
Dalam perjalanan dari danau, Keisya dan mendapatkan kabar yang tidak baik dari sahabat nya Zia di kampung.
Zia memberi kabar bahwa Kakek jatuh sakit, dan saat ini sedang di rawat di sebuah klinik yang tidak terlalu jauh dari rumah nya di kampung sana.
Diandra dan Keisya kini dalam perjalanan menuju ke kampung halaman nya, tidak pulang ke rumah terlebih dahulu.
"Astagfirullah.." Keisya terus menerus beristigfar selama dalam perjalanan.
Dirinya benar benar merasa cemas saat ini.
Diandra menoleh sejenak dan mengusap punggung tangan istri nya tersebut.
"Sabar sayang, Kakek pasti tidak apa apa dan kalau perlu nanti kita bawa Kakek ke rumah sakit besar supaya dapat penanganan yang lebih baik." Diandra mencoba memberi ketenangan pada istri nya itu.
Keisya mengangguk dan mengucapkan terimakasih pada suami nya tersebut.
Namun dirinya tetap merasa cemas, dan ingin segera sampai untuk melihat bagaimana kondisi Kakek nya.
"Kita langsung ke klinik saja mas, ini Zia memberi lokasi nya." Keisya memperlihatkan layar ponsel nya.
Diandra menepi sejenak, untuk melihat arah tujuan nya.
***
"Asalamualaikum." Keisya dan Diandra baru saja sampai.
Nenek dan Zia menjawab salam darinya bersamaan.
"Nek, bagaimana keadaan Kakek?" Tanya Keisya.
Nenek menjelaskan bagaimana keadaan Kakek saat ini, dan kondisi Kakek saat ini benar benar lemah.
"Ya allah." Keisya menutup mulut nya dengan air mata yang tidak berhenti mengalir sedari tadi.
Kondisi Kakek saat ini lumayan parah, beliau terjatuh saat sedang menuju ke sawah dan di temukan oleh warga yang sama sama akan pergi ke sawah juga.
Dokter memperkirakan bahwa Kakek kelelahan dan kurang istirahat, hingga memicu serangan jantung.
"Kamu sabar sayang." Diandra memeluk istri nya.
"Tunggu sebentar, aku akan meminta dokter untuk memindahkan Kakek ke rumah sakit." Diandra melepas pelukan nya dan keluar dari ruangan.
Keisya duduk di sebelah Kakek yang terbaring lemah, Zia dan Nenek mengusap lembut punggung Keisya.
"Sabar, kita do'akan semoga Kakek lekas sembuh." Ucap Zia.
Keisya mengangguk.
Waktu berlalu cukup lama, Diandra masuk kembali kedalam ruangan dengan seorang dokter dan beberapa perawat.
"Mas.." Ucap Keisya.
"Kita bawa Kakek ke rumah sakit sayang." Ucap Diandra.
Perawat dan dokter mendorong brangkar Kakek menuju mobil ambulan, dan pergi menuju rumah sakit.
"Nek, sebaik nya Nenek istirahat saja di rumah." Ujar Diandra.
__ADS_1
"Biarkan saya dan Keisya yang mendampingi Kakek." Lanjutnya.
Keisya menyetujui suami nya, memang lebih baik Nenek saat ini pulang dan tidak ikut menuju rumah sakit.
Selain hari yang sudah malam, Keisya juga mengkhawatirkan kesehatan sang Nenek.
"Iya Nek, kita pulang saja. Keisya jangan khawatir aku akan menemani Nenek di rumah." Timpal Zia.
Keisya memeluk sahabat nya tersebut.
"Terimakasih." Ucap Keisya.
Beberapa saat kemudian.
Diandra dan Keisya mengantarkan Nenek dan Zia terlebih dahulu ke rumah.
Tidak lama, hanya mengantarkan mereka pulang saja Keisya dan Diandra kembali ke dalam mobil untuk langsung menuju rumah sakit.
***
"Suster, pasien atas nama Ruslan dimana?" Tanya Keisya.
Keisya dan Diandra baru saja sampai di rumah sakit, setelah mendapatkan informasi tentang kamar sang Kakek Keisya dan Diandra langsung menuju ruangan.
Sampai nya dalam ruangan ada seorang dokter dan dua perawat yang sedang memeriksa Kakek nya.
