
Diandra tertunduk lemas ketika mengetahui bahwa Ayah dan Ibu nya tidak berhasil membawa Keisya kembali pulang kerumah.
Bukan hanya tidak berhasil saja, Ayah dan Ibu bahkan tidak dapat menemukan keberadaan Keisya saat ini.
Karna kakek dan nenek pun tidak mengetahui Keisya dimana saat ini.
Perlahan punggung Diandra mulai bergetar, menandakan bahwa dirinya kini tengah menangis.
Ibu dan Ayah hanya bisa berusaha menenangkan putra nya tersebut. Tidak tahu harus berbuat apa lagi selain itu.
Bukan hanya Diandra saja, kini Ibu pun juga ikut mulai menangis. Dengan tangan yang mengusap punggung Diandra secara perlahan, air mata Ibu terus menetes tidak tertahan.
***
Keisya baru saja selesai mengaji. Dua jam kini telah berlalu semenjak kepulangan nya ke kampung dan meminta Zia mengantarnya ke makam.
Keisya menceritakan semua rasa sakit nya di hadapan makam sang ayah dan ibu nya. Dengan Zia yang masih dengan setia menemani nya.
"Sudah, mari kita pulang." Zia mengusap lembut punggung sahabat nya itu.
Keisya menoleh sebentar dan mengatakan kepada Zia untuk menunggu sebentar lagi, dia masih merasa betah berada disini. Di tempat peristirahatan terakhir kedua orangtua nya.
Bukan Zia tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Berapa lama pun Keisya meminta nya untuk menemani nya Zia akan selalu siap dan ada untuk nya.
Hanya saja saat ini Zia memikirkan kandungan Keisya. Hari sudah siang dan Keisya belum makan sedari pagi. Zia mencemaskan kesehatan nya dan bayi yang tengah di kandung nya.
Zia kembali mengajak Keisya untuk pulang. Dan kembali lagi kemari besok hari.
"Kita bisa kembali besok Kei.. Saat ini kamu belum makan sama sekali sejak pagi, kamu harus ingat bayi yang sedang di kandung mu." Jelas Zia.
Keisya mengusap kasar wajah nya, menghapus air mata nya. Lalu berdiri dan tersenyum kepada Zia.
Zia benar, Keisya tidak boleh terlalu berlarut dalam kesedihan. Karna ada bayi yang harus tetap di pikirkan oleh nya.
Akhirnya Keisya mau pulang, namun tidak kerumah nya. Tapi kerumah Zia. Karna semua barang-barang nya pun berada di rumah sahabatnya tersebut.
Beberapa saat kemudian.
__ADS_1
Keisya dan Zia telah berada di rumah. Rupanya nenek dan kakek nya juga telah berada di rumah, menunggu kepulangan Keisya yang di ketahui dari kedua orangtua Zia tengah berada di makam bersama dengan Zia.
Keisya berlari, berhambursn kedalam pelukan nenek nya dan kembali menangis lagi. Nenek hanya bisa mencoba memberi kekuatan kepada Keisya dengan pelukan penuh kasih sayang nya.
Selain itu nenek tidak bisa berbuat banyak, dan tidak ingin terlalu ikut campur terlalu jauh dalam masalah rumah tangga cucu nya. Biarlah Keisya dan Diandra mencari jalan keluarnya bersama-sama, apapun jalan keluar itu.
Setelah cukup lama Keisya menangis dalam pelukan nenek, kini akhirnya Keisya mulai lebih tenang.
Semua orang berpindah ke meja makan untuk makan bersama.
Pikiran yang sedang kacau dan berantakan membuat Keisya tidak memiliki nafsu untuk makan dan tidak merasa lapar sama sekali.
Namun kembali, Keisya memikirkan bayi dalam perut nya. Keisya harus tetap menjaga bayi nya untuk tetap sehat.
Akhirnya Keisya mau makan, dengan pelan-pelan.
Waktu telah sore. Keisya berbaring meringkuk di tempat tidur bersama dengan Zia yang selalu setia menemani nya.
Kembali Keisya terpikirkan ucapan nenek yang mengatakan bahwa orangtua Diandra tadi siang datang kerumah mencari dirinya.
Nenek yang memang tidak mengetahui kepulangan Keisya saat itu pun ikut kebingungan dan merasa cemas.
