
Taman kecil, hamparan rumput yang berwarna hijau dan suara air sungai kecil yang mengalir dengan damai menjadi teman bagi Keisya di pagi hari ini.
Dengan earphone yang terpasang pada ponsel nya, Keisya menengadahkan kepala nya sambil menghirup sejuk nya udara.
Pagi pagi sekali setelah melaksanakan ibadah shalat shubuh Keisya keluar dari rumah Zia, menuju sebuah taman kecil di pinggiran luasnya tanah pesawahan.
Berbagai rasa berkecamuk dalam diri nya saat ini, entah rasa apa yang sebenarnya dia rasakan saat ini.
Semua tercampur aduk dalam hati dan benak nya.
"Keisya.." Panggil Zia.
Keisya tetap menutup mata nya, tidak mendengar panggilan dari sahabat nya tersebut.
"Kei.." Zia menepuk punggung Keisya.
Keisya menoleh sambil melepas earphone nya.
"Oh pantas saja tadi aku panggil ga noleh, ternyata pakai earphone." Ucap Zia.
Keisya membalas ucapan dari sahabat nya itu dengan sebuah senyuman.
"Ada apa?" Tanya Keisya.
"Tidak ada, hanya saja aku kaget melihatmu sudah tidak ada di rumah pagi pagi sekali." Ujar Zia menoleh.
Keisya tertawa kecil, sambil meminta maaf.
Zia duduk di sebalah Keisya dan kedua nya pun kembali diam dan menatap kedepan, membiarkan kesunyian menemani mereka berdua.
20 menit berlalu.
"Ayo pulang, kamu belum sarapan." Ajak Zia.
"Nanti saja." Keisya melirik sebentar.
Zia menghela nafas nya, dengan kondisi sahabat nya yang seperti sekarang tidak mungkin Zia membiarkan Keisya telat makan.
Mengingat Keisya sedang mengandung dan membutuhkan nutrisi untuk nya dan bayi nya.
"Ayo Kei, kita pulang." Ajak Zia kembali.
"Aku masih ingin disini." Jawab Keisya pelan.
Zia memegang tangan Keisya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu bagaimana perasaan mu saat ini, tapi untuk sarapan kamu harus ingat saat ini kamu tengah berbadan dua." Zia mencoba memberi penjelasan.
Keisya memegangi perut nya, sambil mengusap nya pelan.
"Aku belum lapar." Jawab nya kembali, dengan pelan.
Zia terus berusaha membujuk Keisya untuk pulang dan sarapan, melihat Keisya yang dalam keadaan pucat benar benar membuat Zia cemas.
"Aku engga mau sampai kesehatan kamu menurun, kamu harus makan. Apa kamu tidak sayang sama Kakek dan Nenek jika sampai kamu jatuh sakit." Jelas Zia dengan mata yang telah berkaca kaca.
Zia benar benar mengerti dengan keadaan Keisya saat ini, namun Zia memang tidak ingin ikut campur dalam masalah rumah tangga nya.
Zia hanya ingin membantu Keisya sebisa nya, dengan merawat kesehatan Keisya dan kandungan nya. Selain itu, Zia akan diam jika bukan Keisya sendiri yang meminta tolong padanya.
Akhirnya setelah beberapa lama, Keisya mengalah dan mau ikut pulang bersama dengan Zia.
Di jalan pulang, di sebuah pertigaan kecil Keisya terdiam sejenak.
Pertigaan yang menghubungkan jalan ke rumah sang Nenek.
"Apa kamu mau pulang?" Tanya Zia.
"Aku belum siap untuk menceritakan semua nya." Ujar Keisya pelan.
"Jangan terlalu banyak fikiran, ibu hamil tidak boleh stres." Ucap Zia.
Beberapa saat kemudian.
Keisya dan Zia telah sampai di rumah.
"Ya allah nak, kamu dari mana buat bibi khawatir aja." Ucap Ibu Zia dengan raut wajah cemas.
"Maaf ya bibi, tadi Kei cuma mau nyari angin saja." Keisya meminta maaf karna telah membuat orangtua Zia khawatir padanya yang pergi tanpa di ketahui orang rumah.
