
Diandra tersenyum senyum sendiri di dalam ruangan kerja nya sambil menggigit gigit kecil ujung pulpen.
Dia masih tidak menyangka bahwa semalam Keisya mencium pipi nya.
Walaupun semalam dia mencoba untuk bersikap biasa saja. Namun dalam hati nya jantung nya itu berdetak dengan sangat keras.
Jika suara debaran dari jantung dapat di dengarkan, mungkin semalam Diandra akan lari menjauhi istri nya itu untuk menyembunyikan suara detak jantung nya itu.
Mengingat itu, sungguh saat ini membuatnya menjadi merindukan istri nya itu.
Diandra mengambil ponsel nya, dan
memperhatikan poto istri nya itu.
"Apakah sekarang aku jatuh cinta padanya?" Batin Diandra.
Rasa apapun yang dia rasakan saat ini kepada Keisya, yang jelas dia bahagia.
Diandra menelpon karyawan di bagian depan.
"Tolong panggilkan Desi ke ruangan saya." Ucap Diandra lalu menutupnya.
Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu di ketuk.
Desi masuk dan sedikit menundukan badan nya.
"Permisi pak, apakah bapak memanggil saya?" Tanya Desi.
"Ah iya, silahkan duduk." Ujar Diandra.
Sebetulnya tidak ada hal penting yang ingin ia bicarakan dengan asisten nya ini.
Dia hanya ingin berbicara tentang jadwal nya hari ini saja.
Saat ini dia benar benar ingin segera pulang dan bertemu dengan istri nya. Entah kenapa rasanya dia begitu merindukan Keisya.
Beberapa saat kemudian obrolan telah selesai.
Apa yang Diandra harapkan sesuai dengan jawaban yang di berikan oleh Desi.
Semua urusan kantor hari ini, bisa di handle oleh staff.
"Hari ini saya akan pulang dan kemungkinan tidak akan kembali lagi ke kantor. Jadi saya minta tolong untuk semua data kantor kamu yang urus." Jelas Diandra.
"Dan ini buat kamu." Diandra memberikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan pada asisten nya itu.
Desi menatap atasan nya itu.
"Ini untuk apa pak?" Tanya Desi heran.
Diandra tersenyum, lalu menjelaskan bahwa uang itu adalah bentuk ucapan terimakasih nya pada Desi, yang akan menggantikan semua urusan nya hari ini.
Beberapa kali Desi mencoba menolak uang tersebut, dan menjelaskan bahwa ini adalah tugas nya.
Tanpa harus di beri upah di luar gaji nya, dia akan melakukan tugasnya.
Namun karna paksaan dari Diandra, akhirnya Desi menerima uang tersebut. Dan tentu saja mengucapkan banyak terimakasih pada bos nya.
***
Keisya baru saja selesai memakai pakaian, dan saat ini dia sedang duduk di depan meja rias nya.
__ADS_1
Bersiap untuk merias tipis nya, sambil menunggu suami nya datang untuk menjemputnya.
Beberapa waktu yang lalu, saat Keisya sedang menonton tv.
Tiba tiba saja ponsel nya bergetar. Ada satu pesan masuk dari suami nya.
Keisya membaca pesan tersebut lalu mengerutkan kening nya. Padahal ini masih siang, namun suami nya itu mengirimkan pesan agar Keisya segera bersiap siap. Karna Diandra akan pulang untuk menjemputnya.
Keisya membalas pesan dari suami nya itu, dan bertanya akan pergi kemana. Supaya dia bisa mengenakan pakaian yang cocok.
Namun Diandra tidak membalas pesan darinya. Bahkan di telpon pun tidak di angkat.
Akhirnya Keisya memilih pakaian gamis model yang memiliki ikat di pinggang nya, dan bisa di buat sebagai dress yang anggun.
Sedang merias wajah, terdengar suara pintu kamar nya terbuka.
Diandra masuk, dan bertanya.
"Kamu sudah siap?" Tanya Diandra.
"Sebentar lagi." Jawab Keisya masih fokus pada cermin.
Diandra menunggu nya sambil memperhatikan.
