He Is Mine

He Is Mine
Eps 88


__ADS_3

Diandra duduk di kursi ruangan nya, dengan sebelah tangan berada di atas keyboard laptop Diandra memijit pelan pelipis nya dengan tangan sebelah nya.


"Hai sayang.." Tiba tiba sapa Rayna yang datang penuh dengan senyuman.


Diandra berdiri dan memaksakan sebuah senyuman.


"Kenapa tidak memberi kabar terlebih dahulu?" Tanya Diandra.


"Memang nya kenapa, apa aku tidak boleh mengantarkan makan siang untuk calon suami ku?" Ujar Rayna.


Diandra menggelengkan kepala nya.


Tidak ingin memperpanjang lagi obrolan, Diandra mempersilahkan kekasih nya tersebut untuk duduk di sofa.


"Ini aku bawa makan siang untuk kamu, supaya kamu tidak membeli dari luar." Rayna menyerahkan tupperware yang di bawanya.


Diandra mengambil bekal dari Rayna, sambil berpura pura antusias Diandra membuka


bekal tersebut.


"Wah terima kasih ya sayang, kamu perhatian sekali." Ujar Diandra.


Pipi Rayna bersemu merah mendengar kata kata manis dari Diandra.


"Sayang, kapan kamu cuti? Kita harus segera memilih gaun pengantin." Kata Rayna.


Diandra tidak menggubris pertanyaan dari Rayna, dirinya masih tersenyum senyum sendiri menatap sebuah bekal di hadapan nya.


Dalam lamunan nya Diandra kembali teringat bagaimana perhatian nya seorang Keisya yang tidak pernah lupa membuatkan bekal untuk dirinya, dengan berbagai buah buahan dan sayuran sebagai pelengkap nutrisi harian nya.


"Sayang ih." Rayna mengoyang pelan tubuh Diandra.


Diandra kaget dan menoleh.


"Eh iya sayang kenapa?" Tanya Diandra.


Rayna sedikit kesal melihat sikap dari kekasih nya, namun tidak ingin merusak suasana dengan segera Rayna mengulang kembali pertanyaan nya.


"Iya sayang, tinggal dua hari lagi pekerjaan ku akan selesai. Kamu bersabar sebentar lagi ya." Jawab Diandra.


Rayna mengangguk dengan penuh senyuman di wajah nya, dia tidak sabar untuk bisa duduk bersama di atas pelaminan dengan kekasih nya tersebut.


Hanya sebentar lagi, semua impian nya akan menjadi kenyataan.


Hari mejelang siang.


Rayna telah pulang, di waktu yang telah memasuki makan siang Diandra membuka bekal yang di buatkan oleh Rayna.


Sebelum mulai makan, Diandra tiba tiba saja teringat pada Keisya.

__ADS_1


"Sedang apa dia sekarang, apakah dia sudah makan." Batin nya.


Dengan keberanian yang entah muncul darimana, Diandra membuka ponsel nya dan mengirim kan sebuah pesan pada istri nya.


Selesai mengirimkan pesan, Diandra menyimpan kembali ponsel nya.


Dan hal yang tidak dia sangka terjadi, tidak butuh waktu lama.


Ponsel nya berbunyi dan memperlihatkan sebuah notifikasi disana, yang berupa sebuah pesan dari Keisya.


Dengan perasaan bahagia, Diandra membaca pesan dari istri nya tersebut.


"Aku sudah makan, tidak usah mengkhawatirkan aku." Isi pesan Keisya.


Diandra menggelengkan kepala nya, lalu melanjutkan acara makan siang nya kembali.


Selesai makan siang, Diandra kembali membuka ponsel nya mengirimkan sebuah pesan kepada Anya.


Diandra harus bertemu kembali dengan Anya, di sisa waktu yang telah mepet Diandra masih mencoba mencari jalan keluar yang lain.


Setelah mendapatkan pesan balasan dari Anya, Diandra memanggil Desi untuk masuk kedalam ruangan nya.


"Permisi pak, bapak memanggil saya?" Tanya Desi.


"Iya, silahkan duduk." Ujar Diandra.


Dengan sebuah senyuman tulus Desi menganggukan kepala nya, bersedia dan menyanggupi perintah dari bos nya tersebut.


