
Diandra harus diam terpaku tatkala mendengar semua ucapan yang Rayna sampaikan kepada nya barusan.
Walaupun Diandra tahu bahwa Rayna mungkin hanya asal menebak saja tentang siapa perempuan itu, namun itu benar adanya hanya Rayna saja yang memang belum mengetahui nya.
Kedua nya terdiam beberapa saat di sofa.
"Aku tanya sekali lagi, siapa perempuan lain selain aku?" Tanya Rayna dengan tatapan tajam.
Diandra menunduk, memikirkan hal apa yang akan terjadi apabila dia memberitahu status nya yang sebenar nya.
"Aku mohon, jawab dengan jujur." Pinta Rayna dengan air mata yang bercucuran.
Diandra menghela nafas.
"Baiklah, aku akan menceritakan semua nya." Ucap Diandra.
Diandra mulai bercerita dengan ragu ragu tentang status nya saat ini, dari awal dia mengenal Keisya dalam sebuah ikatan perjodohan.
Sebuah ikatan yang mampu membuat hati nya yang beku mencair, rasa nya yang hilang kembali datang.
Dingin sikap nya berganti kehangatan, dan sikap nya yang semakin menjadi dewasa.
"Aku tidak percaya, kamu mengkhianati ku!" Rayna menutup mulut nya.
Diandra menatap Rayna dengan tajam, merasa tidak terima dengan perkataan dari nya yang mengatakan bahwa dia telah berkhianat.
"Apa maksud mu? Aku tidak pernah mengkhianati mu! Bukan kah kamu yang pergi tanpa kabar?" Diandra meluapkan emosi nya.
"Iya aku tahu! Aku minta maaf untuk hal itu, tapi tidak seharusnya kamu menikah dengan perempuan lain." Ucap Rayna.
Diandra tersenyum sinis, emosi nya telah tersulut akibat perkataan Rayna.
"Kamu tidak mempunyai hak apapun untuk mengatur hidup ku." Ucap nya tegas.
"Sudah lah, aku harus pergi. Percuma saja membicarakan hal ini dengan mu." Diandra berdiri dan pergi meninggalkan Rayna yang terdiam berlinang air mata.
***
Diandra memacu mobil nya dengan kecepatan yang tinggi, emosi benar benar telah menguasai dirinya saat ini.
"Harus nya aku tidak mengenal nya lagi." Gumam nya.
Diandra berteriak teriak sendiri sambil menyetir dalam mobil nya, beberapa kali dia memukul kemudi nya.
Emosi telah membuat nya lupa, bahwa Rayna bisa bertindak lebih jauh lagi saat ini terlebih lagi Diandra telah membuka semua rahasia nya.
Cukup lama mengemudi, Diandra berhenti di tepian danau.
Dia ingin mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri dengan melihat damai nya pemandangan di tepian danau ini.
Diandra mengalakan satu batang rokok, dan duduk bersila.
Sesekali Diandra mengacak pelan rambut nya.
"Aku benar benar menyesal." Diandra menundukan kepala nya.
Tiba tiba, ponsel nya berbunyi.
Terlihat nama istri nya di layar, Diandra buru buru menjawab panggilan.
"Asalamualaikum.." Diandra mencoba bersikap tenang.
"Waalaikumsalam, mas aku mau rujak.." Rengek Keisya.
__ADS_1
Diandra tersenyum, rengekan kecil dari istri nya itu bisa membuat nya seketika menjadi tenang.
"Iya sayang. Aku pulang sekarang, kamu tunggu sebentar ya." Jawab Diandra lembut.
Diandra menyimpan kembali ponsel nya, dan berjalan ke arah mobil.
Suara dari istri nya benar benar telah membuat nya menjadi tenang, dan lupa akan segala permasalahan nya saat ini.
Harus nya Diandra pulang saja untuk bisa mendapatkan ketenangan, bukan pergi ke danau seperti saat ini.
Karna obat dari segala luka, keluh kesah dan permasalahan nya adalah Keisya.
***
"Asalamualaikum." Diandra membuka pintu rumah.
Keisya berjalan ke arah pintu sambil menjawab salam.
Melihat wajah Keisya dengan senyum manis menyambut nya, membuat Diandra hampir saja meneteskan air mata nya.
Ingin Diandra saat ini memeluk istri nya, dan menangis dalam pelukan istri nya tersebut sambil mengucapkan kata maaf.
