
Diandra mengunci dirinya sendiri di dalam kamar. Sengaja ia melakukan itu untuk terlepas dari Rayna selama beberapa saat.
Diandra benar-benar di buat emosi oleh Rayna, yang terus saja meminta Diandra untuk segera menceraikan Keisya karna mereka berdua akan segera menikah.
"Tidak. Aku tidak akan pernah menceraikan Keisya.." Gumam nya sambil memijat pelan kening nya.
Sementara di luar kamar Rayna terus mengetuk pintu, meminta Diandra untuk membuka kunci dan membiarkan nya masuk kedalam.
"Pulang lah! Aku tidak ingin bersamamu!" Teriak Diandra.
Rayna tidak menghiraukan nya, dia tetap mengetuk pintu. Dan itu membuat Diandra bertambah emosi pada Rayna.
Kembali, Diandra berteriak dan mengatakan kepada Rayna untuk pulang.
"Tidak! Aku tidak akan pulang!" Jawab Rayna setengah teriak dari luar.
Karna Rayna terus saja mengetuk pintu tanpa henti, akhirnya Diandra dengan terpaksa harus membuka pintu karna merasa ketukan di pintu yang Rayna lakukan itu menganggu nya.
Setelah membuka kunci, Diandra langsung berbalik badan dan mencoba untuk berbaring di tempat tidur nya. Dia menghiraukan Rayna yang baru saja masuk.
"Sayang.. Kamu kenapa seperti ini sama aku.." Kata Rayna.
Diandra mengacuhkan pertanyaan Rayna, dan menutup seluruh badan nya dengan selimut.
Merasa di acuhkan, Rayna terpancing emosi.
"Apa sih yang membuat kamu tidak bisa menceraikan perempuan kampung itu! Apa istimewa nya dia." Ucap Rayna.
Diandra kembali membuka selimut nya, dia menatap Rayna dengan tatapan yang tajam kemudian mengatakan kepada Rayna bahwa Keisya lebih baik daripada dirinya dalam semua hal. Dan Diandra tidak berniat bercerai dengan Keisya.
"Tolong tinggalkan aku sendirian, aku ingin istirahat." Pinta Diandra dengan datar.
Dengan cepat Rayna menggelengkan kepala nya, karna calon suami nya itu sama sekali belum makan sedari pagi. Setelah jalan jalan pagi tadi bersama, Diandra langsung masuk kedalam kamar nya dan mengunci pintu begitu Rayna belum sempat masuk.
Rayna terus menerus mencoba untuk membujuk Diandra supaya dia mau makan dan meminum obat nya. Namun Diandra bersikeras bahwa dia tidak merasa lapar dan tidak ingin makan.
***
Keisya dan Zia baru saja sampai di rumah baru yang akan menjadi tempat tinggal nya nanti.
Kedua nya terkagum kagum dengan rumah yang di belikan oleh Anya padanya. Rumah yang lumayan besar dengan ada fasilitas kolam renang pribadi dan tempat gym.
__ADS_1
"Apa ini tidak terlalu berlebihan?" Tanya Keisya merasa tidak enak.
Anya menggelengkan kepala nya. Untuk Anya, apa yang dia berikan kepada Keisya ini bukanlah suatu hal yang merepotkan nya.
"Tidak, ini semua pantas kamu dapatkan." Jawab Anya.
Setelah ketiga nya berkeliling, Anya meminta Keisya dan Zia untuk mengikuti nya.
Anya masuk kedalam garasi, dan menyalakan lampu di garasi. Ketika lampu di nyalakan terlihat sebuah mobil jenis matic yang terparkir disana.
"Ini mobil untuk kamu, dan ini kunci nya." Anya memberikan kunci mobil pada Keisya.
Kini Keisya semakin di buat merasa tidak enak hati dengan apa yang telah Anya berikan padanya saat ini. Harga mobil dan rumah ini pastilah tidak murah, bagaimana cara Keisya membalas semua kebaikan Anya padanya.
Setelah memberikan kunci mobil, Anya mengatakan pada Keisya bahwa dia sendiri yang akan mengajarkan Keisya cara menyetir mobil.
