He Is Mine

He Is Mine
Eps 83


__ADS_3

"Mah, Pah. Jangan tinggalin Keisya sendirian, Keisya tidak ingin jauh dari kalian berdua Keisya ingin bersama dengan kalian."


Dengan kondisi demam yang tinggi, Keisya tidak berhenti meracau dan mengigau sedari semalam.


Dalam racauan nya, Keisya selalu menyebut nama Ayah dan Ibu nya, dan meminta untuk tidak meninggalkan dirinya sendirian lagi.


Zia yang duduk di sebelah tempat tidur Keisya menutup mulut nya, Zia benar benar merasa sedih dan prihatin dengan apa yang menimpa sahabatnya nya saat ini.


"Kei, bangun.." Panggil Zia mengusap punggung tangan Keisya.


Terlihat dari pelipis Keisya, keringat terus saja bercucuran.


Setelah selesai di periksa oleh dokter tadi, Keisya masih belum di izinkan untuk pindah ruangan karna demam nya yang masih tinggi dan Keisya juga harus memakai dua infusan.


Mengingat kondisi dirinya yang sedang mengadung membuat dokter cukup teliti dan berhati hati dalam setiap tindakan yang di ambil, untuk memastikan bahwa kondisi sang bayi juga dalam kondisi baik dan sehat.


"Boleh aku menemani istri ku disini?" Tanya Diandra.


Zia menoleh dan kembali memberikan tatapan tajam pada Diandra.


"Duduklah." Jawab Zia datar.


Waktu telah siang.


Keisya belum kunjung siuman sampai saat ini, meskipun sudah terlihat kondisi nya yang sedikit membaik dengan panas yang turun dan sudah tidak mengigau lagi.


"Aku akan membeli makan siang kedepan, tunggu sebentar." Diandra berdiri dan keluar dari ruangan.


Diandra berjalan dengan lemas, rasanya dia sendiri tidak sanggup untuk menopang tubuh nya sendiri.


"Andra.." Panggil Ibu.


Diandra mengangkat kepala nya, dan melihat Ibu dan Ayah nya kini telah berdiri di hadapan nya.


"Ibu, Ayah." Ucap Diandra.


"Mau kemana kamu?" Tanya Ayah.


Diandra mengucapkan pada kedua orangtua nya bahwa dia akan membeli makan siang, untuk diri nya dan Zia yang telah rela menemani istri nya semalaman hingga saat ini.


Setelah sampai di restoran dan memesan makanan, Diandra duduk di salah satu meja sambil menopang dagu nya.


"Ya allah, tolong sembuhkan istri ku, dan calon anak ku. Rasanya sakit sekali melihat nya berbaring di atas tempat tidur itu." Batin Diandra.


Cukup lama Diandra melamun, hingga dirinya di sadarkan oleh seorang waiters yang datang membawa pesanan milik nya.


"Kembali nya ambil saja, makasih." Diandra berjalan kembali menuju rumah sakit.


Di lorong rumah sakit, samar sama Diandra melihat ada seseorang berdiri jauh di depan nya.

__ADS_1


Entah kenapa, orang itu memang seperti sedang menunggu nya.


Hingga Diandra semakin mendekat, dan dapat mengetahui orang itu yang ternyata Zia.


"Ada apa?" Tanya Diandra.


"Keisya sudah sadar." Jawab Zia.


Mendengar itu, raut wajah Diandra yang sedari tadi murung menjadi ceria, dia tersenyum dan mencapkan alhamdulillah dengan siuman nya sang istri.


"Tunggu sebentar!" Zia menghalangi langkah Diandra yang ingin segera masuk kedalam ruangan istri nya.


"Aku tidak tahu permasalahan apa yang sedang kalian hadapi, tapi aku yakin disini posisi nya pasti Keisya tidak salah dan sudah


pasti bang Andra yang salah." Ucap Zia.


Diandra terdiam, dia siap menerima semua apapun yang akan di katakan oleh Zia.


"Bang, jika berita perselingkuhan kamu benar. Kamu jangan berharap lebih untuk mendapatkan Keisya kembali, aku akan menjadi orang pertama yang akan menghalangi mu membawa Keisya kembali." Jelas Zia sambil berlalu.


Beberapa saat kemudian, Diandra telah sampai di depan pintu ruangan ICU tempat dimana istri nya di rawat.


