He Is Mine

He Is Mine
Eps 89


__ADS_3

Keisya terus menerus beristigfar dalam hati nya setelah mendapatkan kabar bahwa suami nya telah mengalami kecelakaan yang cukup parah.


Setelah mendapat kabar tersebut, Keisya langsung memesan taksi online untuk menuju ke rumah sakit.


Hari yang sudah malam tidak menggentarkan niat nya, dia tetap bersikeras ingin datang malam ini untuk melihat keadaan sang suami.


"Ibu.." Keisya berlari menghampiri Ibu.


Ibu tersenyum lalu memeluk menantu nya tersebut.


Selama beberapa saat, dalam pelukan nya Ibu menangis mencemaskan keadaan putra sulung nya yang sampai saat ini belum sadarkan diri.


"Bagaimana kondisi mas Andra bu?" Tanya Keisya cemas.


"Suami mu masih belum sadar sampai sekarang nak, benturan keras di kepala nya membuatnya kehilangan cukup banyak darah." Jelas Ibu.


Keisya menutup mulut nya, merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengar nya.


Selain itu, ada satu kabar lagi yang membuat diri nya lemas hingga tidak mampu bertumpu pada kaki nya sendiri.


Sebelah kaki Diandra patah. Karna terjepit oleh bagian depan mobil nya.


"Astagfirullah, ya allah.." Keisya duduk terkulai lemas mendengar nya.


Beberapa saat kemudian.


Rayna datang menghampiri Keisya dan Ibu yang masih menunggu hasil pemeriksaan dokter.


"Ibu, bagaimana keadaan mas Andra?" Tanya Rayna terlihat tidak kalah cemas.


Keisya diam begitu melihat Rayna kini berdiri tepat di hadapan nya, tanpa di beri tahu sekalipun Keisya sudah bisa menebak. Perempuan ini lah yang telah suami nya nodai, dan perempuan ini lah yang akan suami nya itu nikahi.


Ibu kembali menjelaskan tentang kondisi Diandra yang masih belum sadarkan diri kepada Rayna.


Rayna yang terlihat sangat cemas mencoba untuk membuka pintu ruangan, namun dengan sigap Ibu melarang kekasih putra nya tersebut.


"Dokter masih melakukan pemeriksaan, kita harus bersabar menunggu hasil nya." Ujar Ibu.


Ketiga nya duduk di kursi yang ada di luar ruangan, sambil menunggu dokter selesai memeriksa kondisi Diandra.


Hening dan canggung, tidak ada sama sekali yang berbicara. Sepatah kata pun tidak ada.


Hingga dokter akhirnya keluar dari ruangan,


ketiga nya langsung berdiri.


"Siapa keluarga pasien?" Tanya dokter.


"Saya istri nya pak."


"Saya calon istri nya pak."


Jawab Keisya dan Rayna secara bersamaan.


Kedua nya merasa terkejut, hingga saling melempar tatapan untuk beberapa saat.

__ADS_1


Dokter mengerutkan kening nya, merasa bingung dengan kedua perempuan yang ada di hadapan nya saat ini.


"Saya Ibu dari pasien dok." Timpal Ibu.


Dokter tersenyum, lalu menyuruh Ibu mengikuti nya masuk kedalam ruangan dokter untuk menyampaikan kondisi Diandra.


Setelah Ibu dan dokter pergi, suasana kembali menjadi hening.


Dari sudut mata nya Keisya mencoba mencuri pandang pada gadis di sebelah nya itu.


Dugaan nya benar, perempuan ini lah calon istri suami nya.


"Berapa bulan?" Tiba tiba tanya Rayna.


Keisya menoleh.


"Kandungan kamu." Lanjut Rayna.


Keisya tersenyum lalu mengelus pelan perut nya.


"Sudah masuk dua bulan." Jawab nya.


"Seperti nya kita hamil di waktu yang hampir bersamaan." Ucap Rayna.


"Apa kamu tahu, bahwa suami mu akan menikah denganku?" Tanya Rayna.


Keisya mengangguk.


"Kamu rela, dia menikah dengan ku?" Tanya Rayna kembali.


"Istri mana pun tidak akan pernah rela jika suami nya harus menikah lagi dengan perempuan yang lain. Tapi saya tidak mau egois, suami saya harus bertanggung jawab." Jelas Keisya.


