
Dua hari kini telah berlalu sejak mereka datang ke rumah Nenek, dan hari ini Diandra beserta Keisya dalam perjalanan pulang.
Rencana berlibur selama tiga hari harus di percepat kembali, dengan sangat terpaksa Diandra harus cepat cepat kembali ke kota.
"Mas, kenapa terlihat begitu cemas?" Tanya Keisya.
Diandra menoleh sebentar.
"Tidak apa apa sayang." Jawab nya kembali fokus pada kemudi.
"Apa kamu senang sayang?" Tanya Diandra tanpa mengalihkan pandangan dari jalan raya.
Keisya sedikit memiringkan badan nya, dengan sangat antusias Keisya bercerita bahwa dirinya sangat senang sekali.
Terlebih lagi di hari hari kemarin Keisya bisa pergi jalan jalan sambil belanja bersama Nenek dan Kakek, walaupun sedikit lelah karna hampir seharian berjalan namun Keisya merasa sangat bahagia.
"Terimakasih ya sayang." Keisya menggenggam tangan suami nya.
Diandra hanya menganggukan kepala nya sebagai jawaban.
Lama perjalanan tidak terasa, kini mereka sudah hampir sampai ke rumah.
Diandra memperlambat laju mobil nya, dan berhenti di sebuah restoran untuk makan
terlebih dahulu.
"Kita makan dulu sayang." Ucap Diandra sambil melepas seatbelt nya.
"Kita tidak makan di rumah saja mas? Padahal tidak apa apa aku akan masak." Ujar Keisya.
Diandra menatap Keisya, dan mengatakan tidak mungkin dirinya akan membiarkan Keisya memasak setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh.
***
"Sayang sore ini aku harus keluar sebentar." Ucap Diandra ketika sampai di rumah.
Keisya menoleh.
"Iya sayang, hati hati di jalan." Hanya itu yang Keisya ucapkan, dan seperti biasanya tidak bertanya tentang ada urusan apa dan kepentingan apa yang membuat suami nya itu harus pergi keluar.
Diandra merebahkan badan nya di atas sofa, memejamkan mata nya sebentar untuk melepas rasa lelah.
Keisya yang baru saja kembali dari dapur tersenyum menatap sang suami yang ternyata telah tertidur.
Ingin rasanya Keisya membangunkan suami nya tersebut, dan menyuruh nya untuk tidur di kamar. Namun Keisya mengurungkan niat nya dan membiarkan suami nya tidur di sofa.
Keisya berjalan menaiki tangga menuju kamar, dia akan mengambilkan selimut untuk suami nya.
Dalam kamar, Keisya bercermin sebentar sambil memegangi perut nya.
"Ya allah, aku masih tidak menyangka bahwa sekarang aku sedang mengandung dan akan menjadi seorang ibu. Terimakasih atas nikmat yang engkau berikan ya allah." Gumam nya.
__ADS_1
Keisya kembali turun menuju ruang depan, dengan membawa satu selimut di tangan nya.
Baru saja Keisya sampai di hadapan suami nya, terlihat ponsel suami nya tersebut berdering.
Keisya menatap layar ponsel suami nya, yang memperlihatkan ada panggilan masuk dari seseorang yang bernama Rayna.
Selama beberapa saat Keisya terdiam, merasa bingung harus berbuat apa.
Ingin Keisya menjawab panggilan tersebut dan mengatakan bahwa suami nya tengah tidur saat ini, namun di sisi lain Keisya tidak berani untuk sekedar memegang ponsel suami nya itu.
Dan memang selama ini Keisya tidak pernah berani menjawab atau hanya sekedar membaca sebuah pesan yang masuk kedalam ponsel suami nya itu.
***
Waktu telah sore, Diandra membuka mata.
Berdiam diri sejenak, untuk mengumpulkan kesadaran nya kembali.
"Sayang.." Panggil Keisya menghampiri nya.
Terlihat Keisya baru saja selesai mandi, dengan rambut yang masih basah.
"Wangi sekali." Ucap Diandra kembali menutup matanya.
Keisya duduk di dekat suami nya, tanpa di duga Diandra malah menarik nya untuk ikut berbaring.
"Sayang rambut aku masih basah." Ucap Keisya.
