He Is Mine

He Is Mine
Eps 93


__ADS_3

Keisya dan Anya berjalan bersama menuju kantin. Karna hari sudah sore, Keisya dan Anya akan makan bersama sama di kantin.


Walaupun baru bertemu dalam waktu yang sangat singkat. Ternyata Keisya dan Anya mampu menemukan kecocokan satu sama lain. Dalam waktu yang singkat tersebut kedua nya kini menjadi akrab.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Anya.


"Mungkin aku pesan bakso saja, liat perempuan sebelah sana makan bakso aku jadi ngiler." Jawab Keisya.


Anya tersenyum, Keisya yang tengah mengandung mungkin saat ini sedang mengidam.


"Kamu tunggu sebentar. Aku akan memesan terlebih dahulu." Anya berdiri dari tempat duduk nya.


Beberapa saat kemudian.


Anya kembali lagi dengan membawa pesanan mereka berdua.


"Ini pesanan ibu hamil ku." Anya tersenyum.


Keisya tersenyum mengucapkan terimakasih pada Anya.


Kedua nya mulai sibuk dengan makanan masing masing. Hingga beberapa waktu telah berlalu Anya dan Keisya kembali keluar dari kantin.


"Kamu mau langsung pulang?" Tanya Keisya.


Anya menoleh.


"Iya. Seperti nya aku harus pulang sekarang. Di kantor aku masih ada pekerjaan." Jawab Anya.


"Apa tidak sebaiknya berpamitan dulu pada mas Andra?" Tanya Keisya kembali.


Anya memperlambat langkah nya. Ingin Anya berpamitan terlebih dahulu kepada Diandra, namun pekerjaan nya di kantor tidak bisa menunggu lagi. Setelah tadi siang Anya pergi tanpa meninggalkan pesan kepada para karyawan nya.


"Aku titip pesan saja ya, maaf aku harus pulang. Tapi nanti begitu pekerjaan ku beres aku akan kesini lagi." Ujar Anya.


Keisya tersenyum.


"Iya baiklah kalau begitu, nanti aku akan sampaikan pesan kamu sama mas Andra." Jawab Keisya.


Beberapa saat kemudian Anya berpamitan terlebih dahulu kepada Keisya, dirinya harus pergi langsung menuju kantor.


Keisya berjalan masuk kedalam ruangan Diandra. Terlihat di atas tempat tidur nya Diandra sendang bermain ponsel.


"Ehmm.." Keisya berdehem.


Diandra reflek menoleh dan menyimpan ponsel nya.


"Udah sayang?" Tanya Diandra.


Keisya mengangguk.


"Ko sendiri, Anya kemana?" Tanya Diandra.


Keisya langsung menyampaikan pesan dari Anya kepada suami nya.


"Apa mas butuh sesuatu?" Tanya Keisya.


Diandra menengadahkan kepala nya, mencoba berfikir.

__ADS_1


"Seperti nya ada." Jawab Diandra pelan.


Keisya berjalan menghampiri suami nya.


"Apa?" Tanya Keisya.


"Kamu." Jawab Diandra cepat dengan senyuman manis di wajah nya.


Keisya menghela nafas sambil menggelengkan kepala nya. Sementara Diandra terkekeh kecil melihat ekspresi dari istri nya.


Beberapa saat kemudian.


Ayah dan Ibu masuk kedalam ruangan sambil mengucapkan salam.


Keisya dan Diandra kompak menjawab salam.


"Hai sayang, maaf ya Ibu baru datang." Ibu memeluk Keisya.


"Iya tidak apa bu." Jawab Keisya.


"Andra bagaimana keadaan kamu?" Tanya Ayah.


"Semakin lebih baik yah. Cuman mungkin aku tidak akan bisa berjalan dulu dalam waktu yang lama, sampai kaki ini tidak sakit lagi." Diandra menatap kembali kaki nya.


"Untuk itu tidak usah khawatir. Aku akan membantu mas, memakai kursi roda." Timpal Keisya.


Ibu dan Ayah saling melempar tatapan mendengar penuturan Keisya. Kedua nya tersenyum.


Selain kaki yang mungkin akan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa bergerak kembali, Diandra juga akan membutuhkan waktu yang lama hingga sakit di kepala nya pasca operasi bisa hilang.


Dalam beberapa hari setelah operasi, bukan Diandra tidak merasakan sakit di kepala nya. Tapi obat lah yang membantu nya menyamarkan rasa sakit itu.


"Ibu kenapa banyak sekali?" Tanya Keisya.


