
"Pak, ini ada beberapa bunga bucket untuk bapak." Ucap Desi.
Diandra baru saja sampai di kantor nya, dia harus kembali menghela nafas nya karna dia mengetahui siapa pengirim bunga tersebut.
"Kata perempuan tadi, nikahi dia secepat nya." Ujar Desi.
Diandra yang masih melihat melihat bunga tersebut tersentak dan menatap asisten nya tersebut.
"Dia berkata seperti itu pada mu?" Tanya Diandra.
"Iya pak, perempuan itu berkata demikian dan rasa nya saya tidak asing dengan perempuan tersebut seperti pernah melihat nya." Kata Desi.
Desi memang pernah bertemu dengan Rayna di kantor, saat memberikan dokumen kepada ruangan bos nya tersebut dan Desi tidak mengingat hal itu saat ini.
Diandra berjalan kembali menuju ke ruangan nya, dan memberi perintah kepada security untuk membakar semua bunga bucket tersebut.
"Desi, bisa kah jika di lain waktu perempuan itu datang kembali kesini kamu melarang nya masuk dan menyuruh nya pergi saja?" Tanya Diandra.
Baik pak! Akan saya lakukan." Jawab nya, tanpa bertanya apa apa.
"Terimakasih." Ucap Diandra.
Sampai di ruangan nya Diandra dan Desi membicarakan jadwal kegiatan hari ini, ternyata waktu nya di hari ini sangat sangat lenggang dan dia bisa pulang saat ini juga kalau dia mau.
Karna semua kegiatan di hari ini tidak ada yang meng harus kan untuk dia terjun langsung menangani nya.
Diandra terdiam sambil berfikir harus melakukan apa saat ini kepada Rayna, karna kalau di biarkan seperti ini Rayna pasti tidak akan tinggal diam dan akan terus meminta pertanggung jawaban dari diri nya.
Diandra mengambil ponsel nya.
"Hallo, Anya bisa bertemu?" Ucap nya di di telpon.
Beberapa saat kemudian sambungan telpon terputus.
Diandra berjalan meninggalkan kantor menuju parkiran untuk pergi ke kantor Anya saat ini.
Cukup lama perjalanan, akhir nya Diandra kini sampai di kantor teman nya itu.
"Permisi pak, apakah sudah membuat janji terlebih dahulu?" Tanya pegawai nya.
Tiba tiba, Anya menghampiri nya.
"Biarkan dia masuk, dia teman saya." Ujar nya pada karyawan.
Diandra dan Anya berjalan menuju ke ruangan nya.
"Ada apa?" Tanya Anya.
Diandra menghela nafas dan mengatakan bahwa dia saat ini sedang menghadapi satu masalah yang tidak bisa di selesai kan begitu saja.
Anya menautkan alis nya, tidak menyangka bahwa Diandra akan menceritakan hal seperti itu pada nya, padahal pasal nya Diandra tidak pernah bebicara tentang masalah pribadi
__ADS_1
pada diri nya dan hanya kepada Gilang saja.
"Jadi, apa yang bisa aku bantu?" Tanya Anya.
Diandra menyandarkan tubuh nya.
"Entah lah, aku sendiri bingung harus
memulai cerita nya dari mana." Ucap nya.
"Memang nya masalah apa yang sampai membuat kamu sampai seperti ini?" Tanya Anya serius.
Saat ini di pikiran nya seperti nya tidak ada orang lain lagi selain Anya yang dapat mendengar kan permasalahan diri nya.
Dan mau tidak mau Diandra perlahan menceritakan semua permasalahan nya dari awal hingga sampai pagi ini, dimana Rayna mengirimkan bunga bucket untuk dirinya ke kantor.
"Wow.. Tunggu dulu! Bukan kah sekarang istri mu juga tengah hamil?" Tanya Anya memastikan.
"Iya." Jawab Diandra lemas.
Anya memang mengetahui kehamilan istri sahabat nya tersebut, karna dirinya datang saat acara syukuran kemarin.
