
Waktu sudah menunjukan pukul 7 pagi.
Keisya keluar dari kamar, di ikuti oleh sang suami di belakang nya.
Baru kali ini Keisya bangun sampai se siang ini, pikir nya sendiri.
"Nenek" Ucap Keisya.
Nenek tersenyum memperhatikan cucu nya itu yang baru bangun tidur.
Keisya menatap nenek heran.
"Kenapa nenek tersenyum seperti itu?" Tanya Keisya.
Nenek tidak menjawab pertanyaan dari cucu nya itu.
Keisya terdiam beberapa saat, hingga dia melirik kebelakang.
Ada Diandra yang berdiri tepat di belakang nya, tanpa mengenakan baju.
"Eh mas!" Tegur Keisya.
"Apa?" Tanya Diandra polos.
Pantas saja nenek nya itu tersenyum senyum seperti barusan, pikir Keisya.
Ternyata di belakang nya suami nya ini tengah berdiri dengan hanya menggunakan celana pendek dan tanpa kaos.
Keisya mendorong Diandra untuk kembali masuk kedalam kamar.
"Ihh, malu tau!" Omel Keisya.
Keisya membuka lemari dan mengambil satu kaos milik suami nya.
"Pakai baju. Ini bukan di rumah kitaa!" Keisya terus saja mendumel.
Sementara Diandra hanya terkekeh pelan saja.
Keisya kembali berjalan keluar kamar, ia menuju dapur untuk membantu nenek memasak.
"Mana suami kamu" Tanya nenek.
"Eh,eh itu lagi di kamar" Ucap nya sedikit tidak enak dengan kejadian barusan.
Niat hati ingin membantu sang nenek memasak, namun keinginan nya itu ternyata tidak dapat terpenuhi di pagi hari ini.
Karna di meja makan sudah tersedia beberapa jenis masakan yang memang sudah nenek masak.
Keisya sedikit merasa tidak enak, karna kedatangan nya malah merepotkan sang nenek.
"Maaf ya nek, Kei tidak membantu nenek memasak." Ucap nya merasa bersalah.
Nenek tersenyum lalu mengusap rambut Keisya dengan pelan.
"Tidak apa sayang. Apa nya yang merepotkan, kamu tidak boleh bicara seperti itu justru nenek senang kamu dan suami kamu bisa berlibur kesini" Jelas nenek.
"Lagian, kenapa nenek tidak membangunkan Keisya" Keisya sedikit memanyunkan bibirnya.
Nenek mencubit pelan hidung Keisya.
"Mana mungkin nenek menganggu kamu yang sedang dengan suami mu di kamar, siapa yang tau kamu lagi apa" Goda nenek.
Seketika, wajah Keisya merah bersemu mendengar penuturan nenek.
"Sudah sekarang kamu mandi, nanti ajak suami kamu untuk sarapan" Ujar nenek.
Keisya tersenyum sambil menganggukan kepala nya, lalu bergegas ke kamar mandi.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian.
Keisya telah selesai mandi. Dengan hanya menggunakan handuk saja, Keisya sedikit berjalan cepat menuju kamar.
Baru saja menutup pintu kamar, Keisya menggelengkan kepala nya, saat melihat Diandra suami nya itu ternyata tidur kembali.
Keisya menghampiri tempat tidur.
"Mas, ko tidur lagi" Ucap Keisya.
Diandra membuka mata nya.
Dia mengerjapkan mata nya beberapa kali, hingga saat kesadaran nya telah terkumpul, Diandra langsung merangkul tubuh istri nya itu.
Hingga Keisya terjatuh tepat di atas nya.
"Wangi sekali." Bisik nya pelan sambil menciumi istri nya itu.
Keisya tersenyum, dia yang tadi merasa kesal karna suami nya itu tidur kembali, kini rasa kesal itu hilang setelah mendapat kecupan dari suami nya itu.
"Kenapa?" Goda Keisya sambil mengelus wajah suami nya.
Sebagai lelaki normal tentu saja Diandra tergoda dengan sentuhan yang baru saja di berikan istri nya itu.
Diandra membalikan posisi, membuat dia kini menindih Keisya.
"Apa pintu di kunci?" Bisik Diandra.
Keisya mengangguk sambil tersenyum.
***
Karna perbuatan dari suami nya, Keisya harus kembali mandi lagi.
