
Sudah semalaman Rayna tidak pulang dan masih dengan setia merawat dan melayani semua kebutuhan Diandra.
Telah berulang kali juga Diandra meminta Rayna untuk pulang saja, tapi Rayna tetap ingin berada disini untuk merawatnya. Tidak berniat untuk pulang.
Ayah dan Ibu pun tidak dapat berbuat banyak hal, karna suatu alasan yang mau tidak mau mereka pun tidak bisa meminta Rayna untuk pergi darisini.
"Sayang.." Pintu terbuka, Rayna masuk dengan membawa sarapan.
Diandra menatap Rayna sejenak, lalu kembali mengalihkan pandangan nya.
Wangi dari bubur yang di bawa oleh Rayna tercium harum dan seperti nya sangat enak. Tapi Diandra tidak ingin memakan nya, jika itu masakan Rayna.
Rayna mengambil sesuap bubur dan bersiap untuk menyuapi calon suami nya itu. Dengan cepat Diandra memalingkan wajah nya.
Diandra berkata kepada Rayna bahwa dirinya sama sekali tidak merasa lapar dan tidak ingin makan. Dia hanya ingin Keisya. Hanya Keisya.
Mendengar nama Keisya di sebut Rayna terlihat tidak nyaman, tapi dengan segera Rayna tersenyum kembali dan mengatakan kepada Diandra bahwa dirinya lebih baik dalam segala hal ketimbang perempuan desa itu.
"Ayo makan sayang. Nanti anak kamu sedih loh kalau kamu tidak makan." Rayu Rayna sambil memperlihatkan perut nya.
Diandra terdiam dan menatap perut Rayna, bagaimana pun juga anak yang sedang di kandung oleh Rayna saat ini adalah anak nya.
Diandra sedikit luluh, dan pada akhir nya mau makan.
Beberapa saat kemudian.
Diandra telah selesai makan dan meminum obat nya. Kembali Diandra sebentar-sebentar menatap layar ponsel nya, berharap nomor Keisya aktif dan menunggu balasan dari pesan yang telah di kirimkan oleh nya semalam.
Rayna kembali masuk kedalam kamar nya setelah menyimpan mangkuk ke dapur. Kini Rayna masuk dengan mendorong kursi roda.
Dia ingin mengajak Diandra untuk berjemur dan merasakan kehangatan mentari pagi supaya tidak berdiam diri di kamar terus.
Diandra yang memang cukup merasa bosan langsung duduk di kursi roda nya, tidak ada yang salah dengan ajakan dari Rayna saat ini.
Rayna mulai mendorong kursi roda keluar dari rumah. Halaman rumah yang sangat luas membuat Rayna lebih leluasa menemani Diandra berjalan-jalan.
"Aku ingin kedepan." Pinta Diandra.
__ADS_1
Rayna tersenyum.
Security membuka gerbang. Rayna mulai keluar dari rumah, dan mendorong kursi roda Diandra menyusuri jalanan komplek perumahan elit ini.
Selama beberapa saat Diandra terus mengukir senyuman di wajah nya, sinar matahari pagi dan udara yang masih sedikit sejuk membuat nya lupa akan semua masalah yang sedang di hadapinya.
"Bagus ya sayang." Ucap Diandra sambil melirik kebelakang.
Rayna mengangguk sambil membalas senyuman Diandra.
Seketika Diandra tersadar. Bahwa orang yang sedang mendorong kursi roda nya saat ini adalah Rayna, bukan Keisya.
Senyum di wajah nya perlahan memudar dan hilang. Keisya kembali memenuhi pikiran nya. Dan membuatnya hilang semangat untuk terus berjalan jalan.
Akhirnya Diandra meminta Rayna untuk putar balik dan pulang ke rumah.
***
Keisya dan Zia saat ini berada di sebuah taman. Taman kecil yang berada di tengah tengah luasnya hamparan kebun teh.
Dan apa yang di harapkan oleh Zia terjadi. Keisya terlihat sangat senang sekali dengan semua pemandangan indah yang di dominasi oleh warna hijau ini.
