
Waktu sudah hampir memasuki adzan ashar, beberapa jam telah berlalu sejak Diandra memasuki ruangan operasi dan sampai saat ini belum ada satu orang pun keluar dari ruangan operasi tersebut.
"Ya allah, selamatkan suami hamba." Batin Keisya.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Semua orang reflek menengok ke arah pintu, dan langsung menghampiri dokter yang baru saja keluar.
"Dokter, bagaimana?" Tanya Ibu cemas.
Dokter melepas masker yang di kenakan nya.
"Alhamdulillah, operasi pasien berjalan dengan lancar. Pasien akan segera di pindahkan ke ruangan perawatan untuk pemulihan." Jelas dokter.
Keisya yang mendengar hal tersebut tidak mampu menopang tubuh nya sendiri.
Air mata tiba tiba saja jatuh, Keisya menangis sambil mengucapkan rasa sukur yang begitu dalam atas keberhasilan operasi yang di lakukan suami nya.
Ibu menatap Keisya yang terjatuh di lantai.
"Alhamdulillah nak, suami kamu selamat." Ibu memeluk Keisya dengan tangis haru.
Semua orang mengucap rasa syukur, termasuk Rayna dan kedua orangtua nya.
Beberapa saat kemudian.
Diandra telah di pindahkan, kini hanya tinggal menunggu sadar dari efek obat bius pasca operasi tadi.
Di samping tempat tidur nya, Keisya selalu saja setia menemani dirinya. Tidak berpaling walau hanya sebentar saja, keculi untuk melaksanakan ibadah shalat dan mundur ke meja di belakang saat akan makan.
"Cepat lah sadar, aku belum bisa tenang jika belum melihat mas sadar." Batin Keisya.
Keisya menggenggam tangan suami nya lalu mencium punggung tangan nya, tiba tiba ada sebuah gerakan kecil di tangan nya.
Keisya tersentak lalu menatap suami nya.
"Terimakasih." Ucap Diandra pelan.
Keisya merasa tidak percaya bahwa suami nya ternyata telah bangun, dengan cepat Keisya berdiri lalu memeluk tubuh suami nya yang masih terkulai lemas.
"Alhamdulillah, mas sudah sadar." Keisya kembali menangis.
Keisya hendak keluar dari ruangan, untuk memanggil kedua mertua nya yang sedari tadi berada di luar ruangan.
"Jangan kemana mana." Diandra memegang pergelangan tangan Keisya.
Keisya tersenyum.
"Aku tidak akan kemana mana, aku ingin mengabari Ibu dan Ayah dulu bahwa mas sudah siuman." Jawab Keisya.
Diandra tersenyum sambil melepaskan tangan nya, membiarkan istri nya keluar sebentar.
"Bu, Ayah. Mas Andra sudah siuman." Ucap Keisya.
Ibu dan Ayah berdiri secara bersamaan, lalu cepat cepat masuk kedalam.
__ADS_1
"Kamu sudah sadar nak." Ayah memegang tangan Diandra, dengan bebarapa air mata yang terlihat berjatuhan.
***
Kini semua orang telah merasa lega, meskipun masih terkulai lemas di atas tempat tidur setidak nya Diandra telah
sadarkan diri.
"Nak, makan dulu." Ujar Ibu pada Keisya.
"Iya Ibu, sebentar lagi." Jawab Keisya.
Diandra tersenyum, sedari tadi Keisya selalu saja menolak saat di suruh untuk makan terlebih dahulu.
Keisya tetap berada di samping nya, dengan sebelah tangan yang ia tautkan bersama dengan Diandra.
"Makan lah dulu." Ujar Diandra.
"Iya, sebentar lagi mas." Jawab Keisya.
"Aku tidak akan kemana mana, kamu makan lah dulu sebentar. Ingat anak kita." Pinta Diandra.
Keisya menghela nafas, lalu mengangguk.
Kini Ibu duduk di sebelah Diandra, untuk yang kesekian kali nya Ibu mengucapkan rasa bersyukur nya.
"Ibu, apa Rayna tahu soal ini?" Tanya Diandra pelan.
Sejak dirinya terbangun, Diandra sama sekali tidak melihat Rayna.
Diandra terdiam, dalam hati nya kini dia membanding banding kan Keisya dan Rayna.
Keisya yang telah rela bergadang untuk menjaga dan menemani nya berbeda jauh dengan Rayna, yang bahkan saat dirinya telah sadar pun tidak ada disamping nya.