Dia sedikit meng endap endap berjalan menuju kamar mandi yang terletak di dapur itu.
Selesai mandi, Keisya membuka pintu kamar mandi, dan mengedarkan pandangan nya ke sekeliling.
Tidak ada nenek di dapur.
Keisya buru buru keluar dari kamar mandi dan menuju kamar kembali.
"Sudah?" Tanya Diandra.
"Sudah mas." Jawab Keisya.
Diandra beranjak dari tempat tidur, dan berjalan menuju Keisya yang sedang di depan lemari.
Diandra menggoda istri nya itu lagi, dengan memeluk perut nya dari belakang.
"Mas, masa aku harus mandi lagi" Rengek Keisya manja.
Diandra terkekeh.
"Engga sayang, cuma bercanda." Diandra mengecup pipi Keisya lalu keluar dari kamar.
Beberapa menit berlalu, kini Diandra juga telah selesai mandi.
Tubuh nya sedikit merasakan dingin setelah ia mandi.
Karna perbedaan cuaca di kota yang panas, membuat nya kedinginan berada di kampung istri nya ini, yang memang cuaca masih sejuk di pagi hari.
"Dingin ya?" Ucap Keisya sambil menuangkan teh.
Diandra mengangguk, lalu cepat cepat meneguk teh hangat buatan istri nya itu.
"Aku tidak menyangka udara nya bakal sesejuk ini di pagi hari, padahal tadi di kamar gerah sekali sampai berkeringat." Ucap nya sambil melirik Keisya.
__ADS_1
Nenek tertawa geli mendengar itu.
Keisya menatap suami nya dengan sorot mata tajam.
Beberapa saat kemudian.
Kini mereka telah selesai sarapan.
Keisya berlanjut membuatkan kopi untuk suami nya.
Namun dia lupa, kemarin dia tidak membawa kopi dalam tas yang di bawa nya, dan lupa berbelanja karna mengira kopi itu ada di dalam tas.
Selesai membereskan meja makan, Keisya izin sebentar pada nenek untuk pergi kedepan.
"Mau kemana nak?" Tanya nenek.
"Kei mau ke warung sebentar nek, ini mau beli kopi sachet untuk mas Andra" Jelas Keisya.
Nenek mengangguk.
"Mas tunggu sebentar ya aku ke warung dulu, ternyata aku lupa membawa kopi." Ujar nya kepada Diandra yang sesang berjemur di depan.
"Ini sayang." Diandra mengulurkan tangan nya, memberikan uang pecahan seratus ribu.
"Ini kebanyakan mas." Ucap Keisya.
"Aku gaada lagi uang kecil" Jawab Diandra.
"Ini kan ada sisa belanja kemarin, jadi uang ini simpan saja" Keisya berniat mengembalikan uang itu pada suami nya.
Namun Diandra menolak nya, dan mengatakan bahwa uang nya juga uang Keisya.
Jadi Keisya berhak menerima nya.
Walaupun di kampung, cukup ramai orang lalu lalang disini.
Berjalan kaki, sambil membawa peralatan kebun mereka masing masing.
Tidak jarang Keisya bertegur sapa dengan beberapa orang yang bertanya kabar padanya.
Hingga saat Keisya berbalik badan, ada seseorang berdiri tepat di hadapan nya.
Keisya tersetak kaget.
Hening. Selama beberapa saat tidak ada kata yang keluar dari kedua nya.
Hanya saling menatap saja.
Hingga orang itu tersenyum, dan Keisya membalas senyum orang itu.
"Ya allah, pulang ko ga ngabarin aku!" Cetus Zia.
Orang di hadapan nya saat ini adalah Zia. Sahabat nya.
Dia juga yang selalu menjadi perantara untuk mengentahui bagaimana kabar kakek dan nenek nya disini.
"Maaf Zia." Keisya memeluk sahabat nya itu.
"Aku baru sampai kemarin sore kok.." Lanjutnya.
Kedua nya saling bertanya kabar, sambil berjalan pelan menuju rumah.
"Kenapa lama sekali? Apa warung nya jauh sayang?" Tanya Diandra heran.
Keisya terkekeh kecil dan meminta maaf, lalu mengenalkan sahabat nya.
Zia memberi salam sambil menundukan kepala nya.
__ADS_1