Keisya menyadari tatapan dari suami nya itu, dari ekor matanya.
Dia menghentikan sejenak aktivitas tangan nya.
"Kalau terus di perhatikan seperti itu, rasanya aku tidak akan pernah beres berdandan." Ujar Keisya.
Diandra terkekeh kecil.
"Memang nya kenapa?" Tanya Diandra.
orang yang dicintai.
"Jangan melihat seperti itu, aku jadi gerogi." Jawab Keisya.
Diandra menggelengkan kepala nya. Namun tetap berdiri di tempat yang sama, tidak pergi dari sana walaupun istri nya itu sudah berkata seperti itu.
"Mas." Ucap Keisya.
"Iya iya, aku tunggu di bawah deh." Diandra melangkahkan kaki nya.
"Bukan itu!" Kata Keisya cepat.
Diandra kembali menghentikan langkahnya
dan membalikan badan nya kembali.
"Terus apa?" Tanya Diandra heran.
Keisya berdiri, dan memperlihatkan pakaian yang dia pakai. Sebuah gamis model dress yang sederhana, di lengkapi dengan hijab selaras dengan pakaian nya.
Keisya memutar badan nya.
"Apakah pakaian ini cocok untuk saat ini?" Tanya Keisya.
Diandra menatap istri nya itu tanpa berkedip.
Terlihat Keisya saat ini begitu anggun.
__ADS_1
"Cantik sekali." Gumamnya pelan.
"Apa mas?" Tanya Keisya yang samar samar mendengar perkataan suami nya itu.
Diandra tersentak.
"Eh, tidak." Jawab nya.
Keisya terlihat sedikit kesal, karna pertanyaan nya tidak di jawab oleh suami nya itu.
Lalu Keisya bertanya kembali untuk yang kedua kali nya.
Kali ini Diandra berbicara cukup keras. Dan mengatakan bahwa istri nya itu sangat terlihat anggun. Dan dia merasa beruntung dapat menikah dengan Keisya.
"Jangan seperti itu." Keisya membalikan badan nya.
Memunggungi suami nya itu. Sambil berusaha menyembunyikan wajah nya yang kini telah memerah.
Akhirnya Keisya telah selesai dengan urusan make up nya.
Kini dia dan suami nya itu berjalan beriringan menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai satu.
"Eh jika seperti ini, kita seperti raja dan ratu" Keisya merangkul tangan suami nya.
Diandra melirik istri nya itu.
"Iya, dan bayangkan saja bahwa di bawah kita itu sudah ada banyak orang yang bertepuk tangan melihat kedatangan kita berdua." Diandra tertawa.
Keisya terkekeh kecil mendengar penuturan suami nya.
Keisya baru saja selesai mengunci pintu.
Dia berjalan menghampiri suami nya yang sedang bersandar di pintu mobil.
"Sudah?" Tanya Diandra.
Keisya tersenyum, sambil menganggukan kepala nya.
Tiba tiba, saat Keisya ingin membuka pintu Diandra menyela nya dengan cepat, dan membuka kan pintu itu untuk nya.
"Eh?" Keisya terkejut.
"Silahkan masuk tuan putri" Goda Diandra.
Keisya menghentakan kaki nya, sebagai cara menahan rasa malu untuk sanjungan yang suami nya itu berikan.
Beberapa saat kemudian, kini Diandra dan Keisya telah keluar dari kawasan rumah nya.
"Mas sebenarnya kita mau kemana?" Tanya Keisya.
"Udah, nanti juga kamu tahu." Jawab Diandra sambil fokus pada kemudi nya.
"Kita akan ke rumah ibu ya?" Ujar Keisya antusias.
Diandra tersenyum melirik istri nya itu sebentar, lalu menggelengkan kepala nya.
"Bukan." Jawabnya.
Keisya berdecak.
"Lalu kita akan kemana?" Tanya Keisya lagi.
__ADS_1
Keisya saat ini benar benar merasa penasaran, suami nya itu akan membawanya kemana. Karna baru kali ini, dia keluar dengan suami nya dengan pesan bersiap siap dan tidak memberitahu tujuan nya.