
Hari menjelang siang, dengan sedikit terpaksa Diandra harus pergi ke kantor meninggalkan istri nya menunggu Kakek tanpa dirinya.
Untung lah sebelum berangkat ke kantor tadi, Zia datang ke rumah sakit untuk menemani istri nya teresebut.
"Ini pak, semua harus selesai hari ini untuk mencapai kesepakatan." Ucap Desi.
Diandra membaca satu persatu dokumen yang di berikan oleh asisten nya tersebut.
Hingga tiba tiba, ponsel nya berbunyi.
Diandra melihat ponsel nya, nama ibu tertera di layar.
"Asalamualaikum." Ucap Diandra menjawab panggilan.
***
Semua urusan di kantor telah selesai, Diandra berjalan cepat meninggalkan ruangan nya.
Saat ini dirinya harus pergi ke rumah ibu terlebih dahulu, karna ada suatu hal yang harus mereka bicarakan.
Diandra mencoba untuk bertanya tentang perihal apa yang akan mereka bicarakan saat di telpon tadi, namun ibu menolak bicara dan menyuruh putra nya untuk datang langsung ke rumah.
"Asalamualaikum.." Diandra membuka pintu.
Bi Lala menjawab salam menghampiri dirinya.
"Tuan.." Ucap bi Lala.
"Ibu mana bi?" Tanya Diandra.
Beberapa saat kemudian.
Diandra pergi menuju ruang kerja Ayah nya, sambil menunggu Ibu dan Ayah nya yang sedang di panggil oleh bi Lala.
"Nak.." Ibu membuka pintu.
Diandra menoleh pada ibu nya tersebut, aneh bagi nya karna wajah Ibu terlihat sedang bersedih saat ini.
"Ada apa?" Tanya Diandra cemas.
Tiba tiba saja Ibu menangis tersedu sedu sambil memeluk dirinya.
"Ada apa Ibu?" Diandra semakin cemas.
Masih, Ibu tidak menjawab pertanyaan dari putra nya tersebut dan memeluk nya semakin erat.
Diandra diam, membiarkan Ibu untuk meluapkan rasa sedih nya terlebih dahulu.
Setelah Ibu tenang, kedua nya terdiam beberapa saat hingga tiba tiba Ibu bertanya perihal hubungan Diandra dengan Rayna.
"Kamu masih berhubungan dengan dia?" Tanya Ibu pelan.
"Kenapa Ibu bertanya hal itu? Ada apa?" Diandra sedikit merasa heran.
"Ada yang mau Ibu tanyakan." Ucap Ibu.
__ADS_1
Seperti nya, apa yang di takutkan oleh dirinya akan terjadi saat ini.
"Rayna menelpon Ibu tadi pagi." Ucap Ibu.
"Tolong jelaskan pada Ibu bahwa apa yang di katakan oleh Rayna itu tidak benar." Ibu menutup mulut nya sambil kembali menangis.
Diandra tersentak kaget, mungkin kah Rayna telah mengatakan kepada Ibu bahwa dirinya kini tengah hamil dan mengandung anak dari Diandra.
"Apa yang Ibu bicarakan?" Tanya Diandra pelan, tidak ingin memulai awal pembicaraan.
"Apa benar Rayna hamil?" Tanya Ibu tersedu sedu.
Diandra terdiam, tiba tiba tubuh nya terasa kaku tidak tahu harus berkata apa dan memberi penjelasan apa pada Ibu nya.
Diandra hanya bisa menundukan kepala nya saja sebagai sebuah jawaban atas pertanyaan Ibu.
"Ya allah nak.." Ibu semakin terisak.
Tadi pagi Ibu memang mendapatkan sebuah panggilan dari nomor telpon yang tidak di kenal.
Yang awal nya Ibu tidak ingin menjawab panggilan tersebut, Ibu terpaksa menjawab panggilan itu karna rasa penasaran.
Pasal nya selama ini tidak pernah ada nomor telpon tidak di kenal menghubungi Ibu, dan itu membuat Ibu penasaran siapa penelpon tersebut hingga ibu memutuskan untuk menjawab nya.
Awal perbincangan di telpon hanya sekedar bertanya kabar saja, setelah Ibu mengetahui bahwa itu adalah mantan pacar putra nya.
Hingga saat Ibu berpamitan akan menyudahi obrolan mereka, Rayna meminta waktu sebentar.