"Wah, punya dua anak sekaligus hebat!" Goda Anya sambil tertawa.
"Anya, tolong lah saat ini aku sedang bingung." Ucap Diandra.
"Apa yang membuat mu bingung? Bukan kah kamu tidak mencintai istri mu?" Tanya Anya.
Tapi kenyataan nya berbeda, Diandra benar benar mencintai Keisya.
"Aku bingung sekali saat ini." Gumam nya pelan.
Anya memegang tangan sahabat nya tersebut, dan mengatakan untuk memilih salah satu dari perempuan itu.
Keisya atau Rayna, salah satu dari mereka harus ber besar hati untuk menerima kenyataan yang akan terjadi.
"Itu dia masalah nya, aku tidak mungkin berpisah dengan Keisya aku mencintai nya."
"Dan untuk Rayna, aku juga tidak mungkin meninggalkan diri nya di saat dia sedang mengandung anak ku." Jelas nya.
Kali ini, Anya yang terdiam dan tidak tahu harus berbuat apa untuk membantu masalah sahabat nya saat ini.
Apa yang di katakan oleh Diandra memang benar, tidak mungkin Diandra meninggalkan salah satu dari mereka yang jelas jelas saat ini kedua nya sama sama tengah mengandung buat hati nya.
"Nanti kita bicarakan lagi, aku harus pulang." Diandra berdiri ketika melihat layar ponsel nya ada panggilan dari sang istri.
Anya mengangguk menyetujui nya.
"Kamu datang saja kesini, aku akan membantu kamu sebisa aku." Jelas Anya.
"Iya, terimakasih sebelum nya dan maaf sudah mengganggu waktu kerja mu." Jawab Diandra.
__ADS_1
***
"Maaf sayang, barusan tidak sempat aku jawab panggilan nya." Ucap Diandra menelpon balik istri nya dalam mobil.
"Iya tidak apa apa mas." Jawab Keisya.
"Ada apa sayang?" Tanya Diandra lembut.
"Mas sibuk tidak? Aku ingin membeli sesuatu." Tany nya.
Tidak berapa lama, Diandra memutus sambungan telpon nya dan langsung melaju kan mobil nya menuju ke rumah.
Ada yang istri nya itu inginkan saat ini, dan dengan sigap Diandra akan menuruti keinginan istri nya itu.
Beberapa saat kemudian.
"Asalamualaikum." Diandra membuka pintu.
"Waalaikumsalam." Keisya berjalan ke arah nya dengan pakaian yang sudah rapih dan terlihat sangat cantik dengan gamis model sress sederhana yang di kenakan nya.
"Ayo.." Keisya langsung berjalan keluar.
"Sayang?" Diandra menatap istri nya.
"Iya?" Keisya menoleh.
"Tunggu sebentar, aku ingin minum dulu." Ucap Diandra.
Keisya terkekeh dan meminta maaf kepada suami nya itu karna telah mengajak nya dengan terburu buru.
Saat Keisya ingin masuk kembali kedalam rumah untuk mengambilkan segelas air untuk suami nya itu, Diandra menahan nya.
"Kamu tunggu saja di mobil sayang, aku sebentar ko hanya minum saja." Ujar nya.
Keisya mengangguk lalu masuk kedalam mobil, sementara Diandra masuk kedalam rumah untuk minum sebentar.
Beberapa saat kemudian.
Kini kedua nya telah berada di dalam mobil, dan sedang menuju ke taman dekat pusat kota.
Dimana disana terdapat banyak sekali pedagang kaki lima.
"Ingin beli apa sayang?" Tanya Diandra.
"Aku ingin beli jajanan." Jawab nya.
Diandra menghentikan mobil nya, dan parkir sebentar sebelum berjalan menemani sang istri mencari apa yang dia mau.
"Tunggu, kamu jangan nyebrang sendirian." Diandra cepat cepat memegang tangan istri nya itu ketika melihat Keisya seperti akan menyebrang.
"Iya." Jawab Keisya sambil menautkan tangan mereka berdua.
__ADS_1