Diandra memeluk erat Keisya, dengan sebelah tangan yang mengusap perut nya.
"Sayang.." Panggil Keisya.
"Hmm.." Jawab Diandra.
"Katanya sore ini mau keluar.." Keisya sedikit menoleh.
Diandra membuka matanya dan bertanya pukul berapa sekarang.
Keisya memberitahu suami nya bahwa sekarang sudah sore, selain itu Keisya juga memberitahu bahwa beberapa kali ada panggilan masuk pada ponsel suami nya itu.
Mendengar itu, Diandra yang masih mengusap perut Keisya diam sejenak.
"Siapa?" Tanya diandra.
"Gak tahu mas, namanya Rayna." Jawab Keisya santai.
"Apa kamu tidak menjawab panggilan nya?" Tanya Diandra mencoba untuk tetap tenang. Karna mendengar nama Rayna yang di ucapkan oleh istri nya itu membuat jantung nya berdebar cepat.
Keisya menggelengkan kepala nya.
"Mandi gih, nanti terlambat acara nya.." Ucap Keisya.
__ADS_1
"Iya sayang." Jawab Diandra terpaksa melepas pelukan nya.
Diandra pergi menuju kamar, dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan nya.
Sementara Keisya pergi menuju dapur, setelah menyiapkan pakaian ganti untuk suami nya. Keisya akan memasak dahulu supaya suami nya bisa makan sebelum berangkat.
Dalam kamar mandi, Diandra menatap pantulan diri nya dari cermin.
Sambil menghembuskan nafas secara kasar, Diandra menutup mata nya.
"Sukurlah kamh tidak menjawab panggilan tadi, jika sampai kamu menjawab nya aku tidak tahu hal apa yang akan terjadi saat ini." Gumam nya pelan.
"Aku tidak berani untuk membayangkan apa yang akan terjadi jika sampai itu terjadi, meskipun aku tahu akan terjadi hal apa." Batin nya.
Beberapa saat kemudian.
Diandra telah selesai mandi, dan berjalan menuju dapur untuk makan terlebih dahulu karna Keisya sempat memberitahu nya saat di kamar mandi bahwa dia akan memasak.
"Ayo mas.." Ujar Keisya yang sudah menunggu nya.
"Iya sayang." Diandra duduk di kursi.
Keisya mengambil satu piring, mengisi nasi dan lauk untuk suami nya terlebih dahulu.
"Mas pimpin do'a makan ya.." Ujar Keisya sambil tersenyum.
Diandra menatap istri nya tersebut, dia tahu Keisya berbicara seperti itu karna perihal Diandra yang memimpin do'a makan bersama Kakek dan Nenek waktu kemarin.
Waktu berlalu, Diandra baru saja masuk kedalam mobil nya.
Sebelum berangkat, Diandra mengirimkan sebuah pesan terlebih dahulu lalu mulai melajukan mobil nya keluar dari kawasan perumahan elite tempat dia tinggal.
Sedang fokus dengan kemudi, tiba tiba saja ponsel nya berdering.
Nama Rayna tertera di layar melakukan panggilan.
"Hallo." Diandra menjawab panggilan.
"Kenapa baru di jawab, daritadi kemana saja?" Terdengar Rayna berbicara dengan sedikit emosi.
"Tidur." Jawab Diandra acuh.
Terdengar di sebrang sana Rayna mengoceh, namun Diandra menjauhkan ponsel nya dari telinga dan lebih memilih fokus pada jalanan di depan nya.
"Sudah lah, tidak usah mengoceh seperti itu tunggu saja sebentar lagi aku sampai." Ucap Diandra lalu memutus sambungan telpon nya.
Saat ini Diandra memang akan bertemu dengan Rayna, setelah apa yang Rayna katakan pada nya kemarin Diandra mencuri curi waktu dari istri nya saat di kampung kemarin untuk menelpon Rayna.
Dalam percakapan nya waktu itu, Diandra mencoba untuk bersabar dan berbicara lemah lembut kepada kekasih nya tersebut.
Walaupun dalam keadaan emosi karna perbuatan nya yang telah membocorkan perihal masalah ini kepada Ayah, Diandra mencoba tenang dan sabar saat ini.
__ADS_1
Tidak ingin membuat Rayna bertingkah lebih jauh lagi di belakang nya.