
Untuk pertama kali nya Diandra merasa malu.
Saat ini, Diandra dan Keisya berada di dalam kamar, untuk beristirahat dari kesibukan hari ini.
Namun kali ini ada yang berbeda, Keisya tidur tidak memunggungi dirinya.
Tapi sebalik nya.
Sedari tadi, Keisya terus menatap suami nya itu.
Diandra sudah mencoba untuk memejamkan matanya. Namun tetap saja, tatapan dari istri nya itu dapat ia rasakan.
"Tidurlah." Ucap Diandra pelan.
Keisya tidak bergeming, dia masih saja menatap suami nya itu sambil tersenyum.
Diandra menghela nafas, lalu menaikan selimutnya. Menutup seluruh wajahnya.
Keisya terkekeh geli melihat tingkah suami nya.
"Ahh, sudah tidurlah." Ucap Diandra lagi.
Kali ini Diandra menatap istri nya itu.
Keisya menggelengkan kepala nya, tidak berhenti menatap suami nya itu.
"Kenapa sih, apa ada yang aneh dariku?" Tanya Diandra penasaran.
"Jawablah" Ucap Diandra yang tidak mendapatkan jawaban dari istri nya.
Diandra mengubah posisi tidur nya, dari terlentang menjadi miring.
Menghadap pada istri nya. Kini keduanya saling berhadapan.
Kedua bola mata nya terkunci satu sama lain, rasanya tidak dapat memalingkan pandangan ini.
Perlahan, tatapan Diandra berubah menjadi tatapan yang menenduhkan.
Tangan nya mengusap lembut wajah istri nya itu.
"Ada apa?" Tanya Diandra lembut.
Keisya menggengkan kepala nya, dan memegang tangan suami nya yang tengah mengelus wajah nya.
"Mas, aku mencintaimu" Kata Keisya pelan namun pasti.
Diandra terdiam mendengar pernyataan istri nya itu.
Tidak dapat di percaya bahwa istri nya itu mengutarakan perasaan nya secara langsung.
Diandra menggeser tubuhnya. Hingga membuat badan nya dan Keisya tidak berjarak sama sekali. Sampai hidung kedua nya beradu.
Tatapan mata Diandra kini pindah pada bibir merah mungil milik istri nya itu.
Dia menciumnya dengan pelan, ciuman pertama dengan istri nya.
Keisya diam menerima perlakuan suami nya itu.
Diandra menatap mata istri nya itu, kemudian mengecup bibir nya sekali lagi.
Kali ini, Keisya menutup matanya.
Diandra mulai ******* bibir istri nya itu, perlahan dan penuh dengan sebuah arti.
Keisya tetap diam saja, karna ini menjadi kali pertama bagi nya. Namun sentuhan lembut yang di berikan oleh suami nya ini membuatnya terbuai dan mulai bisa membalas ciuman suami nya.
Hingga beberapa waktu berlalu kedua nya
__ADS_1
benar benar saling menikmati satu sama lain.
Saling mencurahkan perasaan mereka masing masing dalam sebuah rasa.
Saat nafsu suami nya itu semakin menggebu gebu, dan tangan nya mulai menjelajahi tubuh Keisya.
Keisya reflek menghentikan aktivitas suami nya itu. Dan melepas ciuman nya.
Diandra menautkan kedua alisnya.
"Kenapa?" Tanya Diandra sambil mencoba kembali menggerakan tangan nya.
Namun Keisya tetap menahan tangan suami nya itu, semakin keras.
"Mas lupa?" Tanya Keisya.
Diandra diam kebingungan.
Keisya tersenyum.
"Aku kan sedang ada tamu." Bisik nya.
Diandra tersentak dan baru mengingat nya.
Sambil mengehela nafas, Diandra memegang pipi istri nya itu.
"Aku tunggu sampai tamu itu pergi." Ucap nya lalu mengecup kembali bibir istri nya.
Keisya tersenyum sambil memegang tangan suami nya.
"Nanti akan aku beri tahu, jika tamu itu sudah pergi"
Diandra mencium kening istri nya. Secara perlahan dan seakan penuh dengan sebuah arti.
Keisya memejamkan matanya, menikmati setiap detik nya saat ini.
"Tidurlah" Diandra memeluk istri nya.
Keisya membenamkam kepala nya pada dada Diandra dan mulai menutup matanya.
Pagi tiba. Keisya bangun dan menatap suami nya.