Untuk pertama kali nya setelah kemarin, Zia dapat kembali melihat sahabatnya itu tersenyum dengan lepas.
"Kei ini kita sambil makan." Zia membuka bekal yang sengaja di bawa nya.
Dalam bekal yang telah di siapkan oleh nya terdapat beberapa potong buah buahan, dari pepaya. Semangka, melon dan ada juga buah naga. Yang semua buah telah di potong kecil kecil.
Keisya mengambil satu potongan buah, sambil mengunyah nya Keisya tersenyum dan menengadahkan kepala nya menatap langit.
Segar dan pas sekali rasanya memakan buah buahan di hari yang mulai menjelang siang ini.
"Zia.." Ucap Keisya.
Zia menoleh, Keisya mulai membericarakan tentang rencana masa depan hidup nya kepada teman nya itu. Rencana Keisya setelah lepas dari Diandra dia ingin mencari pekerjaan, di tempat yang tidak membutuhkan banyak tenaga dan gerakan. Seperti bekerja di tempat makan atau sebuah cafe.
Itu semua akan dia lakukan demi masa depan anak yang sedang di kandung nya. Dia akan berusaha mengumpulkan uang untuk biaya bersalin nya nanti, setelah waktu nya tiba.
__ADS_1
"Ada banyak hal yang harus aku lakukan untuk anak ku ini, dan salah satu nya aku ingin memperlihakan kepada anak ku bahwa tanpa seorang ayah pun dia bisa hidup bahagia dengan ku." Keisya mengelus perut nya.
Zia mulai berkaca kaca mendengar semua cerita dari Keisya. Pasti berat sekali kehidupan yang akan di jalani oleh sahabat nya itu nanti.
"Kamu tidak usah khawatir, aku akan selalu ada untuk kamu kalau kamu butuhkan." Zia memegang tangan Keisya.
Kedua nya saling menatap dan tersenyum bersama.
Waktu kini telah pukul dua siang. Keisya dan Zia memutuskan untuk pulang karna mereka berdua belum makan siang dan belum melaksanakan shalat dzuhur.
Dalam perjalanan pulang Keisya melihat sebuah mobil yang terlihat tidak asing baginya. Seperti Keisya mengetahui mobil siapa itu, namun Keisya tidak dapat mengingat nya.
Tiba tiba, mobil yang baru saja melintas melewati dirinya itu berhenti, tidak jauh di depan nya.
Keisya menatap pintu mobil yang mulsi terbuka, terlihat seorsng perempuan keluar dari pintu kemudi mobil.
"Keisya..." Panggil nya.
Keisya tersadar. Mobil itu adalah mobil Anya, sahabat baru nya.
Anya memeluk Keisya ketika kedua nya telah berhadapan. Sementara Zia hanya terdiam melihat nya, karna Zia memang tidak mengenal Anya.
Setelah saling bertanya kabar, Keisya memperkenalkan Zia sahabatnya kepada Anya.
"Ayo ke mobil, aku antar kamu pulang." Ajak Anya.
"Tunggu. Aku tinggal di rumah Zia saat ini, dan rumah nya ada di depan situ. Tidak perlu memakai mobil." Jawab Keisya.
Keisya menyuruh Anya untuk memarkir mobil nya di halaman rumah nenek, sementara dia dan Zia akan menunggu Anya kembali di halaman depan rumah Zia.
"Siapa itu?" Tanya Zia.
"Dia adalah sahabat suami ku." Keisya mulai menceritakan semua tentang Anya. Dimulai dari pertemuan pertama nya saat mengantar Diandra pulang waktu subuh, dan sampai Anya yang memarahi Rayna saat di rumah sakit.
Mendengar cerita dari Keisya, Zia kini merasa heran karna kenapa Anya harus memarahi Rayna.
"Itu karna aku lebih percaya kepada Keisya. Keisya adalah perempuan yang baik dan pantas untuk Diandra, tidak seperti perempuan murahan itu." Tiba tiba Anya telah berdiri di belakang mereka berdua.
__ADS_1