He Is Mine

He Is Mine
Eps 101


__ADS_3

Malam hari Keisya duduk termenung di kamar nya, bersama dengan Diandra yang belum berhenti meminta maaf pada nya.


Air mata Keisya sangat sulit untuk berhenti keluar dari pelupuk mata nya. Keisya menangis tanpa mengeluarkan suara.


"Ceraikan aku." Tiba tiba ucap Keisya.


Diandra yang sedari tadi menyimpan kepala nya di pangkuan Keisya menoleh. Dirinya dengan cepat menggelengkan kepala nya sebagai jawaban dari permintaan istri nya yang meminta untuk di ceraikan.


"Tidak sayang. Jangan berbicara seperti itu." Jawab Diandra.


Keisya menatap suami nya, sebelah tangan nya mengusap kepala Diandra. Dirinya mengatakan bahwa ini akan menjadi malam terakhir bagi dirinya berada disini bersama dengan suami nya.


"Besok pagi aku akan pulang. Ini malam terakhir bagi kita berdua, terimakasih selama ini telah menjadi bagian penting dalam rasa kebahagiaan ku." Ucap Keisya pelan.


Diandra kembali menggelengkan kepala nya, tidak. Malam ini bukan malam terakhir bagi dirinya bersama dengan Keisya. Diandra tidak ingin Keisya kembali pulang ke kampung nya.


"Aku mohon jangan berbicara seperti itu sayang. Aku mohon dengan sangat." Ucap Diandra kembali menenggelamkan kepala nya pada perut Keisya.


Keisya tidak banyak beraksi kepada suami nya yang saat ini sedang memohon padanya. Keisya hanya terus mengusap kepala suami nya dengan perlahan-lahan.


***


Pagi hari, Diandra terbangun dengan kepala yang terasa sakit karna telah menangis semalaman. Meminta Keisya untuk memaafkan dirinya.


Diandra mengedarkan pandangan nya. Tidak ada Keisya di samping nya. Mungkin Keisya sedang berada di luar kamar, pikir Diandra.


Diandra meneguk segelas air yang berada di meja samping tempat tidur. Selain air putih. Di meja juga telah ada bubur dan segelas susu.


Seperti nya itu sengaja di simpan di sana untuk sarapan Diandra, yang telah di siapkan oleh Keisya.


Diandra mengubah posisi nya, bersandar. Dan mulai mengambil sarapan nya sambil menunggu Keisya kembali ke kamar.


Beberapa saat kemudian.


Diandra telah selesai dengan sarapan nya namun Keisya masih belum ada masuk kedalam kamar.


Setelah memakan obat, Diandra mencoba untuk turun dan duduk di kursi roda nya. Dia akan keluar dari kamar untuk mencari keberadaan istri nya.

__ADS_1


Setelah berhasil duduk di kursi roda, Diandra mulai mendorong roda nya dengan pelan-pelan. Dirinya cukup kesusahan dengan hal baru ini, namun secepat mungkin Diandra dapat terbiasa.


"Bibi.." Panggil Diandra kepada bi Lala yang sedang duduk di dapur.


Bi Lala terlihat sedang melamun dengan memegang segelas air putih di tangan nya. Dan tidak menyadari panggilan dari Diandra.


Diandra semakin mendekatkan dirinya pada bi Lala dan memanggil nya kembali.


"Eh, iya den ada apa?" Tany bi Lala menyadari kehadiran Diandra di depan nya.


Diandra ingin bertanya kenapa bi Lala melamun seperti itu, karna tidak biasanya bi Lala terlihat seperti sekarang. Namun Diandra mengurungkan niat nya dan berfikir mungkin bi Lala sedang ada masalah.


"Apa bibi melihat Keisya?" Tanya Diandra.


Bi Lala terlihat semakin sedih dengan pertanyaan dari Diandra.


"Den, nona Keisya sudah pergi subuh tadi." Jawab bi Lala pelan.


Diandra terdiam begitu mendapatkan jawaban dari bi Lala tentang keberadaan istri nya. Keisya tidak hanya berbicara saja, dirinya benar-benar menepati ucapan nya pergi dari rumah ini.


Bi Lala menghampiri Diandra.


