He Is Mine

He Is Mine
Eps 92


__ADS_3

Diandra menatap wajah teduh Keisya yang tertidur dengan keadaan terduduk di kursi sebelah tempat tidur nya.


Pernikahan yang sebelum nya tidak dia inginkan, seorang perempuan yang tidak pernah di kenal nya sama sekali. Kini membuat dirinya mampu melakukan apapun untuk bisa mempertahankan hubungan mereka.


"Andai saja aku tidak bersikap bodoh." Batin Diandra sambil tersenyum kecut.


Keadaan rumah tangga nya yang berada di ujung tanduk tidak membuat Keisya melupakan kewajiban nya sebagai seorang istri.


Contoh nya seperti hari ini. Sedari pagi Keisya merawat dan melayani kebutuhan suami nya itu dengan sangat telaten.


Tiba tiba terdengar suara pintu ruangan nya terbuka.


"Hai.." Rayna masuk sambil tersenyum.


"Bagaimana keadaan kamu?" Tanya Rayna.


Diandra mengangguk, dan mengatakan keadaan nya saat ini telah lebih baik.


Rayna melirik sebelah nya, dimana Keisya masih dalam keadaan tertidur disana.


"Kenapa dia?" Tanya Rayna.


"Maksud mu istri ku?" Tanya Diandra.


"Iya." Jawab Rayna datar.


Diandra tersenyum, lalu mengelus pelan puncak kepala Keisya.


Dengan bangga nya Diandra menceritakan bahwa istri nya kelelahan karna telah merawat dirinya sedari pagi.


"Dia istri yang baik dan taat pada suami." Diandra kembali tersenyum.


Rayna yang mendengar calon suami nya itu membangga banggakan istri nya seketika naik darah dan merasa tidak suka.


Tatapan tajam dia arahkan pada Keisya.


"Aku bisa lebih baik dari diri nya dalam segi apapun saat aku menjadi istri mu." Cetus Rayna.


Diandra melirik Rayna.


"Oh ya? Benarkah itu?" Tanya Diandra.


"Tentu saja!" Jawab Rayna dengan bangga nya.


Diandra menghela nafas, lalu mengatakan kepada Rayna bagaimana istri terbaik menurut versi Rayna itu.


Sedangkan di saat saat seperti ini saja Rayna hanya datang untuk sekedar bertanya kabar dan pergi kembali, sama sekali tidak pernah duduk atau sekedar menemani dirinya.


"Aku saat ini sedang terkena musibah, tapi kamu kemana? Pernah kamu memberikan ku air minum?" Tanya Diandra.


Berbeda dengan saat pertama kali Diandra tergeletak tidak sadarkan diri di rumah sakit. Saat itu Rayna terlihat sangat cemas, hingga terlihat hampir menangis.

__ADS_1


Namun pada kenyataan nya saat Diandra telah sadar, Rayna sama sekali tidak terlihat memperdulikan diri nya.


Rayna hanya datang ke rumah sakit sesekali saja. Berbeda dengan Keisya yang rela memberikan semua waktu nya untuk merawat Diandra.


"Kenapa kamu bicara seperti itu?" Nada Rayna sedikit meninggi, ucapan dari Diandra memancing emosi nya.


Diandra tersenyum sinis.


"Itulah kenyataan nya sekarang. Bahkan kamu tidak pernah berada lama disini dan selalu pulang lebih cepat." Jelas Diandra.


"Itu karna aku ada urusan lain, bukan berarti aku tidak perduli pada mu sayang." Elak Rayna.


Tiba tiba Keisya terbangun, mendengar keributan antara suami dan calon istri suami nya tersebut telah mengganggu waktu istirahat nya.


"Kenapa kalian bertengkar." Ucap Keisya datar.


"Tidak sayang, maaf ya kalau aku telah mengganggu waktu iatirahat mu." Ucap Diandra lembut.


"Bukan urusan mu!" Timpal Rayna sinis.


Keisya menengadahkan kepala nya, dia menatap Rayna dengan tajam.


Apa yang telah Rayna katakan itu salah. Tentu saja ini menjadi urusan nya juga, karna telah menyangkut suami nya.


"Tidak seharus nya kamu berbicara dengan nada yang tinggi seperti itu kepada calon suami mu sendiri." Kata Keisya.


