He Is Mine

He Is Mine
Eps 78


__ADS_3

"Sayang, ada yang ingin aku sampaikan." Ucap Diandra.


"Apa itu?" Tanya Keisya.


"Apa yang akan kamu lakukan jika aku berselingkuh?" Tanya Diandra pelan dan ragu ragu.


Keisya menengadahkan kepala nya.


"Tidak tahu, aku tidak terpikir sampai kesitu dan aku tidak pernah membayangkan mas selingkuh." Jawab Keisya polos.


Diandra menutup mata nya sejenak sebelum kembali berbicara.


Mungkin ini lah saat yang tepat untuk membicarakan semua nya kepada Keisya.


"Apa kamu mau tahu, siapa itu Rayna?" Tanya Diandra.


Keisya terlihat berfikir sejenak, mengingat ingat kembali nama Rayna yang baru saja di ucapan oleh suami nya.


Nama yang terdengar familiar dan tidak asing baginya.


"Rasanya aku pernah mendengar nama itu tapi dimana ya?" Tanya Keisya.


"Di ponsel ku." Jawab Diandra.


Keisya tersenyum dan membenarkan apa yang di katakan oleh Diandra, tentu saja Keisya tahu nama Rayna yang beberapa kali tidak sengaja di lihat nya melakukan panggilan pada ponsel suami nya tersebut.


"Memangnya kenapa mas?" Tanya Keisya.


Diandra memeluk Keisya dengan erat, dekapan hangat yang terasa lebih hangat dari


biasa nya.


"Maafkan aku." Ucap Diandra pelan.


Keisya terdiam, sambil memejamkan matanya Keisya meresapi rasa hangat dari pelukan suami nya tersebut.


"Aku menyesali semua perbuatan ku, aku benar benar bersalah dan aku telah mengecewakan mu. Aku mohon maafkan aku." Ucap Diandra kembali namun kali ini dengan nada yang lebih tinggi dari perkataan pertama nya.


Mendengar hal tersebut tiba tiba saja Keisya melepaskan pelukan nya dan menatap suami nya tersebut.


"Apa yang mas bicarakan? Aku tidak mengerti." Tanya Keisya.


"Aku telah berselingkuh." Ucap Diandra sambil menatap mata Keisya.


Keisya terdiam, tidak langsung bereaksi atas ucapan suami nya tersebut dan mencoba menerawang jauh kedalam bola mata suami nya tersebut. Mencoba mencari sebuah jawaban disana.


"Jangan bercanda seperti itu." Ucap Keisya pelan sambil mengusap pipi Diandra.


Diandra memegangi tangan Keisya.


"Aku tidak bercanda sayang. Aku telah berselingkuh dan saat ini aku sedang serius meminta maaf pada mu." Jelas Diandra.


Keisya beranjak dari tempat tidur.


"Aku memaafkan nya." Ucap Keisya pelan namun tetap terdengar oleh Diandra.


"Tidak hanya itu saja sayang, ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu saat ini." Diandra berdiri dan memegangi tangan Keisya.


***


Diandra mengacak acak rambut nya sendiri sambil menangis di ruang keluarga nya.


Hati nya saat ini begitu terasa sangat hancur melihat Keisya yang menangis tersedu sedu setelah dia menceritakan semua nya.

__ADS_1


Diandra telah menceritakan semua nya, di mulai dari awal pertemuan nya kembali dengan Rayna, hingga dia yang menjalin sebuah hubungan kembali.


Dan pada puncak nya pada saat Rayna hamil.


Apa yang Diandra takut kan seperti nya akan benar benar terjadi, walaupun seribu kali Diandra memohon ampun pada Keisya tapi tetap saja Keisya tidak mau memaafkan dirinya.


Tidak ada yang salah dengan hal tersebut, karna perempuan mana yang akan kuat menghandapi kondisi seperti ini.


Terlebih lagi selingkuhan nya kini sama sama tengah mengandung, sama seperti dirinya.


Tiba tiba terdengar suara pintu terbuka, terlihat Ibu dengan mata berderai airmata menghampiri nya.


"Dimana Keisya nak?" Tanya Ibu sambil menangis.


"Di kamar bu, Keisya tidak mau membuka pintu kamar." Ujar Diandra.


Setelah selesai menjelaskan semua nya, tentu saja Keisya merasa sangat sakit hati.


Namun ada sebuah keberuntungan bagi Diandra, karna Keisya sama sekali tidak menunjukan sebuah amarah.


Keisya hanya meminta Diandra untuk keluar dari kamar dan membiarkan dirinya sendiri terlebih dahulu.


Karna mengkhawatirkan kondisi istri nya, akhirnya Diandra memutuskan untuk menelpon Ayah dan Ibu untuk datang kerumah.


Dalam kamar.


Keisya terdiam melamun sambil mengusap usap perut nya.


Sekuat hati Keisya mencoba untuk tidak menangis namun percuma saja, air matanya terus saja bercucuran dengan deras nya.


"Ya allah, apa yang harus aku lakukan sekarang." Keisya menangis sesenggukan.


"Sayang ini Ibu, tolong buka pintu nya." Terdengar teriakan Ibu dari balik pintu.


