
Malam hari, Keisya tidak sabar untuk segera tidur dan menunggu hari esok.
Setelah mengungkapkan keinginan nya untuk berziarah ke makam kedua orangtua nya, Diandra langsung mengosongkan jadwal kegiatan nya di kantor supaya bisa menemani sang istri pulang kampung.
"Tidurlah sayang.." Diandra mengusap pelan rambut istri nya.
"Iya mas." Keisya memeluk tubuh suami nya tersebut dan membenamkan kepala nya di dada Diandra.
Tidak berapa lama, terdengar dengkuran halus dari istri nya itu.
Diandra menatap dan terus mengelus pelan rambut nya.
Memandang Keisya seperti ini benar benar membuat dirinya merasa tenang, Keisya seolah menjadi satu satunya obat bagi segala kesakitan dan masalah nya.
Adzan shubuh berkumandang, Keisya membuka mata nya.
"Sayang?" Ucap Diandra.
Keisya mengerjapkan matanya beberapa kali, mengumpulkan kesadaran nya.
"Mas sudah bangun?" Ucap Keisya dengan suara yang parau.
"Iya sayang." Jawab nya.
"Ayo kita shalat berjamaah." Ajak Diandra.
Keisya bangun dari tempat tidur, dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan badan dan mengambil air wudhu secara bergatian dengan suami nya.
Beberapa saat kemudian.
Kedua nya telah selesai melaksanan kewajiban nya, dan berdo'a bersama.
Diandra memutar badan nya dan mencium kening istri nya.
"Mas nanti sebelum berangkat kita ke rumah Ibu dulu." Pinta Keisya.
Diandra tersenyum, dia mengerti betul bahwa istri nya juga merindukan Ibu.
"Iya sayang, nanti kita kerumah Ibu dulu." Jawab nya sambil mengusap kepala Keisya pelan.
Setelah membereskan mukena dan sejadah, Keisya turun menuju dapur dan bersiap untuk membuat sarapan.
Tidak berapa lama, Diandra ikut turun menghampiri istri nya.
"Sayang." Diandra memegang pundak Keisya dari belakang.
"Eh.." Keisya tersentak kaget.
"Mas ngagetin!" Ucap nya.
Diandra terkekeh kecil sambil meminta maaf.
Keisya dan Diandra memasak sarapan bersama sama, walaupun Keisya sudah memberitahu suami nya itu untuk duduk dan menunggu saja namun Diandra bersikeras untuk ikut membantu istri nya.
Sebuah alasan yang mampu membuat Keisya mengalah dan membiarkan suami nya untuk ikut campur adalah kehamilan nya, Diandra selalu mengucapkan alasan tersebut jika dirinya ingin membantu sang istri dalam kegiatan nya.
__ADS_1
"Yeayy sudah selesai.." Keisya bersorak mentap semua hidangan di meja makan.
"Terimakasih sudah membantu sayang." Keisya memeluk suami nya.
Kedua nya berlanjut sarapan bersama.
"Mas kita bawa apa ya buat Ibu?" Tanya Keisya sambil menghidangkan secangkir kopi untuk suami nya.
"Iya, bawa apa ya.." Diandra terlihat berfikir.
"Eh tapi sebaiknya tidak usah membawa apa apa sayang." Lanjut Diandra.
Keisya menautkan kedua alisnya, dan bertanya kenapa tidak harus membawa apa apa.
"Kenapa?" Tanya nya.
"Kita sudah membawa apa yang Ibu dan Ayah mau ko.." Ujar Diandra.
"Apa?" Tanya Keisya polos.
"Ini.." Diandra mengusap lembut perut sang istri.
Keisya tersenyum, dan memegangi tangan suami nya.
***
Waktu menjelang siang.
Keisya dan Diandra baru saja sampai di halaman rumah Ibu.
Walaupun belum turun dari mobil, namun sudah terlihat di depan teras sana Ibu berteriak memanggil nama Keisya.
"Seperti nya hanya kamu saja yang Ibu rindukan." Ucap nya bercanda.
"Kenapa seperti itu?" Tanya Keisya.
"Itu bukti nya kamu lihat sendiri, kita belum keluar dari mobil saja Ibu sudah manggil manggil kamu. Hanya nama kamu saja." Ucap Diandra.
Keisya terkekeh kecil mendengar penuturan suami nya tersebut.
"Asalamualaikum Ibu." Keisya mencium tangan Ibu.