Rumah yang di belikan oleh Anya ini terletak tidak jauh dari kantor nya, dan hanya terpisah dua blok saja dari rumah Anya.
Sengaja Anya membelikan rumah yang berada dekat dengan rumah nya sendiri dan kantor, supaya dia bisa terus memantau Keisya.
"Zia, apa kamu juga mau bekerja?" Tawar Anya.
Anya mengangguk.
"Tentu saja!" Jawab Anya.
Sengaja Anya menawarkan pekerjaan kepada Zia karna dengan adanya Zia, Keisya tidak akan tinggal sendirian di rumah baru nya. Karna ada Zia yang akan terus bersama dengan nya.
Selain itu, dimana disaat Anya sedang ada kesibukan dan tidak bisa bersama dengan Keisya. Anya tidak perlu khawatir pada Keisya karna ada Zia.
"Iya, aku mau!" Jawab Zia antusias.
Anya tersenyum, besok. Mereka bertiga baru akan pergi ke kantor dan Anya akan memperkenalkan mereka berdua sebagai asisten pribadi nya yang baru.
Pekerjaan Zia nanti di kantor hanya untuk memantau dan membantu Keisya mengurus semua laporan harian di kantor.
Waktu menjelang sore.
Ketiga nya makan bersama di rumah Anya. Sengaja Anya membawa Keisya dan Zia ke rumah nya supaya mereka berdua tahu dimana letak rumah Anya.
"Rumah kita tidak berjauhan, aku sengaja membeli rumah yang letak nya tidak jauh dari rumah ku. Supaya aku bisa terus memantau kamu.." Jelas Anya.
__ADS_1
Keisya tersenyum dan memeluk sahabat baru nya itu, dia mengucapkan banyak terimakasih atas segala kebaikan yang Anya berikan padanya.
***
Hari pertama masuk ke kantor.
Setelah di perkenalkan kepada seluruh karyawan nya, Anya membawa Keisya dan Zia untuk berkeliling. Mengenali seluruh isi kantor tempat nya akan bekerja.
"Ini aku bawakan buah buahan untuk ibu hamil.." Anya memberikan satu kotak buah buahan yang telah di potong kecil kecil oleh nya.
Keisya kembali mengucapkan terimakasih pada Anya.
Kini setelah selesai tur kantor. Ketiga nya masuk kedalam ruangan Anya, ruangan yang luas dan paling luas di kantor nya ini. Wajar saja, karna dia lah pemilik perusahaan ini.
Ketiga nya sarapan bersama sama. Dan setelah sarapan, rencana nya mereka akan pulang kampung terlebih dahulu.
Selain Zia yang akan meminta izin pada kedua orangtua nya, Keisya pulang juga untuk membawa pakaian nya.
"Oh iya, nanti kita beli daster ya.." Ajak Anya.
"Buat apa?" Tanya Keisya.
Sementara Zia hanya menyimak saja.
"Untuk kamu. Aku sudah tanya pada teman ku yang sudah mempunyai anak. Dia bilang ibu hamil akan lebih nyaman dalam melakukan aktivitas apapun dengan memakai daster." Jelas Anya.
Keisya mengangguk, dia akan mengikuti semua saran dari Anya.
Tidak lama, mobil yang di kendarai oleh Anya kini telah sampai di tempat nenek Keisya. Ketiga nya turun bersama sama.
Sebelum nya, memang Keisya telah mendapatkan izin dari nenek dan kakek untuk pergi kembali ke kota setelah Anya yang mengobrol secara langsung dengan kakek dan nenek kemarin, saat Anya akan menjemput Keisya ke kota.
Sebelum mengemas semua pakaian nya, Keisya dan Anya ke rumah Zia terlebih dahulu. Untuk meminta izin dari orangtua Zia, sekalian mengemas pakaian Zia juga.
Tidak lama, setelah mendapatkan izin. Zia mulai mengemas pakaian nya dan berpamitan kepada kedua orangtua nya.
Ketiga nya kembali masuk kedalam mobil setelah semua perlengkapan yang mereka butuhkan telah lengkap.
"Kalian siap?" Tanya Anya.
Keisya dan Zia mengangguk, dan Anya mulai melajukan mobil nya.
__ADS_1