"Iya sayang. Ini untuk kamu. Kamu kan juga butuh nutrisi dan asupan yang sehat untuk calon bayi kamu." Jawab Ibu.


Ibu membuka beberapa buah buahan, untuk di makan oleh Keisya.


Walaupun Keisya sudah bilang kepada Ibu bahwa dirinya baru selesai makan, tapi Ibu tidak mengindahkan ucapan dari menantu nya tersebut dan tetap menyuruh Keisya untuk makan buah buahan yang telah Ibu siapkan.


"Kamu tahu. Ayah merasa sangat bersyukur kamu bisa selamat dari kecelakaan yang mengerikan itu." Ayah duduk di sebelah Diandra.


Diandra menghela nafas.


"Iya Ayah, allah masih memberi ku waktu untuk menjadi orang yang lebih baik lagi dan memperbaiki semua kesalahan ku." Jawab Diandra.


"Ayah tahu, aku sangat bersyukur memiliki Keisya." Diandra menatap istri nya yang berada tidak jauh dari nya dengan sang Ibunda.


Ayah ikut tersenyum.


***


Waktu telah malam.


Kini tinggal Ibu dan Keisya yang menemani Diandra, sedangkan Ayah malam ini pulang dan akan bergantian berjaga dengan Keisya dan Ibu besok.


"Kamu dingin ga?" Tanya Ibu.

__ADS_1


"Iya bu lumayan, ko dingin ya ga biasanya." Jawab Keisya.


"Iya lah pasti kamu merasa dingin. Orang biasa kamu aku peluk." Celetuk Diandra.


Reflek Keisya menatap suami nya, dan mencubit tangan nya.


"Aduh sakit." Ujar Diandra.


"Kamu apaan sih, ini ada Ibu loh." Keisya merasa malu.


Ibu menggelengkan kepala nya sambil tersenyum. Melihat pertengakar kecil antara putra dan menantu nya ini membuat hati Ibu bahagia.


"Kamu tidur di sofa ya, biar Ibu yang disini." Ucap Ibu.


"Tapi bu.." Ujar Keisya.


Belum sempat Keisya menyeselaikan ucapan nya, Ibu menggelengkan kepala nya. Tidak mau mendengar apapun dari Keisya dan Keisya harus tetap pergi tidur sekarang juga.


Keisya menghela nafas nya, tidak ada cara lain lagi selain mengalah. Karna tidak mungkin untuk berbicara lebih jauh lagi kepada Ibu karna Keisya merasa itu tidak sopan.


Ibu dan Diandra sama sama terdiam, menatap Keisya yang kini mulai tertidur.


"Kenapa Ibu tidak istirahat juga, ini sudah malam." Ujar Diandra.


"Ibu sudah tidur dulu tadi. Nanti Ibu juga tidur." Jawab Ibu.


Beberapa waktu berlalu.


Waktu telah hampir tengah malam. Diandra masih belum bisa memejamkan matanya.


Sedangkan Ibu dan istri nya kini telah terlelap.


"Bisa kah aku menerima kenyataan nanti saat aku tidak bersama mu lagi." Batin Diandra.


Akan begitu sangat sulit sekali rasanya jika sampai itu terjadi. Dan waktu yang terus berjalan membuat Diandra semakin cemas.


"Kenapa belum tidur?" Tiba tiba tanya Keisya.


"Eh, tidak apa apa. Belum mengantuk aja." Jawab Diandra.


"Mustahil. Seharus nya efek dari obat yang mas minum bisa membuat mas mengantuk." Ujar Keisya.


"Apa ada yang mas butuhkan saat ini?" Tanya Keisya.


Diandra tersenyum sambil menggelengkan kepala nya.


"Tidak ada sayang. Tidak ada yang aku butuhkan selain kamu." Diandra cengengesan.


Kini giliran Keisya yang menggelengkan kepala nya. Dengan pipi yang bersemu merah.


"gombalan lelaki." Gumam Keisya.


Keisya duduk di sebelah tempat tidur kembali.


"Kenapa ga tidur lagi?" Tanya Diandra.


"Nanti saja. Mas tahu, aku merasa lapar lagi.." Ujar Keisya.

__ADS_1


"Kamu lapar, mau aku pesankan makanan?" Tanya Diandra sambil membuka ponsel nya.


Keisya menjawab pertanyaan suami nya, untuk tidak memesankan makanan. Karna makanan yang di bawa Ibu masih sangat banyak tersimpan di atas meja.


__ADS_2