"Waalaikumsalam sayang, ya ampun kenapa baru kesini lagi Ibu kangen banget sama kamu." Ibu tidak tahan lagi dan langsung
memeluk menantu nya tersebut.
Diandra berjalan pelan sambil berdehem kecil, memberikan sebuah isyarat bahwa bukan hanya ada Keisya saja.
"Eh anak Ibu." Ucap Ibu.
Diandra tersenyum sedikit menundukan badan sambil mencium tangan Ibu nya.
"Bagaimana kabar kamu nak?" Tanya Ibu.
"Aku baik bu.." Jawab Diandra.
__ADS_1
Setelah hanya bertanya tentang kabar saja, Ibu kembali sibuk dengan menantu kesayangan nya tersebut.
Ibu menarik Keisya untuk segera masuk kedalam rumah, karna cuaca memang cukup panas.
Diandra hanya bisa melongo saja, di acuhkan oleh Ibu dan istri nya.
"Bibi, lihat siapa yang datang." Teriak Ibu.
Tidak lama, terlihat bi Lala datang dari arah dapur.
"Non.." Bi Lala terlihat sangat antusias dengan kedatangan nona muda nya itu.
Keisya menghampiri bi Lala dan berjabat tangan, namun saat Keisya ingin mencium tangan nya bi Lala buru buru menarik tangan nya.
Keisya dan Ibu saling bertatapan.
"Kenapa bi?" Tanya Keisya.
"Jangan seperti itu non, saya tidak enak." Ucap bi Lala.
Keisya tersenyum.
"Bi, dalam agama islam tidak ada yang nama nya menghormati karna status sosial nya. Semua orang di mata allah itu sama derajat nya bi, tidak sepantas nya seseorang memilih siapa orang yang harus dia hormati hanya karna status sosial nya. Begitupun dengan saya bi, saya menghormati bi Lala sama seperti saya menghormati Ibu." Jelas Keisya.
Ibu tersenyum mendengar penjelasan dari menantu nya tersebut, sedangkan bi Lala terlihat langsung berkaca kaca.
"Terimakasih non." Bi Lala memeluk Keisya saking terharu nya.
Keisya dan Ibu duduk di sofa, sedangkan bi Lala kembali ke dapur untuk membuatkan minuman dan membawa makanan ringan.
"Ibu, Keisya sama mas Andra mau pergi ke kampung hari ini." Keisya meminta izin pada Ibu.
"Oh iya tentu saja sayang, hati hati di jalan yah.." Jawab Ibu.
"Iya Ibu terimakasih, Keisya ingin berziarah dan mengaji di makam Ibu dan Ayah Keisya merindukan mereka bu." Keisya menundukan kepala nya.
Ibu yang sempat tersenyum tiba tiba senyum nya memudar, ikut merasakan kesedihan yang di rasakan oleh menantu nya itu.
"Kamu yang sabar ya nak, do'akan Ibu dan Ayah kamu semoga berada di surga nya allah." Ibu mengusap punggung Keisya.
Walaupun mata nya sudah berkaca kaca, Keisya masih mencoba untuk tersenyum.
"Kamu jangan sedih lagi sayang, ada Ibu Ayah bi Lala dan Diandra yang akan selalu menemani kamu dan tidak akan membiarkan kamu sendirian." Jelas Ibu mencoba menghibur Keisya.
Keisya harus merasa terharu kembali dengan sikap dan rasa sayang yang Ibu mertua nya itu perlihatkan padanya.
Berbeda dengan Ibu walaupun Ibu telah mengucapkan hal demikian, namun dalam hati nya kini ada ke khawatiran yang teramat besar.
Entah apa Ibu bisa menepati perkataan nya kepada Keisya atau tidak, mengingat kembali masalah yang sedang di hadapi oleh putra nya saat ini.
"Oh iya, ngomong ngomong suami kamu kemana?" Tanya Ibu mencoba mengalihkan pembicaraan.
Keisya terdiam, dia sendiru baru mengingat nya setelah Ibu berbicara barusan.
"Iya bu, mas Andra kemana ya?" Ucap Keisya.
__ADS_1
"Aku disini." Diandra melambaikan tangan nya.
Ternyata Diandra ada di sofa yang terletak tidak jauh dari mereka berdua, mungkin karna terlalu asik mengobrol saja sampai sampai Ibu dan Keisya tidak menyadari kehadiran Diandra.