
"Zia, bagaiamana usaha mu?" Tanya Keisya.
Zia tersenyum.
"Alhamdulillah, setelah di pasarkan via online. Ada beberapa pelanggan baru" Ujar Zia.
Zia mempunyai sebuah usaha sendiri, membuat rancangan pakaian model muslim.
Berawal dari hobi menggambar, hingga sampai Zia bisa sampai seperti sekarang.
Keisya ikut bahagia mendengar kelancaran bisnis kecil milik sahabat nya itu.
Waktu menjelang siang.
Zia pamit pulang kepada Keisya.
"Mas." Ucap Keisya.
Diandra menoleh.
"Iya sayang?" Tanya Diandra.
Keisya duduk di sebelah suami nya itu, lalu menyandarkan tubuh nya di tangan nya.
Diandra tersenyum melihat tingkah manja istri nya itu.
Baru kali ini Keisya memperlihatkan sikap manja nya.
Sambil mengusap pelan rambut Keisya, Diandra mengecup puncak kepala istri nya itu.
"Setiap rasa, setiap perhatian dan tingkah laku mu kepadaku kini aku sadari. Aku jatuh cinta padamu. Rasa nya jika harus berjauhan dengan mu untuk saat ini aku tidak bisa, bahkan hanya untuk sekedar pergi ke kantor saja aku merasa berat hati dan ingin cepat cepat pulang. Untuk melihat mu" Batin Diandra.
Diandra menutup mata nya, lalu memeluk istri nya itu.
Hingga, tanpa mereka berdua sadari ada dua pasang mata yang memandang mereka.
"Seperti nya mereka tidur?" Ucap Kakek.
Nenek menaruh jari telunjuk sebagai isyarat supaya tidak berisik.
Kakek mengangguk dan tersenyum.
"Mungkin mereka kelelahan." Ujar Nenek.
"Lihat, cucu kita sekarang sudah lebih dewasa. Tapi sikap manja nya tetap tidak hilang" Kata Kakek.
Selama Keisya tinggal bersama dengan kakek dan nenek, Keisya memang di kenal sebagai perempuan yang mandiri.
Jarang sekali Keisya memperlihatkan kesedihan atau hanya sekedar merenung.
Dia selalu mengumbar senyum dan terlihat baik baik saja.
Walaupun dalam hati kecil nya ia tidak dapat berbohong bahwa sering kali dia merasa sedih karna tidak memiliki orangtua, seperti teman teman nya yang lain.
Waktu berlalu begitu cepat.
Keisya membuka matanya, dan menyadari bahwa dia tertidur dalam dekapan sang suami di atas kursi.
"Ya allah aku ketiduran" Gumam nya.
Keisya memegang selimut yang menutupi tubuh nya, dan suami nya.
"Siapa yang pakaikan selimut" Pikirnya.
Keisya melirik suami nya.
"Apa mas Andra? Tapi bagaimana bisa, rasanya daritadi tidak ada pergerakan. Atau aku terlalu lelap?" Batin nya.
Sedang bertanya tanya perihal selimut, tiba tiba nenek datang ke tengah rumah.
__ADS_1
"Sudah bangun" Nenek tersenyum.
Mendengar suara nenek, Keisya buru buru bangun dan melepas selimut yang menutupi tubuh nya itu.
Sungguh malu bagi nya untuk terlihat dalam keadaan seperti ini di depan sang nenek.
"Nek, kapan pulang" Tanya Keisya dengan suara parau khas bangun tidur.
Nenek menaruh satu cangkir teh hangat.
"Emm, tadi." Jawab nenek.
Beberapa saat kemudian, nenek berlalu menuju kamar nya.
Keisya menggoyang pelan tubuh suami nya.
"Mas bangun, ini sudah sore" Ucapnya.
Diandra berdehem kecil.
"Ayo kita makan" Ucap Keisya lagi karna dia memang merasa lapar saat ini.
Tidak ada respon sama sekali dari suami nya itu.
Keisya lalu mendekatkan wajahnya pada telinga sang suami.
"Mas, aku lapar" Bisik nya, lalu mengecup pipi suami nya itu.
Tidak butuh waktu lama, Diandra yang merasakan ada benda menempel pada pipi nya itu langsung membuka mata.
Keisya yang masih membiarkan bibirnya pada
wajah suami nya itu tersenyum.