"Sayang, tolong buka pintu nya biarkan Ibu masuk." Terdengar kembali suara Ibu.


Keisya menggelengkan kepala nya.


"Tidak Ibu, biarkan Keisya sendiri." Teriak Keisya.


"Jangan seperti itu sayang, jangan menyiksa diri sendiri seperti ini. Tolong maafkan Ibu dan Diandra." Terdengar Ibu menangis sesenggukan.


Keisya melihat ponsel nya, waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam.


Keisya menarik nafas sambil beristighfar.


Keisya beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi, Keisya akan mengambil air wudhu dan menunaikan ibadah shalat isya terlebih dahulu.


Beberapa saat kemudian.


Keisya telah selesai menunaikan ibadah shalat isya dan berdo'a.


Dengan mukena yang masih di kenakan nya, Keisya menatap lemari pakaian nya.


Di luar kamar.


Ibu dan Ayah masih mencoba berbicara dengan Keisya yang masih mengunci dirinya sendiri di dalam kamar.


Sudah cukup lama sejak terakhir Keisya berbicara dari dalam kamar, kini tidak ada lagi suara Keisya dari dalam dan itu benar benar membuat Ibu dan Ayah khawatir.


"Sayang, tolong jawab Ibu." Ibu mengetuk pintu kamar dengan semakin keras.


"Ayah tolong lakukan sesuatu." Pinta Ibu pada Ayah.

__ADS_1


"Iya bu, kita dobrak saja pintu nya, Ayah khawatir terjadi sesuatu pada Keisya di dalam." Ujar Ayah.


Ayah dan Ibu mundur daru depan pintu, Ayah mengambil ancang ancang untuk mulai mendobrak pintu kamar.


Namun baru saja Ayah akan berlari menuju pintu, pintu tiba tiba saja terbuka.


"Sayang." Ibu berlari menghampiri Keisya.


Ibu berhamburan memeluk Keisya.


"Maafkan Ibu sayang maafkan Ibu." Ibu memeluk Keisya sambil menangis.


Keisya hanya terdiam saja, dengan air mata yang masih saja berjatuhan dengan deras nya.


Mendengar pintu terbuka Diandra yang berada di ruang keluarga juga ikut naik ke lantai dua.


Diandra menatap istri nya dengan penuh rasa bersalah.


Keisya memalingkan pandangan nya ketika di tatap oleh Diandra.


"Kamu bawa apa ini sayang?" Tanya Ibu melihat Keisya memegangi koper.


Sontak Ayah dan Diandra yang baru menyadari hal itu langsung mendekati Keisya.


"Tidak sayang tidak! Kamu jangan pergi." Diandra mulai menangis, mencoba menahan istri nya.


"Aku tahu, mungkin kehadiran aku di hidup kamu memang secara tiba tiba dan mungkin kamu sendiri pun tidak menginginkan nya jika bukan karna Ayah dan Ibu. Namun hal ini benar benar membuat ku sakit hati." Jelas Keisya.


Ibu, Ayah dan Diandra terdiam.


"Tidak bisakah setidak nya kamu menghargai kehadiran ku, atau setidak nya kamu menghargai apa yang telah aku lakukan selama ini untuk mu?" Lanjut Keisya.


Diandra kembali menangis dan bersujud di hadapan istri nya tersebut.


Dengan tangan memegangi kaki Keisya, Diandra terus menerus mengucapkan permohonan maaf dan penyesalan nya.


"Sudah lah, kamu tidak perlu meminta maaf padaku lagi. Kamu tidak salah apa apa, ini semua salah ku yang telah hadir dalam hidup mu." Ucap Keisya.


Diandra menengadahkan kepala nya menantap Keisya, lalu berdiri dan mencoba untuk memeluk istri nya tersebut.


"Tidak sayang tidak! Aku yang salah, dan aku mohon ampunan darimu." Diandra mencoba untuk memeluk Keisya, namun Keisya terus menepis tangan suami nya tersebut.


Tiba tiba terdengar suara ponsel Keisya berbunyi, ada sebuah panggilan masuk.


Keisya menjawab panggilan terlebih dahulu.


Setelah menjawab panggilan, Keisya tersenyum menatap Ibu dan Ayah secara bergantian.


"Ibu, Ayah Keisya pamit." Keisya mencium tangan Ibu dan Ayah bergantian.


Ibu dan Ayah tersentak dengan pamitnya Keisya, termasuk dengan Diandra.


Ibu dan Diandra menangis bersama sama sambil mencoba menahan Keisya.


"Jangan sayang tolong jangan pergi, aku mencintai mu." Ucap Diandra menangis tersedu sedu.


Selama beberapa saat Keisya terdiam dan membiarkan suami nya tersebut untuk memeluk dirinya.


"Minta maaf lah pada allah, karna kamu telah berzina, minta lah pengampunan pada nya bukan padaku. Isya allah, aku bisa membesarkan anak ku ini sendirian." Gumam Keisya pelan.


Diandra yang sedari tadi menangis tiba tiba saja terdiam, perlahan lahan Keisya melepaskan pelukan suami nya tersebut lalu berjalan menuruni tangga.


Diandra, Ayah dan Ibu tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk bisa menahan kepergian Keisya.

__ADS_1


__ADS_2