Dan tiba tiba saja mengucapkan bahwa dirinya kini tengah mengandung anak dari putra nya.
Namun Rayna mencoba meyakinkan Ibu dengan mengatakan untuk bertanya langsung pada Diandra, bahwa dia tidak berbohong.
Dan saat ini, Ibu telah mendapatkan jawaban dari putra nya secara langsung.
"Maafin Andra bu." Diandra menunduk.
Ibu menangis tersedu sedu, tidak terbayang oleh Ibu akan jadi seperti apa kelanjutan rumah tangga anak nya saat ini.
"Ibu tahu nak, Ibu memang menyetujui persyaratan dari kamu sebelum kamu menikah dengan Keisya. Tapi Ibu tidak menyangka bahwa perilaku kamu akan sampai sejauh ini." Jelas Ibu.
Dengan cepat Diandra turun dari sofa, dan bersujud di hadapan Ibu.
"Maafin Andra bu, Andra tahu ini semua salah. Andra salah bu.." Diandra mulai menangis.
Saat ini, yang mengetahui hal ini hanya dirinya dan Ibu saja.
Ibu sengaja tidak memberitahu Ayah perihal masalah ini karna Ibu tahu, suami nya itu akan bereaksi seperti apa.
"Ibu tidak tahu harus berbuat apa saat ini, dan bagaimana dengan rumah tangga kamu saat ini." Ucap Ibu pelan.
Diandra menengadahkan kepala nya, benar apa yang di katakan oleh Ibu memang benar bagaimana nasib rumah tangga nya saat ini jika sampai istri nya mengetahui suami nya telah menghamili perempuan lain.
Waktu berlalu cukup lama, kini Ibu mulai tenang.
"Ibu tidak usah khawatir, Andra akan menyelesaikan masalah ini secepat mungkin." Ucap Diandra.
__ADS_1
"Ibu merasa tidak enak pada istri mu nak, padahal dia baik dan merawat mu dengan tulus." Ibu menatap kosong.
***
Diandra sampai ke rumah sakit, dengan membawa beberapa pakaian ganti untuk sang istri dan makanan.
"Asalamualaikum." Diandra membuka pintu ruangan.
"Waalaikumsalam." Keisya menghampiri suami tersebut, lalu mencium tangan nya.
"Bagaimana keadaan Kakek?" Tanya Diandra.
Saat ini Kakek telah siuman, dan siang tadi juga telah di pindah kan ke ruangan rawat.
"Udah lebih baik alhamdulillah mas." Ucap nya.
Diandra menatap istri nya tersebut, sangat terlihat jelas bahwa istri nya itu saat ini tengah bahagia karna keadaan Kakek yang telah membaik.
Diandra mengusap pelan kepala Keisya.
"Kamu makan dulu yah.." Ucap nya lembut.
Diandra duduk di sebelah tempat tidur Kakek, sedangkan Keisya makan terlebih dahulu dengan Zia yang masih ada disini menemani.
"Maafin aku kek.." Batin Diandra sambil menatap wajah Kakek yang telah tertidur.
Terbayang saat ini di benak nya, Kakek dan Nenek pasti akan sangat kecewa kepada dirinya karna telah menyakiti perasaan cucu nya.
Diandra mengusap kasar wajah nya.
"Mas.." Panggil Keisya.
Diandra menoleh.
"Sudah sayang?" Tanya Diandra sambil tersenyum.
"Sudah mas.." Jawab nya.
Keisya duduk di sebelah suami nya.
"Besok Kakek bisa pulang." Ucap nya.
"Alhamdulillah kalau begitu." Diandra tersenyum.
Waktu semakin larut malam, Keisya dan Zia tidur di sofa sedangkan Diandra pergi keluar area rumah sakit untuk menenangkan diri nya.
Diandra membuka ponsel, tidak ada notifikasi dari Rayna disana.
Diandra yang sempat bernafas lega benar benar merasa kecewa dengan tindakan yang di lakukan oleh Rayna.
"Kenapa dia harus melibatkan Ibu dengan masalah ini.." Gumam nya.
Diandra menarik nafas panjang, dan menghembuskan nya secara kasar.
Besok setelah mengantarkan Kakek pulang, Diandra berniat akan menemui kekasih nya itu dan membicarakan kelanjutan dari masalah ini.
__ADS_1