"Sayang.." Keisya melambaikan tangan nya di depan wajah Diandra.
Diandra tersentak.
"Eh, iya sayang. Sudah siap?" Tanya Diandra.
Keisya mengangguk.
Diandra menggengam tangan Keisya masuk kedalam mobil.
"Pengen jambu air.." Rengek Keisya dalam mobil.
"Ada sayang, pasti rasanya segar sekali di siang hari yang sedang panas seperti ini memakan rujak jambu air yang manis." Keisya tersenyum.
Diandra tersenyum, sambil menautkan tangan nya.
"Kamu boleh beli apapun yang kamu mau sayang." Ucap nya.
Keisya tersenyum senang mendengar nya.
Beberapa waktu kemudian.
Diandra dan Keisya telah sampai di taman, dimana terdapat banyak sekali pedagang kaki lima tersedia disini.
"Ayo." Keisya menarik tangan Diandra.
"Pelan pelan sayang." Ucap Diandra.
"Engga, poko nya harus secepatnya." Rengek Keisya.
Diandra kembali tersenyum, sejak hamil Keisya menjadi pribadi yang sangat manja padanya.
Keisya selalu merengek manja jika menginginkan sesuatu.
"Ini.." Keisya menunjuk jambu air yang terdapat di dalam gerobak penjual rujak.
"Oh iya ada ya, yaudah beli saja sayang." Jawab Diandra.
Keisya langsung membuat pesanan.
Tidak lama, rujak jambu air yang di inginkan oleh nya telah siap untuk di santap.
__ADS_1
Keisya mengajak Diandra untuk duduk di salah satu bangku yang tersedia di taman.
"Sayang, disini panas." Ucap Diandra.
Keisya menggelengkan kepala nya, sambil mengunyah rujak nya.
"Engga sayang, gapapa ko aku mau makan rujak nya disini." Ucap Keisya.
Diandra menghela nafas, hanya bisa pasrah saja atas segala kemauan istri nya tersebut.
"Minum." Ucap Keisya.
"Oh iya sayang, mau minum apa?" Tanya nya.
"Itu." Keisya menunjuk pedagang jus.
Keisya mengatakan pada suami nya bahwa dia ingin minum jus mangga, namun harus sedikit asam.
Diandra mengangguk, lalu menyuruh Keisya menunggu sebentar selagi dia pergi membeli minuman yang di inginkan nya.
Untunglah, saat Diandra bertanya ternyata ada mangga yang masih belum matang sempurna.
Sebelum di buat menjadi jus, Diandra mencoba sedikit potongan mangga tersebut untuk memastikan bahwa rasa dari mangga itu seperti apa yang di inginkan oleh istri nya.
"Buatkan satu ya mas." Ucap Diandra.
Diandra bergidik sambil membuang sedikit sisa mangga yang di makan nya, karna tidak kuat dengan rasa asam nya.
"Ini sayang." Diandra memberikan jus mangga pada Keisya.
"Makasih." Jawab Keisya tersenyum.
Kedua nya kembali sibuk masing masing, Keisya sibuk dengan rujak dan jus nya sedangkan Diandra sibuk dengan pikiran nya sendiri.
"Sayang, kapan cuti?" Tanya Keisya.
"Kenapa sayang?" Tanya Diandra.
"Tidak ada, aku ingin berziarah ke makam ibu dan ayah." Ucap nya pelan.
Diandra terdiam, dan baru mengingat kembali bahwa istri nya itu telah tidak mempunyai orangtua.
Bagaimana jika sampai suatu hari Keisya mengetahui hal ini, hati nya pasti akan hancur seketika dan bukan hanya itu saja Diandra juga menghancurkan kepercayaan Kakek dan Nenek yang mempercayakan Diandra untuk membahagiakan nya.
"Sayang, kenapa melamun." Keisya menguncang pelan tangan Diandra.
"Eh, iya sayang tidak apa apa." Jawab nya.
"Memangnya kamu mau nya kapan sayang?" Tanya Diandra.
Keisya menjawab jika di tanya seperti itu tentu saja dia ingin secepat nya, karna itulah cara dia melepas rasa rindu pada kedua orangtua nya.
Dengan berziarah ke makam kedua orangtua nya.
***
Asalamualaikum, mohon maaf belakangan ini jarang update karna saya sedang ada kesibukan lain.
Untuk kedepan nya, saya akan usahakan update tiga episode perhari.
Mohon dukungan nya.
Terimakasih.
__ADS_1