"Baiklah, terimakasih Desi. Saya pergi dulu." Diandra langsung mengambil kunci mobil nya dan pergi dari kantor.


***


"Tinggal berapa hari lagi kamu melaksanakan pernikahan mu?" Tanya Anya.


"Seperti nya sebentar lagi, apa kamu ada rencana agar aku bisa terlepas dari pernikahan ini?" Tanya Diandra dengan nada bercanda.


Anya tersenyum sambil menggelengkan kepala nya.


Ternyata sahabatnya itu masih belum menyerah untuk mencari jalan lain untuk menyelesaikan masalah ini.


"Sudah lah, jalani saja semua nya." Ujar Anya.


Diandra terkekeh sambil mengatakan bahwa dirinya hanya bercanda saja, hanya sekedar menghibur diri sendiri yang terjebak dengan permainan nya sendiri.


Kedua nya berlanjut mengobrol, hingga tidak terasa waktu telah sore.


"Ah seperti nya aku harus pulang, aku mengantuk sekali." Ucap Diandra sambil berdiri.


Anya mengangguk, mempersilahkan sahabatnya itu untuk pulang dan beristirahat.

__ADS_1


Dengan sesekali menguap, Diandra berjalan memasuki mobil nya.


Diandra ingin segera sampai di rumah, karna matanya sudah tidak bisa di ajak untuk berkompromi.


Selalu saja menguap, dan sesekali mata nya tertutup.


Dengan kecepatan sedang, Diandra mulai menyusuri padat nya jalan raya tengah kota.


"Ya ampun macet." Gerutu nya, melihat jalanan di padati oleh kendaraan yang pasti nya juga pulang bekerja.


Diandra terus terusan menguap, hingga sesekali dirinya hampir saja tertidur.


Dengan sisa sisa kekuatan nya, Diandra melanjutkan perjalanan pulang nya.


Hingga sebuah kejadian yang tidak di inginkan oleh nya terjadi, secara tidak sengaja Diandra menutup matanya untuk beberapa detik dan menyebabkan dirinya hilang kesadaran hingga tidak sengaja menginjak pedal gas lebih dalam.


Dalam padat nya jalan raya, Diandra mengalami sebuah kecelakaan.


Mobil nya yang hilang kendali menabrak mobil di depan nya, dan Diandra yang kaget karna benturan itu terbangun dan tidak menyadari bahwa pedal gas telah ia tekan hingga full.


Diandra yang membanting stir harus mengalami kecelakaan yang cukup parah.


Beberapa orang yang berada di sekitar tempat kejadian langsung berhamburan untuk membantu nya keluar dari mobil.


"Tunggu pak, kaki saya tidak bisa di gerakan." Diandra meringis kesakitan.


Mobil sports yang di kendarai oleh nya menambrak sebuah mobil box dari belakang dengan kecepatan tinggi, hingga menyebabkan kaki nya terjepit oleh bagian depan mobil nya yang rusak parah.


Untung saja, saat di bantu oleh warga. Diandra masih sadarkan diri, meskipun pelipisnya sendiri telah berlumuran darah.


Cukup lama warga berserta polisi yang datang ketempat kejadian mencoba untuk mengeluarkan tubuh nya dari dalam mobil.


hingga dia tidak sadarkan diri.


***


Sedari tadi, sejak selesai melaksanakan shalat ashar entah kenapa perasaan Keisya terasa sangat gusar.


Perasaan nya begitu tidak menentu, ada sesuatu yang dia cemaskan dan khawatirkan, namun apa itu Keisya tidak mengetahui nya.


"Ya allah, sedaritadi aku merasa tidak enak hati. Ada apa sebenarnya." Gumamnya sambil duduk di halaman rumah dengan secangkir teh hangat di tangan nya.


Tiba tiba, Nenek keluar dan memberitahu Keisya bahwa ponsel nya yang di tinggal di kamar sedaritadi terus terus berbunyi.


Keisya beranjak dan masuk kedalam kamar.


Benar saja, saat sampai di kamar Keisya mendapatkan banyak sekali panggilan tidak terjawab dari Ibu mertua nya.


Saat Keisya hendak mencoba menelpon balik, ponsel nya kembali berbunyi. Dengan cepat Keisya menjawab panggilan dari Ibu mertua nya itu.

__ADS_1


__ADS_2