He Is Mine

He Is Mine
Eps 90


__ADS_3

Pagi tiba, setelah melaksanakan ibadah shalat subuh di mushola rumah sakit Keisya buru buru kembali ke ruangan suami nya.


Terlihat dari sorot mata nya bahwa saat ini Keisya sangat merasa sedih dengan kondisi suami nya yang masih belum sadarkan diri hingga saat ini.


Bagaimana pun juga Keisya tetap lah istri nya, dan rasa sayang Keisya pada suami nya itu tidak hilang begitu saja meskipun baru saja si kecewakan.


Tidak lama, pintu ruangan terbuka.


Terlihat Ayah dan Ibu masuk.


"Ayah, Ibu." Keisya menyapa kedua nya dan mencium tangan mereka berdua bergantian.


"Astagfirullah." Ayah mengusap kasar wajah nya melihat putra nya melihat selang infus dan oksigen.


"Ya allah nak, kenapa bisa sampai seperti ini." Ucap Ayah.


Ayah yang dari dulu selalu memanjakan putra nya tersebut benar benar merasa terpukul saat ini.


Ibu mengusap punggung Ayah, mencoba memberi ketenangan.


"Nak, kamu sarapan dulu ya.." Ucap Ibu.


Kesya yang memang belum makan sedari semalam saat ini sudah merasa lapar.


"Kita makan sama sama bu." Ajak Keisya membuka bekal yang sengaja di bawa Ibu dari rumah.


Ibu menggelengkan kepala nya dan mengatakan bahwa Ayah dan Ibu sudah sarapan terlebih dahulu.


Tanpa merasa canggung, akhirnya Keisya makan terlebih dahulu. Untuk memulihkan tenaga nya yang memang semalam kurang tidur karna terus memperhatikan suami nya.


***


Siang tiba, Keisya dan kedua orangtua Diandra sedang harap harap cemas saat ini karna sudah waktu nya bagi Diandra untuk di bawa ke ruang operasi.


Keisya menghampiri brangkar suami nya, sambil menggenggam erat tangan nya Keisya melantunkan sebuah do'a.


"Mas, kamu harus kuat demi anak kita." Keisya melepas tangan nya ketika brangkar sang suami telah tiba di pintu ruang operasi.


Air mata nya kembali berjatuhan, tidak sanggup menerima apa yang saat ini tengah terjadi.


Tidak berselang lama, Rayna datang bersama dengan kedua orangtua nya.


"Ayah, Ibu." Rayna menyalami kedua orangtua Diandra.


Di hadapan Keisya, ke empat orangtua tersebut saling berpelukan, dan mencoba menguatkan Ayah dan Ibu. Dengan mengatakan semua nya pasti akan baik baik saja, dan Diandra pasti akan pulih seperti sedia kala.


Melihat keakraban antara orangtua suami nya dengan kedua orangtua calon istri nya Keisya hanya bisa tersenyum kecut.

__ADS_1


Perih sekali pemandangan dihandapan nya saat ini.


Ibu yang menyadari Keisya berada di sebelah nya langsung merangkul Keisya, dan membawa nya duduk cukup jauh dari tempat nya berada saat ini.


"Maafkan Ibu." Ucap Ibu.


Keisya menatap mertua nya tersebut.


"Maaf untuk apa Ibu?" Tanya Keisya.


"Ibu sama sekali tidak bermaksud untuk mendukung perselingkuhan Rayna dengan Diandra, apalagi sampai akan terjadi sebuah pernikahan." Ibu menitikan air matanya.


Keisya tersenyum lalu menggengam tangan Ibu.


"Sudah Ibu, sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas itu semua. Saat ini kita harus fokus pada mas Andra." Ujar Keisya.


Keisya tersenyum dengan penuh ketulusan, senyuman yang membuat Ibu akan di hantui rasa bersalah yang mendalam.


"Tapi nak, tetap saja Ibu bersalah. Secara tidak langsung Ibu lah yang meminta kamu menikah dengan Diandra, dan Ibu juga tidak mengetahui bahwa pernikahan kalian akan menjadi seperti ini." Ibu menundukan kepala nya.


Keisya menggelengkan kepala nya.