Keisya dan Diandra menunggu sejenak.
"Bagaimana dok?" Tanya Keisya.
Kembali, air mata Keisya mengucur dengan deras nya mendengar penjelasan tersebut.
Tidak pernah terbayangkan oleh dirinya jika sampai sang Kakek pergi meninggalkan dirinya untuk selama lama nya.
Walaupun Keisya tahu, sejati nya semua mahluk hidup akan mengalami kematian.
Keisya dan Diandra masuk kedalam ruangan ICU, dimana sang Kakek sedang di rawat saat ini.
Keisya memegang tangan Kakek dan mencium nya, tidak henti nya Keisya memanjatkan do'a kepada sang maha kuasa untuk kesehatan Kakek.
Diandra melirik jam di ponsel nya, waktu sudah larut malam.
"Sayang, kamu tunggu sebentar ya aku mau cari makan dulu." Ucap nya.
Keisya mengangguk.
Diandra berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
"Pa, restoran dekat sini sebelah mana ya?" Tanya nya pada security.
Setelah mendapatkan lokasi restoran terdekat, Diandra berjalan kaki menuju restoran tersebut dan memesan beberapa jenis makanan untuk dirinya dan sang istri.
Setelah membeli makanan, Diandra buru buru berjalan kembali menuju rumah sakit tidak ingin berlama lama meninggalkan istri nya sendirian.
"Sayang, ayo kita makan dulu." Ajak Diandra.
Keisya melirik suami nya, dan memaksakan sebuah senyuman.
__ADS_1
"Aku tidak lapar mas." Jawab nya pelan.
Diandra menghampiri istri nya itu, dan mengusap lembut punggung nya.
"Jangan seperti itu sayang, kamu sedang mengandung ingat anak kita.." Ujar nya.
Keisya mengusap air mata nya, lalu tersenyum.
Senyum yang tulus tanpa memaksa seperti tadi.
Diandra benar, walaupun Keisya saat ini sedang bersedih dan kehilangan selera makan nya karna kondisi sang Kakek namun Keisya harus tetap makan untuk kesehatan kandungan nya juga.
Selesai makan, Keisya meminta suami nya untuk menemani nya menuju mushola karna dia belum melaksanakan shalat isya.
Diandra dan Keisya berjalan menuju mushola rumah sakit, dan melaksanan shalat isya berjamaah.
"Mas, aku ingin mengaji sebentar." Ucap Keisya.
"Iya sayang, aku temenin." Diandra tersenyum.
Keisya mengambil satu al qur'an yang tersedia disana dan mulai melantunkan ayat ayat suci al qur'an.
Diandra diam, memperhatikan dan mendengarkan setiap lantunan ayat ayat suci yang sedang di baca oleh istri nya itu.
10 menit berlalu, Keisya dan Diandra kembali menuju ruangan ICU.
"Sayang kamu tidur di sofa ya, aku yang akan jaga Kakek." Ucap Diandra.
"Tidak mas, aku ingin menemani Kakek." Jawab Keisya.
Diandra mengerti akan mecemasan istri nya itu, apalagi mengingat kondisi Kakek yang sekarang masih belum sadarkan diri pasti lah Keisya merasa cemas.
"Sayang, ingat anak kita." Kembali Diandra harus mengingatkan istri nya perihal tersebut supaya Keisya mau istirahat.
Keisya terdiam.
"Gapapa, nanti kalau Kakek sudah siuman aku bangunin kamu." Diandra memegang punggung tangan Keisya.
Mendengar itu akhirnya Keisya mau beristirahat dan tidur.
Adzan shubuh berkumandang.
Keisya membuka mata nya, terlihat suami nya itu masih duduk di kursi sebelah sang Kakek.
"Mas.." Ucap nya dengan suara parau.
Diandra menoleh.
"Kenapa sayang?" Tanya Diandra tersenyum.
"Mas tidak tidur?" Tanya Keisya.
Diandra menggelengkan kepala nya, dia benar benar menepati omongan nya untuk menjaga Kakek.
Beberapa saat kemudian.
Keisya beranjak dari sofa dan izin sebentar kepada suami nya untuk melaksanakan shalat shubuh sebentar.
__ADS_1