Dengan ragu ragu, Diandra mencoba membuka pintu.


Entah kenapa kali ini dirinya merasa tidak siap untuk bertemu dengan istri nya tersebut.


Apalagi mengingat semua perkataan Zia semakin membuat dirinya merasa bersalah, karna apa yang di katakan oleh Zia memang benar, dirinya lah yang salah dan semua letak kesalahan ada padanya.


"Kei.." Gumam nya pelan, saat melihat Keisya tengah terduduk di temani oleh Ibu.


Keisya yang melihat kedatangan Diandra tiba tiba saja senyum nya pudar dan hilang.


Senyum yang baru saja Diandra liat di wajah Keisya yang terdengar sedang mengobrol dengan Ibu itu tiba tiba saja hilang dengan datang nya dirinya.


"Duduk lah, Ibu akan keluar sebentar." Ucap Ibu seolah mengerti dengan keadaan saat ini.


Keisya kembali berbaring, dan memunggungi suami tersebut.


"Kei.." Panggil Diandra pelan.


Keisya tidak merespon.


"Maafkan aku, aku salah. Aku sangat bersalah atas semua ini, tapi aku melakukan semua nya sebelum aku menyadari bahwa aku mencintai mu." Ujar Diandra.


"Aku menyesal, aku benar benar menyesal tolong maafkan aku." Ucap Diandra bersungguh sungguh.


Diandra menundukan kepala nya, hingga tiba tiba terasa ada sebuah getaran dari badan Keisya.


Diandra kembali mengangkat kepala nya, dia tahu bahwa saat ini istri nya itu tengah menangis.

__ADS_1


"Tolong jangan menangis, aku tidak sanggup melihat keadaan mu seperti ini." Ucap Diandra.


"Pergi." Ucap Keisya pelan.


"Aku gamau bertemu mas lagi, tidak apa. Biarlah aku membesarkan anak ini sendirian, menikah lah dengan perempuan yang kamu cintai itu." Jelas Keisya dengan punggung yang semakin bergetar.


"Tidak sayang tidak, aku tidak mau, aku tidak akan meninggalkan mu dan kamu jangan meninggalkan aku. Aku tidak ingin hidup tanpamu." Diandra mulai menangis.


Keisya menarik selimut, dan menutupi seluruh tubuh nya.


Di balik selimut itu, Keisya menangis.


Walaupun telah berusaha keras untuk menahan tangis nya, namun Keisya kalah.


Rasa sakit dalam hati nya benar benar tidak dapat dia sembunyikan lagi.


Rasanya dunia nya benar benar terasa hancur lebur, tidak ada yang dapat di pertahankan kembali dan semua nya telah selesai.


"Ya allah, tabah kan lah hati ku." Batin Keisya.


Sore tiba.


Keisya membuka matanya.


Setelah menangia tadi, dirinya tidak sadar bahwa dia kembali tertidur tadi.


Keisya memegangi pelipis nya yang terasa pusing.


"Ya allah.." Gumam nya sambil meringis.


"Kenapa sayang, apa yang sakit." Ucap Diandra cepat.


Keisya melirik sebentar, dan baru menyadari bahwa suami nya itu masih berada di tempat yang sama sedari tadi.


"Lepas." Ucap Keisya saat tangan Diandra menyentuh tangan nya.


Keisya berusaha untuk duduk, dan menyandarkan tubuh nya.


"Kamu makan sayang? Atau minum?" Tawar Diandra.


"Mas, berhentilah bersikap manis seperti itu. Karna sikap manis mu selama ini, aku jadi seperti ini." Jelas Keisya.


Diandra menghela nafas nya, dan menghiraukan perkataan istri nya tersebut.


Diandra tetap mencoba menawarkan sesuatu kepada istri nya itu.


"Kamu harus makan, biar cepet sembuh. Kalau kamu sudah sembuh kita bisa pulang." Ucap Diandra sambil mentodorkan semangkuk bubur.


"Kita?" Keisya menoleh dengan cepat.

__ADS_1


Keisya berbicara kembali kepada Diandra bahwa di antara dia dan dirinya kini telah tiada kata kita, bagi Keisya semua telah selesai di saat pengkhiatan Diandra lakukan.


__ADS_2