"Tidak apa apa Ibu, ini semua bukan salah Ibu. Ini semua memang sudah takdir dari yang maha kuasa untuk kita semua."


"Di balik kejadian ini Keisya yakin, semua pasti ada hikmah nya dan pasti ada suatu pelajaran yang dapat di ambil. Tidak ada yang salah sama sekali, semua ini sudah menjadi kehendak nya yang harus kita jalani." Jelas Keisya panjang lebar.


Keisya melihat ponsel nya, jam sudah hampir memasuki waktu shalat dzuhur.


Keisya beranjak lalu berpamitan pada Ibu untuk pergi ke mushola.


"Ibu ikut nak, Ibu jarang sekali shalat, Ibu ingin ikut ke mushola." Ucap Ibu.


Keisya tersenyum dengan senang hati, akhirnya kedua nya berjalan menuju mushola rumah sakit.


Selesai melaksanakan shalat dzuhur, Keisya mengambil satu al'quran yang tersedia disana.


"Ibu jika ingin duluan tidak apa apa, Kei ingin mengaji sebentar." Ujar Keisya.


Ibu tersenyum lalu menggelengkan kepala nya, Ibu ingin menemani menantu nya mengaji.


Keisya mulai membuka lembaran al'quran.


Lantunan ayat ayat suci terdengar di seluhur mushola, suara Keisya begitu merdu Ibu dengarkan. Sampai Ibu tidak bisa memalingkan wajahnya dari sang menantu.


"Apa yang di katakan Diandra benar, suara mengaji nya sangat indah dan merdu." Batin Ibu.


Tanpa Ibu sadari, di setiap lantunan ayat ayat suci al'quran yang Keisya lantunkan, terdapat sebuah kesedihan di setiap kata nya.

__ADS_1


Kesedihan yang menggambarkan perasaan nya saat ini yang sedang berkecamuk.


40 menit berlalu, Keisya menyudahi mengaji nya.


"Ibu.." Keisya tersentak ketika berbalik badan, ternyata sang Ibu masih berada di belakang nya.


Ibu tersenyum.


"Masya allah, suara kamu indah sekali nak. Tidak berbeda jauh dengan Ibu mu dulu." Celetuk Ibu.


Keisya menautkan kedua alis nya.


Ibu yang menyadari dirinya secara tidak sengaja telah mengucapkan hal tersebut langsung tersenyum kikuk, lalu mengalihkan pembicaraan.


"Kita makan siang ya.." Ujar Ibu.


Keisya masih diam, mencoba mencerna apa yang telah di katakan Ibu mertua nya barusan.


"Ayo sayang, kita makan bersama sama. Setelah itu kita kembali." Ibu menggiring Keisya.


Setelah menyimpan kembali mukena dan al'quran, Keisya mengikuti Ibu dari belakang menuju kantin rumah sakit.


Dalam setiap langkah nya, masih teringat jelas apa yang di katakan oleh Ibu.


Kini rasa penasaran menyeruak dalam hati nya, mungkinkah Ibu mertua nya itu mengenali orangtua Keisya.


Sampai nya di kantin, Ibu langsung menyibukan diri sendiri, dengan pura pura fokus melihat daftar menu yang tersedia.


Hal itu sengaja Ibu lakukan untuk menghindari pembicaraan dengan Keisya, yang Ibu duga Keisya pasti akan bertanya tentang hal tidak sengaja di ucapkan nya tadi.


"Bu.." Panggil Keisya.


Belum sempat Keisya menyelesaikan ucapan nya, Ibu memperlihatkan rentetan menu.


"Mau pesan apa sayang?" Tanya Ibu.


Keisya terdiam, rasa penasaran dalam hati nya semakin menjadi.


Keisya yakin, mertua nya itu memang kenal dengan kedua almarhum orangtua nya.


Namun kenapa Ibu tidak mau membahas atau menceritakan nya pada Keisya, Keisya belum mengetahui nya.


Waktu telah pukul 1 lewat, selesai makan Ibu langsung mengajak Keisya kembali.


"Untunglah dia tidak kembali bertanya." Batin Ibu.


Kedua nya kembali berjalan meninggalkan kantin rumah sakit, untuk menunggu hasil operasi Diandra.

__ADS_1


__ADS_2