"Den, tuan dan nyonya saat ini sedang menyusul non Keisya." Jawab bi Lala.


Diandra terdiam menundukan kepala nya.


Subuh tadi saat telah selesai melaksanakan ibadah nya, Keisya mulai mengemas semua pakaian nya kedalam koper. Setelah semalam Keisya menghubungi Zia dan meminta nya untuk menjemput dirinya pagi hari.


Keisya mengemas semua pakaian nya dengan perlahan lahan, sambil sesekali melirik ke atas tempat tidur. Takut suami nya terbangun dan mengetahui kepergian dirinya.


Setelah selesai mengemas semua nya Keisya menatap suami nya yang masih tertidur pulas. Rasanya sangat berat sekali Keisya rasakan saat ini, karna harus berpisah dengan seseorang yang telah menjadi pelangi sekaligus menjadi hujan badai juga di hidup nya itu.


Keisya menutup mulut nya, menahan suara tangis nya. Keisya ingin memuaskan dirinya sendiri untuk memandangi wajah sang suami, karna ini akan menjadi saat-saat terakhir baginya bertemu dengan Diandra. Setelah semua ini Keisya akan menghidar dan pergi menjauh dari kehidupan Diandra karna dirinya tidak sanggup untuk hidup satu atap bersama dengan perempuan lain yang akan menjadi madu nya.


Tiba tiba ponsel nya berdering, ada sebuah pesan masuk dari Zia yang mengatakan bahwa dirinya telah berada di depan.


Keisya membuka pintu secara perlahan.

__ADS_1


"Asalamualaikum mas, aku pamit." Gumam nya pelan memandangi Diandra sambil kembali menutup pintu.


Diandra menangis mengetahui istri nya telah benar-benar pergi. Kini dia hanya bisa berharap kedua orangtua nya dapat menemukan Keisya dan berhasil membawa nya kembali kesini.


"Sudah den, jangan menangis. Kita berdo'a saja semoga tuan dan nyonya berhasil menemukan non Keisya dan bisa membawa nya kembali pulang." Bi Lala mencoba menenangkan tuan muda nya itu.


Diandra menganggukan kepala nya, dia meminta bi Lala untuk membantu nya mendorong kursi roda kembali kedalam kamar.


Dalam kamar, Diandra melamun sambil memegangi ponsel nya. Sedari tadi Diandra terus menerus mencoba menghubungi nomor Keisya, namun momor istri nya itu tidak aktif sama sekali.


Begitupun dengan nomor kedua orangtua nya, Diandra mencoba untuk menghubungi Ayah dan Ibu nya untuk bertanya tentang Keisya. Apakah berhasil di temukan atau belum. Namun kedua orangtua nya tidak ada yang menjawab panggilan dari nya.


Diandra merasa marah kepada dirinya sendiri. Kondisi nya saat ini menjadi penghambat bagi dirinya untuk bisa pergi dari rumah.


"Kenapa aku harus mengalami hal ini ya allah." Diandra menangis, menengadahkan kepala nya menatap langit-langit kamar nya.


Waktu telah siang.


Belum ada kabar sama sekali dari Keisya maupun kedua orangtua nya.


Diandra menatap layar ponsel nya, sambil menatap foto foto Keisya yang terdapat di ponsel nya.


"Kamu dimana sayang. Kenapa kamu pergi dari ku.. Kita bisa menghadapi masalah ini bersama sama, aku tidak menginginkan Rayna. Aku ingin kamu sayang. Kamu!" Gumam nya.


Pintu kamar nya terbuka, bi Lala masuk membawa nampan.


"Den, makan siang dulu." Ucap bi Lala.


"Taruh saja di meja bi, aku tidak lapar." Jawab Diandra menatap kosong layar ponsel nya.


Bi Lala tidak langsung keluar dari kamar setelah menyimpan makanan di atas meja sesuai dengan ucapan Diandra.


"Den.." Panggil bi Lala.


Bi Lala berjalan kehadapan Diandra. Bi Lala mengatakan bahwa Ibu dan Ayah telah kembali ke rumah.


Diandra menatap bi Lala, dan meminta nya untuk membawa Diandra kepada Ibu dan Ayah.

__ADS_1


__ADS_2