Rayna terdiam, tidak tahu harus mengucapkan apa.


Suasana hening seketika, bukan hanya Rayna saja. Suami nya sendiri pun tidak tahu harus berkata apa mendengar penuturan dari Keisya barusan.


"Bagaimana?" Tanya Keisya.


Rayna masih terdiam.


Tatapan tajam Rayna layangkan pada Keisya, namun Keisya sama sekali tidak merasa takut dengan tatapan itu. Dirinya membalas tatapan tajam Rayna dengan sebuah senyuman.


"Untung saja hari ini aku harus segera pulang ke rumah. Jika tidak.." Ucap Rayna.


"Jika tidak apa?" Keisya memotong ucapan Rayna yang belum sempat terselesaikan.


Rayna menghentakan kaki nya, lalu keluar dari ruangan Diandra dengan perasaan dongkol.


Setelah Rayna pergi, Diandra menatap Keisya dengan rasa tidak percaya.


Selama ini yang Diandra ketahui Keisya itu pendiam. Bahkan untuk semua hal yang telah mereka lalui, Keisya tidak pernah banyak bicara dengan apa yang telah terjadi.


Tapi saat ini. Diandra melihat sendiri sisi lain dari istri nya, yang ternyata pandai berbicara dan dapat menghadapi keadaan seperti barusan dengan sebuah senyuman.


"Aku tidak percaya kamu bisa berkata seperti itu." Gumam Diandra.


"Memang nya kenapa? mas tidak terima calon istri mas harus pergi dengan kesal seperti itu karna aku?" Keisya beranjak dari kursi, menuju meja untuk mengambil air minum.

__ADS_1


"Tidak seperti itu maksud ku sayang." Jawab Diandra.


"Aku mau ke mushola dulu." Keisya berjalan keluar ruangan.


Diandra tersenyum senyum sendiri, mengingat kembali apa yang baru saja terjadi di hadapan nya.


Tidak lama setelah Keisya pergi pintu ruangan nya kembali terbuka.


Kali ini ada sahabat nya yang datang. Anya.


"Astaga Diandra, kenapa bisa sampai seperti ini?" Tanya Anya cemas.


Diandra mengangguk, lalu menceritakan awal mula kecelakaan yang menimpa nya. Yang berawal dari dirinya yang memaksakan menyetir dalam keadaan mengantuk.


"Kenapa ga bilang kalau waktu itu kamu mengantuk? Padahal kan bisa tidur dulu di sofa." Ujar Anya.


Diandra tersenyum.


"Sudah lah, ini semua sudah terjadi." Jawab Diandra.


Anya masih tetap berbicara. Menurut nya andai saja waktu itu Diandra memutuskan untuk tidur dulu di kantor nya dan tidak langsung pulang. Mungkin kecelakaan ini tidak akan pernah ada.


"Iya sudah tidak apa apa, aku baik baik saja ko." Ucap Diandra.


Anya menatap tubuh sahabat nya tersebut, dari ujung kaki hingga ujung kepala nya.


"Kaki mu.." Tanya Anya pelan.


"Iya, kaki aku patah sebelah." Diandra menatap kaki nya yang kaku.


Beberapa saat kemudian.


Terdengar suara pintu kembali terbuka. Anya dan Diandra menoleh bersamaan ke arah pintu.


"Eh.. Maaf saya ga tau kalau ada tamu." Keisya sedikit merasa tidak enak karna telah masuk begitu saja.


"Eh tidak tidak." Anya langsung menghampiri Keisya.


"Hai, apakabar.." Tanya Anya ramah.


Selama beberapa saat Keisya terdiam sambil menatap Anya, rasanya Keisya merasa tidak asing dengan perempuan di hadapan nya ini. Tapi pernah bertemu dimana sebelum nya Keisya lupa.


"Apa kamu lupa padaku?" Tanya Anya.


"Aku yang pernah mengantarkan Diandra pulang subuh itu." Ucap Anya cengengesan.


Seketika Keisya tersadar, dan mulai mengingat Anya.


"Oh iya, mbak ini yang pernah mengantarkan mas Andra pulang." Keisya tersenyum.


Kedua nya berlanjut mongbrol. Sekedar bertanya tentang kabar masing masing.

__ADS_1


__ADS_2