"Rayna telah bertemu dengan Keisya." Ucap Ibu.
Diandra menatap Ibu dengan tatapan kaget.
"Kapan?" Tanya Diandra.
Ibu menceritakan awal pertemuan Rayna dengan Keisya di saat malam hari kemarin, saat Diandra baru saja masuk ke rumah sakit.
Kedua nya yang memang di beri kabar oleh Ibu tentang kecelakaan putra nya tersebut datang di waktu yang hampir bersamaan.
"Lalu bagaimana reaksi Keisya?" Tanya Diandra penasaran.
Ingin Ibu bercerita lebih lanjut, namun niat nya di urungkan karna Keisya telah selesai makan dan menghampiri kedua nya.
"Sudah sayang?" Tanya Ibu basa basi.
Keisya mengangguk.
Ibu berdiri, mempersilahkan bangku di sebelah tempat tidur Diandra di tempati lagi oleh dirinya.
__ADS_1
"Ibu mau keluar sebentar." Tanpa menunggu jawaban dari Diandra dan Keisya, Ibu langsung pergi meninggalkan ruangan Diandra.
Membiarkan kedua nya memiliki lebih banyak waktu untuk bersama.
Hening, selama beberapa saat suasana menjadi hening.
"Seperti nya aku akan menjadi lelaki yang cacat." Ucap diandra tiba tiba, sambil tersenyum memandangi sebelah kaki nya yang patah.
"Kenapa bicara seperti itu?" Tanya Keisya.
"Memang seperti itu lah kenyataan nya sekarang, lihat lah kaki ku patah. Aku tidak bisa berjalan dengan normal lagi." Jelas Diandra.
Keisya tidak sanggup lagi untuk mendengar keluhan dari suami nya tersebut.
"Mas, berhenti." Pinta Keisya sambil memegang tangan Diandra.
"Terimakasih." Diandra tersenyum.
"Untuk apa?" Tanya Keisya.
Untuk semua waktu yang telah Keisya luangkan selama dua hari ini, Diandra mengucapkan terimakasih untuk itu.
Walaupun belum mendengar semua cerita dari Ibu tentang Keisya, namun Diandra percaya bahwa istri nya tersebut selalu berada di samping nya selama dia tidak sadarkan diri.
Ingin Diandra bertanya perihal Rayna pada Keisya, namun Diandra sadar jika dirinya bertanya seperti itu sekarang Keisya akan menganggap dirinya mungkin sudah tidak sabar untuk menikah dengan Rayna.
Malam semakin larut, Keisya mulai menguap.
Dirinya yang memang kekurangan waktu tidur kini tidak bisa membohongi dirinya sendiri yang telah merasa kelelahan.
"Tidur lah." Pinta Diandra.
Keisya menggelengkan kepala nya.
"Tidak mas, nanti kalau mas butuh sesuatu siapa yang akan membantu jika aku tidur.", Jelas Keisya.
"Aku tidak membutuhkan apapun selagi kamu ada di samping ku." Cetus Diandra.
Keisya sedikit memaksakan sebuah senyuman di wajah nya, mendengar penuturan sang suami.
Jelas Keisya tersenyum mendengar nya, karna pada kenyataan yang terjadi saat ini Diandra masih melirik perempuan lain di saat sudah resmi menikah dengan nya.
"Kemari, naik kesini kita tidur bersama." Goda Diandra.
Pipi Keisya tiba tiba bersemu merah.
"Tidak usah, nanti kalau kaki mas secara tidak sengaja aku senggol bagaimana." Jawab Keisya.
"Rasa sakit yang aku alami inu tidak seberapa jika di bandingkan dengan rasa sakit yang telah aku berikan padamu, tidak usah khawatir soal kaki ku." Jelas Diandra.
Keisya menatap suami nya, merasa kaget dengan penuturan yang baru saja dikatakan nya.
"Naik lah." Diandra menepuk nepuk sebelah nya sambil sedikit bergeser.
__ADS_1
Keisya menggelengkan kepala nya, tidak mungkin dirinya akan tidur dalam tempat tidur yang sama dengan suami nya di rumah sakit seperti ini.
Pasti akan ada dokter yang masuk ke ruangan ini untuk memeriksa perkembangan pemulihan Diandra. Selain itu juga ada kedua orangtua nya yang bisa masuk kapan saja.