"Ya sudah sayang, sekarang kalian berdua serapan. Ibu sudah sarapan sama Ayah tadi."
Keisya dan Zia mengangguk secara bersamaan, lalu kembali berjalan menuju dapur.
***
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang?" Tanya Anya.
Diandra terdiam sambil memegangi kepala nya yang terasa pusing, karna semalaman tidak bisa tidur.
"Entah lah." Jawab nya pelan.
__ADS_1
Pergi nya Keisya benar benar berpengaruh besar dalam hidup nya, padahal baru satu malam Keisya pulang namun di pagi hari ini Diandra sudah terlihat sangat berantakan.
Selain tidak bisa tidur karna merasakan rindu pada Keisya, dirinya juga saat ini sangat tertekan dengan rentetan pesan dari Rayna yang menginginkan kepastian hubungan mereka berdua.
"Mungkin aku akan menyusul Keisya dulu." Ucap Diandra.
Anya tersenyum mendengar nya, walaupun Anya lebih mengenal Rayna daripada Keisya tapi dirinya lebih ingin melihat masa depan Diandra bersama dengan Keisya, bukan dengan Rayna yang jelas jelas Anya ketahui dulu dia lah penyebab Diandra bergabung dengan diri nya di sebuah pesta yang selalu di lakukan di setiap malam nya.
"Pergi lah, atau kalau perlu aku bisa mengantarmu." Tawar Anya.
"Tidak usah, aku telah banyak merepotkan mu." Diandra merasa tidak enak.
Anya tersenyum.
"Apa yang kamu katakan? Aku sama sekali tidak merasa di repotkan oleh mu. Aku memang ingin membantu mu selagi aku bisa membantu." Ujar Anya.
Selain dirinya yang ingin membantu Diandra, dirinya juga tidak mungkin membiarkan Diandra berkendara dalam kondisi seperti sekarang ini. Terlebih lagi Diandra belum tidur sama sekali.
"Sudah lah kamu tunggu sebentar disini, atau kalau perlu kamu tidur dulu deh. Aku ada meeting sebentar, sebelum pukul 11 aku sudah selesai. Dan setelah itu mari kita pergi bersama." Jelas Anya.
Diandra menghela nafas sambil menyandarkan tubuh nya, Anya benar. Sebaiknya dirinya memang mencoba untuk tidur terlebih dulu, walaupun tidak ada rasa kantuk tapi Diandra tetap tidur walaupun hanya sebentar saja.
Setelah kedua nya sepakat, tidak lama dari itu Anya keluar dari ruangan untuk pergi meeting dan Diandra mulai merebahkan badan nya di sofa.
Sedari tadi diri nya tidak henti mencoba untuk menghubungi nomor ponsel istri nya, namun percuma saja. Setelah semalam tidak aktif, nomor istri nya tersebut masih belum aktif sampai saat ini.
"Mungkin memang sebaik nya aku menyusul nya saja, itu lebih baik daripada berbicara padanya lewat telpon." Batin Diandra.
Beberapa saat kemudian Diandra mulai menutup mata nya.
Waktu menjelang siang.
Anya baru saja selesai dengan urusan nya, sambil masuk kedalam ruangan nya Anya membawa seorang ob yang membawakan makanan untuk dirinya dan Diandra.
"Andra.." Anya membuka pintu.
"Kita makan dulu sebelum berangkat." Ucap Anya.
Diandra merubah posisi nya menjadi duduk.
"Sebenarnya aku tidak lapar." Ujar Diandra menatap makanan di hadapan nya.
Anya menatap Diandra, tatapan yang sulit di artikan namun tanpa Anya berkata pun Diandra telah mengetahui dirinya harus apa.
"Iya iya aku makan." Diandra akhirnya memakan makanan nya secara perlahan lahan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian.
Diandra dan Anya telah selesai makan, tanpa banyak menunda waktu kembali kedua nya akan langsung berangkat saat ini juga, mengingat waktu perjalanan yang cukup lama dan keberangkatan ini merupakan hal yang sangat penting jadi pasti akan memakan banyak waktu juga.