
Hari menjelang pagi. Diandra membuka mata dan mengedarkan pandangan nya, tidak terlihat sosok dari istri nya.
"Keisya sedang sarapan sama temen kamu." Ucap Ibu secara tiba tiba. Seolah mengetahui apa yang sedang Diandra cari.
"Pagi pagi begini, temanku? Siapa?" Tanya Diandra heran.
Ibu menuangkan segelas air, lalu memberikan nya pada Diandra.
"Entah, Ibu kurang tahu siapa dia. Tapi Keisya cukup akrab dengan nya." Jelas Ibu.
"Perempuan?" Tanya Diandra sambil meneguk sedikit air.
"Iya." Jawab Ibu singkat.
Diandra seperti nya dapat menebak, siapa perempuan teman nya itu yang pergi sarapan bersama dengan istri nya.
"Sarapan dulu nak." Ibu duduk di sebelah tempat tidur, dengan semangkuk bubur di tangan.
Beberapa saat kemudian.
Berbarengan dengan Diandra yang telah selesai sarapan, Keisya masuk bersama dengan Anya.
"Hai.." Sapa Anya.
Diandra membalas sapaan Anya dengan senyuman.
"Mas, gimana keadaan nya?" Tanya Keisya.
"Semakin membaik aku rasa. Tapi aku bosan di kamar terus." Eluh Diandra.
Keisya menatap Ibu.
"Tidak apa apa kalau kamu ingin keluar. Ibu akan meminta suster membawa kursi roda kesini. Tunggu sebentar." Ibu keluar dari ruangan.
Keisya duduk di sebelah Diandra, sedangkan Anya duduk di sofa yang berada tidak jauh.
Seperti biasa nya, Keisya sangat telaten melayani semua kebutuhan dari suami nya tersebut.
Seperti saat yang dia lakukan saat ini. Dengan sabar nya Keisya memberikan satu persatu resep obat yang harus di konsumsi oleh suami nya tersebut.
Dari kejauhan, Anya memperhatikan mereka berdua dengan sebuah senyuman di wajah nya.
Melihat cara Keisya melayani Diandra dengan sangat baik membuat Anya tidak habis pikir. Apa yang kurang dari istri nya itu, sehingga dirinya bisa sampai kembali kepada mantan kekasih yang jelas jelas perempuan itu juga lah yang telah membuat Diandra menjadi peminum dulu.
Pintu kembali terbuka, Ibu datang dengan seorang suster yang mendorong kursi roda.
Dengan sigap. Keisya membantu menopang tubuh suami nya untuk turun dari tempat tidur.
Tubuh Diandra yang masih cukup lemas membuatnya hampir saja terjatuh saat mencoba untuk berdiri. Namun dengan sigap Keisya membungkuk dan menjadikan dirinya penopang tubuh diandra.
"Kamu tidak apa apa?" Tanya Anya melihat Keisya.
__ADS_1
"Tidak." Jawab Keisya singkat.
Anya menghela nafas, merasa lega.
Sesaat saat Diandra hampir saja terjatuh tadi Anya di buat kaget dengan Keisya yang buru buru membungkukan tubuh nya di samping Diandra, sehingga membuat Diandra dengan lumayan keras menimpa tubuh Keisya.
"Maafkan aku sayang. Aku tidak tahu bahwa tubuh ku masih sangat lemah seperti ini." Diandra meminta maaf saat dirinya telah berhasil duduk di kursi roda nya.
Keisya tersenyum sambil menggelengkan kepala nya.
"Iya tidak apa apa ko." Jawab Keisya.
Perlahan Keisya mulai mendorong kursi roda, sementara Anya membuka pintu untuk mereka berdua.
Diandra tersenyum dan menutup mata nya, sambil mengirup udara segar di pagi hari.
Setelah lumayan lama berada di dalam ruangan, akhirnya Diandra dapat merasakan segar nya udara di pagi hari kembali.
Perlahan lahan kursi roda nya mulai menyusuri lorong rumah sakit.
"Anya, apa kamu tidak ada pekerjaan?" Tanya Diandra.
Anya yang berada di samping Keisya menoleh.
"Tidak. Semua pekerjaan ku hari ini sudah ku jadwalkan ulang. Sengaja hari ini aku akan menemani istri mu merawat mu." Jelas Anya sambil melirik Keisya.