Dan benar saja, dari kedua orangtua teman cucu nya itu nenek dan kakek mengetahui bahwa Keisya cucu nya memang berada di sini. Dan sedang pergi ke makam di antar oleh Zia.
"Kei.. Sudah maghrib, ayo shalat dulu." Zia memecah lamunan nya.
Keisya mengangguk dan duduk di tepian tempat tidur. Dirinya bergantian dengan Zia untuk pergi ke kamar mandi mengambil air wudhu.
***
Diandra tidak henti nya menatap layar ponsel nya, yang menunjukan foto istri nya.
"Kamu kemana sih sayang." Gumam nya.
Kesedihan nya saat ini membuat nya mogok makan. Sedari siang tadi dirinya tidak mau makan, dan sampai saat ini dirinya sama sekali belum makan lagi, bahkan semua obat-obat nya belum ada yang diminum nya lagi.
Ibu telah beberapa kali datang ke kamar nya, mencoba membujuk nya untuk mau makan. Namun Diandra selalu menolak nya dan mengatakan bahwa dirinya tidak lapar.
__ADS_1
Meskipun ibu telah mengingatkan dirinya akan obat yang harus di konsumsi nya tapi Diandra mengabaikan nya.
Sama sekali tidak memperdulikan ucapan ibu.
Pintu kamar nya kembali terbuka, Diandra tidsk berpaling dari layar ponsel nya. Tidak memperdulikan siapa yang kini masuk kedalam kamar nya.
"Cepat lah sehat, ada pernikahan yang harus kamu lakukan."
Diandra menoleh mendengar nya. Kini Rayna berdiri di samping nya sambil tersenyum padanya.
"Kenapa kamu kesini." Tanya Diandra datar.
Rayna duduk di tepian ranjang dan berbalik tanya pada Diandra, salahkah dia yang merupakan calon istri nya datang kesini untuk melihat calon suami nya.
"Dimana salah nya bila aku mengkhawatirkan keadaan mu?" Tanya Rayna.
Diandra tersenyum kecut mendengar nya. Diandra tahu saat ini Rayna bukan mengkhawatirkan kondisi nya. Rayna hanya ingin cepat menikah saja.
Memang tidak ada yang salah dengan itu, namun mengingat kejadian tadi siang dimana Diandra mendengar semua pembicaraan antara kedua orangtua nya dan orangtua Rayna membuatnya sedikit marah.
Tidak kah kedua orangtua Rayna menunggu dirinya untuk sembuh dahulu untuk membahas masalah ini. Padahal dari sebelum nya pun telah ada pembicaraan dirinya akan menikahi Rayna. Hanya saja rencana itu memang sedikit tertunda dengan terjadi nya kecelakaan yang menimpa nya.
"Sayang, kamu belum makan?" Tanya Rayna.
"Bukan urusan mu." Jawab Diandra datar.
Rayna menghela nafas nya sambil tersenyum, mencoba untuk tetap bersabar walaupun Diandra sangat mengacuhkan kehadiran dirinya.
Diandra menyimpan ponsel nya dan menatap Rayna. Rayna membalas tatapan Diandra dengan sebuah senyuman yang sangat manis.
"Pulang lah. Aku sudah bilang bukan, satu minggu lagi aku akan menikahi mu. Kamu tidak perlu terus datang kesini untuk melihat keadaan ku. Tunggu saja di rumah mu, aku tidak akan mengingkari janji ku untuk menikah dengan mu." Jelas Diandra panjang lebar.
Rayna memegang tangan Diandra dan mengatakam bahwa dirinya datang kemari bukan untuk hal itu, tapi Rayna ingin menemani Diandra disini dan merawatnya. Sampai hari pernikahan mereka tiba.
"Aku tahu Keisya telah pergi darisini. Jadi aku ingin mengganti dirinya untuk merawat kamu sayang. Lagian istri macam apa yang pergi meninggalkan suami nya di saat suami nya sedang sakit seperti ini." Jelas Rayna dengan sedikit nada manja.
Mendengar ucapan Rayna membuat Diandra sangat marah.
__ADS_1
Apa maksud dari Rayna dirinya ingin menggatikan Keisya. Bagi Diandra, tidak ada yang dapat menggatikan posisi istri nya itu.