"Ayo makan sayang" Ajak Diandra.
Keisya dan Diandra bangun, lalu pergi ke menuju dapur.
"Mas, maaf ya makanan nya cuma seadanya." Ucap Keisya sambil memberikan piring yang sudah terisi oleh makanan itu pada suami nya.
"Tidak apa apa sayang. Asalkan makan dengan mu saja nasi campur garam saja akan ku makan" Goda Diandra.
Pipi Keisya tiba tiba terlihat memerah, Keisya tersenyum malu sambil sedikit menunduk.
"Mulut lelaki.." Gumam nya sambil menggelengkan kepala.
Diandra terkekeh mendengar itu.
Kedua nya telah selesai makan, Keisya masuk kedalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
"Mas, aku mau shalat dulu." Ucap Keisya.
Diandra menangguk.
Keisya berlalu menuju kamar, dalam hati nya dia sangat berharap bahwa suami nya itu dapat menjadi imam bagi nya.
Saar baru menikah, Keisya pernah mengajak suami nya itu untuk shalat berjamaah.
Namun Diandra mengacuhkan nya, dan membuat Keisya sedikit kikuk karna merasa tidak di anggap.
Semenjak itu, Keisya segan.
Selesai shalat, Keisya mengaji terlebih dahulu sebentar.
Hingga 15 menit berlalu, Keisya menyudahi mengaji nya.
Baru saja menutup Al qur'an. Tiba tiba terdengar suara pintu kamar nya itu terbuka.
Keisya reflek menoleh ke arah pintu.
__ADS_1
Diandra memasuki kamar sambil tersenyum padanya.
Keisya membalas senyum suami nya itu, lalu menjulurkan tangan nya untuk menyalami tangan suami nya.
"Sudah selesai?" Tanya Diandra.
Keisya menangguk.
"Sudah mas." Jawabnya tersenyum.
Diandra duduk di samping istri nya, lalu mengehela nafas cukup dalam.
"Kenapa?" Tanya Keisya.
Diandra menoleh pada istri nya, dan mengatakan bahwa dia meminta maaf karna dia belum bisa menjadi imam yang baik bagi istri nya itu.
Diandra sadar, tidak pernah sekali pun selama ini mereka melaksanakan ibadah shalat berjamaah.
"Terimakasih sudah mau sabar padaku" Diandra memeluk istri nya itu.
Waktu menjelang maghrib.
Keisya dan nenek mengobrol di dapur sambil membuat masakan untuk makan malam mereka bersama.
Terdengar suara adzan maghrib berkumandang.
Keisya dan nenek menghentikan aktivitas nya, dan duduk di meja makan.
"Nenek ambil wudhu duluan ya" Ucap Nenek.
Keisya tersenyum.
"Iya nek, silahkan" Jawabnya.
Beberapa saat kemudian.
Nenek telah selesai wudhu, begitupun dengan Keisya.
Keisya membuka pintu kamar.
Baru saja memasuki kamar, Keisya tersentak kaget dengan pemandangan di depan nya.
"Mas.." Gumam nya.
Diandra yang sedang berdiri di depan cermin membalikan badan nya, sambil tersenyum pada istri nya.
Keisya terdiam mematung, tidak melepaskan pandangan nya.
"Hey.." Diandra melambaikan tangan nya.
Keisya tersentak.
"Ya allah ganteng banget suami hamba" Gumam nya pelan, namun masih bisa terdengar oleh Diandra.
Diandra sedikit salah tingkah dengan pujian dari istri nya itu.
Saat ini, Diandra memakai sebuah baju koko lengkap dengan sarung dan kopiah di kepala nya.
"Aku shalat di mesjid ya" Ujar Diandra lalu berjalan keluar kamar.
Tunggu! Aku ikut" Ucap Keisya berjalan menyusul suami nya.
Mesjid terletak tidak begitu jauh dari rumah nya ini.
Tidak butuh waktu lama bagi nya dan suami sampai di mesjid.
Dari pertama keluar rumah, hingga mereka berdua sampai kedalam mesjid. Cukup banyak sekali pandangan mata melirik mereka berdua.
Hingga ada beberapa orang yang terang terangan menyapa pada nya dan suami nya.
__ADS_1
Mengatakan bahwa mereka berdua terlihat sangat serasi.