Keisya mengucapkan rasa terimakasih kepada Anya, yang telah mengorbankan waktu nya yang berharga hanya untuk menemani dirinya merawat suami nya.
"Tentu saja. Ayo kita lewat lift." Ajak Anya.
Keisya yang notabene nya adalah perempuan dari kampung memang tidak mengetahui jika kursi roda bisa turun ke bawah lewat lift.
Anya berjalan terlebih dahulu menuju depan lift, sambil menekan nomor di lift. Anya dengan pelan pelan memberitahu Keisya fungi fungi tombol yang tertera di samping lift.
Dengan begitu, jika Anya sedang tidak bisa ke rumah sakit dan Keisya atau Diandra harus turun ke bawah seperti saat ini. Keisya telah mengerti cara nya.
Pintu lift terbuka, Keisya kembali mendorong kursi roda suami nya keluar dari lift.
"Wah, bagus sekali." Keisya tersenyum sambil mengedarkan pandangan nya di sekitar taman.
Beberapa hari berada di rumah sakit, untuk pertama kali nya Keisya memasuki area taman rumah sakit yang cukup luas ini.
Tanpa Keisya dasari, secara diam diam Anya mengambil potret dirinya yang sedang mendorong kursi roda dengan pelan.
"Best couple." Batin Anya.
Anya kembali berjalan menghampiri kedua nya.
"Kei, kita kesebalah sana." Anya kembali berjalan di depan Keisya.
Ketiga nya berhenti, dan duduk di sebuah bangku. Dengan Diandra yang duduk di atas kursi roda nya.
__ADS_1
Walaupun cuaca pagi hari cukup panas. Namun sinar matahari pagi tidak membuat mereka merasa kepanasan.
Suasana rumput di taman yang sedikit basah oleh embun, dan beberapa pepohonan rindang yang terdapat di area sekitar membuat mereka bertiga merasa betah berlama lama disini.
Selama berada di taman, tidak ada banyak obrolan antara mereka bertiga.
Hingga ada seorang perempuan yang datang menghampiri.
"Ternyata kamu disini sayang." Ucap nya.
Ketiga nya menoleh secara bersamaan.
Terlihat Rayna kini berdiri di samping kursi roda Diandra.
"Maaf ya aku baru sempat datang." Ujar
Rayna.
Anya melirik Keisya, yang kini menundukan kepala nya.
Anya merasa iba dengan teman baru nya itu. Harus nya tidak ada Rayna disini, kedatangan Rayna membuat suasana damai di antara ketiga menjadi hilang. Begitulah pikir Anya.
Anya tiba tiba saja berdiri.
"Kei, ayo kita kembali. Kasian suami kamu harus istirahat." Ajak Anya.
Keisya mengangguk, namun selama beberapa saat Keisya merasa ragu untuk mendorong kursi roda Diandra dengan Rayna yang masih berdiri di samping suami nya tersebut.
"Ah biar aku saja yang mendorong nya. Kasian kamu pasti kelelahan, apalagi kamu sedang hamil." Anya memberanikan diri menggeser Rayna.
Anya mulai berjalan, dengan Keisya di samping nya dan Rayna di belakang mereka.
Rasa ketidak sukaan Anya kepada Rayna benar benar tidak dapat dia sembunyikan. Sedari tadi Anya terus bersikap sinis di hadapan Rayna.
Cukup lama waktu berlalu, akhirnya mereka telah sampai kembali di dalam kamar.
Sebelum Diandra berdiri, Anya memanggil dua suster terlebih dahulu untuk membantu
mereka.
"Terimakasih ya sus.." Ucap Anya ramah.
Setelah suster keluar suasana menjadi hening selama beberapa saat.
Anya kembali melirik Keisya yang sedaritadi hanya menundukan kepala nya saja.
"Kei, sini." Anya menepuk kursi sebelah tempat tidur Diandra, memberi kode supaya Keisya duduk disana. Sebelum Rayna yang mengambil posisi tersebut.
Anya menggeser kursi, membantu Keisya untuk duduk.
"Di bandingkan dengan siapapun. Kamu lebih pantas berada di posisi ini." Gumam Anya sambil menatap sinis Rayna.
__ADS_1