyum, timbul rasa percaya diri setelah mendapat jawaban dari istri nya tersebut.
Diandra mengulurkan tangan nya, dan memeluk tubuh istri nya.
"Aku masih suami mu." Ucap Diandra.
Keisya yang hanya diam saja mulai membuka mata nya, apa yang di katakan oleh Diandra benar.
Status mereka berdua masih sah suami istri dan belum ada perceraian.
"Jangan seperti ini, aku akan susah melupakan mu jika kamu seperti ini." Ucap Keisya pelan.
Senyuman Diandra langsung memudar mendengar nya, dia sadar mungkin semua kesalahan dirinya tidak akan bisa di maafkan oleh Keisya dan mungkin saja ini akan menjadi saat terakhir bagi dirinya dan Keisya.
Malam berlalu, hari telah berganti.
Seolah seperti tidak pernah ada keributan di antara hubungan mereka berdua, kini kedua nya sarapan bersama dan Keisya yang
memasak sarapan.
Diandra tersenyum menatap semua hidangan di depan mata nya.
"Masakan yang aku rindukan." Gumam nya.
Keisya melirik suami nya tersebut mendengar nya.
Beberapa saat kemudian.
Kedua nya telah selesai sarapan bersama sama, Diandra duduk di ruang tengah sendirian. Sedangkan Keisya berada di dalam
kamar setelah meminum obat.
"Mas.." Keisya datang menghampiri Diandra sambil membawa secangkir kopi.
Diandra terdiam sambil menerima cangkir kopi nya, perilaku baik Keisya padanya membuatnya bingung dan heran.
Seperti tidak ada kemarahan sama sekali dari Keisya untuk dirinya.
"Duduklah." Pinta Diandra.
__ADS_1
Keisya mengangguk lalu duduk di sebelah suami nya.
"Apa kamu tidak akan memberi aku kesempatan kedua?" Tanya Diandra.
Keisya menundukan kepala nya.
Bagaimana dirinya bisa memberi kesempatan kedua untuk suami nya tersebut, sedangkan untuk bisa tetap bersama saja dirinya tidak akan bisa.
Keisya tidak ingin di madu, dan tinggal bersama dengan perempuan lain dalam satu atap.
Hati nya tidak akan pernah bisa menerima jika harus berbagi suami.
"Mungkin ada jalan lain yang sedang allah siapkan untuk kebahagiaan ku." Ucap Keisya.
"Kenapa bicara seperti itu, aku yang akan membahagiakan mu." Ucap Diandra.
Keisya tersenyum kecut mendengar nya.
Bagaimana mungkin bisa seperti itu, bahkan untuk saat ini saja Keisya yang akan mundur dan mengalah demi perempuan lain yang telah di nodai oleh sang suami.
Kebahagiaan seperti apa yang di maksud kan oleh Diandra.
"Apapun aku maafkan kecuali perselingkuhan." Cetus Keisya.
Diandra terdiam mendengarnya.
Dia sadar dengan apa maksud dari ucapan istri nya barusan, mendengar nya benar benar membuat Diandra semakin di hantui oleh rasa bersalah dan penyeselan.
***
Waktu menjelang siang, Diandra memutuskan untuk pulang terlebih dahulu karna ada urusan di kantor yang harus di hadiri nya dan tidak bisa di wakil kan.
"Aku akan kembali lagi kesini." Ucap Diandra.
Setelah berpamitan Diandra mulai memacu mobil nya.
Sepergi nya Diandra, Keisya masuk kembali ke dalam rumah.
Nenek dan Kakek keluar dari kamar begitu Diandra pulang.
Sesdari kemarin sejak Diandra datang, Nenek dan Kakek tidak keluar dari kamar selain untuk melakukan aktivitas penting.
Nenek dan Kakek sengaja berbuat seperti itu untuk memberi sedikit kebebasan bagi kedua nya untuk membicarakan permasalahan
mereka.
Nenek dan Kakek tidak ingin terlalu ikut campur dan membiarkan kedua nya mengambil keputusan atas kesepakatan yang mereka bicarakan.
"Bagaimana nak?" Tanya Nenek cemas.
Keisya tersenyum.
"Tidak apa apa nek, mungkin jalan terbaik nya memang Kei harus mundur." Ujar Keisya.
"Bagaimana dengan anak dalam kandungan mu." Nenek menitikan air matanya.
"Insya allah, Keisya kuat. Walaupun harus menghidupi anak ini sendirian Keisya yakin Keisya bisa, karna ada Nenek, Kakek dan Allah yang Keisya miliki." Jawab nya terlihat sangat tegar.
Setelah obrolan yang singkat, Keisya kembali masuk kedalam kamar nya.
__ADS_1
Keisya merebahkan badan nya di atas tempat tidur, lalu menatap sekitar.
Entah kenapa rasanya kamar ini menjadi sangat sunyi dan sepi setelah suami nya itu pergi.
Air mata mulai kembali berjatuhan di pipi nya.
Tidak ada yang akan benar benar kuat menghadapi keadaan seperti saat ini, yang ada hanya pura pura kuat demi orang orang di sekitar.
Tangis akan tetap pecah.
Beberapa waktu berlalu.
Keisya membuka mata nya ketika mendengar suara kumandang adzan maghrib.
"Astagfirullah aku ketiduran." Gumam nya sambil merubah posisi menjadi duduk.
Sejenak Keisya berdiam diri, mengumpulkan kesadaran yang belum pulih sepenuh nya.
Setelah itu, Keisya mulai beranjak dari tempat tidur untuk menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu.
Selesai dari kamar mandi Keisya mulai menggelar sejadah dan mengenakan mukena nya.
Dengan sangat khusyu Keisya melaksanakan kewajiban nya, dalam sujud nya Keisya kembali mengadukan keluh kesah nya kepada sang maha pencipta.
Tidak ada tempat lain baginya untuk mengadukan semua permasalahan di hidup nya selain kepada pencipta nya sendiri.
Keisya pasrah akan takdir yang harus di jalani nya.
Beberapa saat kemudian.
Keisya telah selesai melaksanakan kewajiban nya.
"Keisya.." Panggil Nenek.
Keisya menoleh sambil memegangi sejadah nya yang akan dia simpan.
"Iya nek?" Tanya Keisya.
Nenek tersenyum sambil menghampiri Keisya.
"Ayo kita makan malam nak, kamu harus minum obat." Ucap Nenek.
Keisya tersenyum sambil menyimpan sejadah nya.
"Iya nek." Jawab nya.
***
Diandra menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur.
Dirinya baru saja pulang dari kantor, berkat bolos nya Diandra selama beberapa minggu ini. Pekerjaan nya begitu sangat menumpuk dan Diandra harus menyelesaikan nya satu persatu.
"Astagfirullah, lelah sekali." Diandra menutup matanya.
Tiba tiba, bayangan Keisya muncul dalam benak nya.
Orang yang selalu bisa membuat rasa lelah nya hilang begitu saja di saat Diandra di hadapkan dengan banyak nya pekerjaan.
Diandra kembali membuka matanya, lalu tersenyum kecut.
__ADS_1
Andaikan tidak ada masalah seperti ini dalam hidup nya, sudah pasti saat ini Keisya ada di samping nya dan menjadi obat bagi rasa lelah nya.
"Bagaimana pun caranya, aku akan memperjuangkan rumah tangga kita." Gumam Diandra kembali menutup matanya.