Tidak ingin terus menerus berdekatan dengan Rayna, akhirnya Keisya masuk kedalam ruangan Diandra.


Selang oksigen, dan alat infus yang menancap di tubuh Diandra membuat Keisya sedih.


Matanya mulai berkaca kaca, merasa tidak percaya dengan keadaan suami nya yang terbaring tidak sadarkan diri.


"Mas.." Keisya menitikan air mata nya.


Perlahan Keisya berjalan, di samping brangkar Diandra Keisya duduk sambil memegangi tangan Diandra.


Keisya menatap wajah Diandra yang di penuhi bekas luka, bahkan ada beberapa luka yang cukup dalam di pelipis nya membuat kepala nya harus di perban.


"Bangun, kamu harus kuat." Keisya menundukan kepala nya, mencium punggung tangan suami nya.


Keisya mencoba menghapus air mata yang semakin lama malah semakin deras membasahi pipi nya, namun sia sia saja.


Semakin Keisya berusaha menghapus nya, semakin deras air mata itu turun dari pelupuk mata nya.


"Kei.." Panggil Ibu.


"Iya bu?" Tanya Keisya menoleh.


"Kita semua harus bersabar." Ibu tiba tiba saja

__ADS_1


memeluk Keisya.


Dalam benak nya Keisya bertanya tanya, tentang apa yang dokter katakan pada Ibu mertua nya tersebut.


"Ibu, apa yang dokter sampaikan pada Ibu?" Tanya Keisya.


Ibu menceritakan apa yang telah dokter sampaikan pada nya, kondisi Diandra lumayan parah dan di kepala nya terdapat penyumbatan. Hingga dokter menyarankan sebuah operasi.


Keisya menutup mulut nya.


"Astagfirullah." Keisya kembali menangis.


"Dokter meminta peresetujuan pada pihak keluarga untuk melakukan operasi. Tapi Ibu belum menandatangi surat pernyataan persetujuan tersebut, Ibu mau kamu lah yang


melakukan nya." Jelas Ibu.


Ibu merasa, sebagai seorang istri Keisya lebih berhak atas Diandra.


"Ibu, apa mas Andra akan baik baik saja?" Keisya memeluk Ibu.


"Kita hanya bisa berdo'a, semoga suami kamu dapat pulih seperti sedia kala." Jawab Ibu yang tentu saja juga merasakan kecemasan yang sama.


Beberapa saat kemudian.


Ibu kembali keluar dari ruangan, menyisakan Keisya sendirian yang masih mempertimbangkan keputusan.


"Ya allah, semoga operasi nya dapat berjalan dengan lancar." Keisya keluar dari ruangan setelah mendapat keputusan.


"Ibu.." Panggil Keisya.


Ibu berdiri, menghampiri Keisya.


Kedua nya berjalan menuju ruangan dokter.


***


"Ibu, dimana ayah?" Tanya Keisya.


Sedari tadi diri nya tidak melihat Ayah mertua nya tersebut.


"Ayah sedang ada tamu di rumah, kemungkinan besok pagi Ayah baru datang." Ujar Ibu.


Saat mendapatkan berita putra nya yang mengalami kecelakaan, Ayah dan Ibu di rumah memang sedang kedatangan seorang tamu penting dari salah satu partner bisnis nya.


Pembicaraan yang sudah di tengah tengah membuat Ayah merasa tidak enak untuk meninggalkan tamu nya tersebut.


Hingga akhirnya Ibu pergi sendiri ke rumah sakit, dan mengabarkan tentang kondisi Diandra pada Ayah.


"Nak, perempuan itu." Ucap Ibu.


Keisya tersenyum.


"Iya, perempuan itu perempuan yang akan di nikahi mas Andra kan bu." Jawab Keisya.


Waktu menunjukan pukul sembilan malam, karna hanya dapat satu orang saja yang berjaga. Akhirnya Keisya yang menemani Diandra, sedangkan Ibu pulanh ke rumah dan akan kembali lagi pagi pagi sekali bersama dengan Ayah.

__ADS_1


Selain itu, jadwal operasi Diandra telah di tentukan dan akan di lakukan besok di siang hari pada pukul 11.


__ADS_2