Dia tersenyum sambil mengelus lembut rambut suami nya.
"Semoga kamu bisa mencintai ku" Ucap nya pelan.
Lalu Keisya turun, dan berjalan keluar kamar.
Saat Keisya menutup pintu, Diandra membuka matanya dan tersenyum.
Kini, waktu sudah hampir pukul 7. Semua makanan telah tersaji di meja makan.
Keisya berjalan hendak menuju kamar, untuk membangunkan suami nya.
Baru saja akan menaiki tangga, terlihat dari atas Diandra turun dalam keadaan sudah
rapih dan siap untuk berangkat ke kantor.
"Pagi.." Keisya merekahkan senyumnya.
"Pagi" Diandra mengusap kepala istri nya itu.
"Aku pikir mas belum bangun, maaf ya mas." Ujar Keisya.
"Maaf untuk apa?" Tanya Diandra.
Keisya menuangkan segelas air terlebih dahulu, sebelum menjawab pertanyaan suami nya.
__ADS_1
"Maaf karna aku tidak sempat menyiapkan pakaian untuk kamu barusan." Ujar Keisya.
Diandra menerima gelas dari istrinya itu, lalu meneguknya hingga habis.
"Tidak apa apa, kamu kan pasti tadi sedang memasak untuk sarapan kita." Diandra menatap Keisya.
Keisya mengambil satu piring, dan mengambil nasi.
"Sama apa mas?" Tanya Keisya.
"Itu cumi cumi enak seperti nya, sama tempe juga."
Keisya benar benar melayani suami nya ini dengan sepenuh hati.
Selesai sarapan, Diandra tengah bersiap untuk berangkat ke kantor.
Dia saat ini tengah menunggu Keisya yang sedang membuatkan bekal terlebih dahulu, untuk makan siang nya nanti.
Beberapa saat kemudian Keisya datang membawa tas kecil, berisikan bekal makan siang untuk suami nya itu. Lengkap dengan jus dan sedikit buah buahan.
"Aku berangkat ya." Ucap Diandra.
Keisya tersenyum lalu mengulurkan tangan nya.
"Asalamualaikum." Ucap Diandra.
"Waalaikumsalam."
Sudah dua hari ini Diandra kini terbiasa untuk mengucapkan salam terlebih dahulu. Walaupun dalam beberapa kesempatan Diandra sering lupa untuk mengucap salam.
Namun lambat laun pasti dia akan terbiasa dengan itu. Dan semua ini berkat Keisya, istri nya.
Setelah Diandra pergi. Keisya kembali masuk kedalam rumah, dan mulai membereskan sisa pekerjaan nya yang belum selesai.
Keisya masuk kedalam kamar dan merapihkan tempat tidur nya.
Setelah selesai, dia tersenyum sambil menatap tempat tidur nya itu.
Bayangan semalam teringat kembali. Itu benar benar menjadi pengalaman pertama nya.
Diandra menjadi satu satu nya orang yang benar benar menyentuh dan melakukan berbagai hal padanya.
Pipi nya sedikit memerah mengingat hal itu. Namun dia benar benar merasa sangat bahagia dan yakin, bahwa dia mencintai suami nya itu.
Di kantor.
Padahal waktu masih pagi, namun Diandra sudah di hadapkan dengan berbagai kesibukan.
Contoh nya seperti saat ini, dia sedang menandatangani beberapa dokumen kerja sama dengan beberapa klien nya.
Karna cukup pusing jika harus membaca dokumen itu satu persatu, Desi menjelaskan secara singkat setiap ringkasan dokumen itu sebelum Diandra menandatangi nya.
"Terus, setelah ini apa lagi jadwal ku?" Tanya Diandra.
Desi mengangguk.
"Baik pak, ini dia jadwal hari ini. Tidak ada yang mengharuskan bapak turun sendiri menangani nya. Jika bapak mau bapak bisa memberi perwakilan pada setiap urusan hari ini." Jelas Desi.
Diandra terdiam sejenak.
"Apa ayah juga seperti itu dulu?" Tanya Diandra.
"Iya pak. bapak juga seperti itu dulu, beberapa karyawan senior disini bisa pak Andra percayai."
"Jika bapak mau, saya akan memanggil semua orang kepercayaan bapak dulu disini." Jelas Desi.
Diandra cukup tertarik dengan hal ini, dan memang seharusnya dia juga mengenal semua karyawan yang memiliki peranan penting di perusahaan nya ini.
__ADS_1