
Setelah mendapatkan kabar dari suster bahwa istri nya telah pulang, Diandra langsung berinisiatif untuk pergi menyusul istri nya ke kampung.
Walaupun dirinya sendiri merasa ragu dan takut, tapi rasa rindu yang di rasakan nya mengalahkan ketakutan nya sendiri.
Terbayang dalam pikiran nya saat ini, bagaimana raut wajah kecewa dari Kakek dan Nenek saat bertemu dengan nya.
Diandra telah melanggar janji nya untuk tidak menyakiti Keisya dan membahagiakan nya.
Malam tiba, Diandra baru saja sampai di depan halaman rumah Keisya.
Waktu yang sudah menunjukan pukul sembilan lebih membuatnya ragu untuk turun dari mobil, dia takut Keisya telah tidur dan kedatangan dirinya malah mengganggu istitahat nya.
Diandra memutar mutar ponsel nya sambil berfikir, harus kah dirinya turun dan memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah, atau sebalik nya dia pulang saja dsn kembali besok hari.
Sedang berfikir, tiba tiba saja ponsel nya berdering. Ada sebuah notifikasi masuk.
Diandra membuka ponsel nya, ada satu pesan masuk dari sang istri disana.
"Masuk lah, aku menunggu mu." Isi pesan Keisya.
Diandra memutar tubuh nya, memperhatikan lingkungan sekitar.
Dengan perasaan yang senang, Diandra langsung turun dari mobil nya dan memberanikan diri mengetuk pintu.
"Asalamualaikum." Diandra mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam." Pintu terbuka, terlihat Nenek menyambutnya dengan sebuah senyuman.
"Nek.." Diandra membungkukan tubuh nya, dan mencium tangan Nenek.
"Masuk nak, Keisya sudah menunggu kamu." Ucap Nenek.
Diandra terdiam sejenak, respon dari Nenek ternyata tidak sesuai dengan bayangan di pikiran nya.
Nenek terlihat biasa saja, dan bahkan menyambut nya dengan sebuah senyuman.
Diandra berjalan perlahan lahan, hingga sampai di depan pintu kamar Keisya Diandra berhenti.
Keraguan mulai menyelimuti dirinya kembali, rasa takut tiba tiba saja menyeruak dalam dirinya.
"Aku harus menyelesaikan semua masalah yang telah aku perbuat, dan membawa Keisya kembali pulang." Batin Diandra.
Dengan mata yang tertutup, perlahan Diandra membuka kamar.
"Asalamualaikum." Diandra mengucap salam.
"Waalaikumsalam." Jawab Keisya.
Diandra masuk perlahan lahan dan menutup pintu.
Terlihat Keisya tengah bersandar di tempat tidur dengan sebuah tasbih di tangan nya.
"Kita harus bicara." Ucap Diandra ragu ragu.
__ADS_1
"Iya, kita memang harus bicara." Jawab Keisya tegas.
Diandra duduk di tepian tempat tidur, suasana begitu canggung di rasakan nya saat ini hingga Diandra berkeringat.
"Kapan hari pernikahan nya?" Tanya Keisya tiba tiba.
Diandra menoleh pada Keisya.
"Entah, tanggal pernikahan nya belum di tentukan." Jawab Diandra pelan.
Hening, suasana kembali hening untuk beberapa saat.
"Maafkan aku." Diandra menundukan kepala nya.
"Sampai kapan mas mau terus menerus mengucapkan kata maaf padaku?" Tanya Keisya.
"Sampai kamu memaafkan ku, dan kembali pulang." Jawab diandra cepat.
Keisya tersenyum sinis.
"Tidak mungkin aku akan kembali pulang kepada orang yang jelas jelas sudah melakukan sebuah pengkhianatan." Jelas Keisya.
Diandra menggeser posisi nya, lebih mendekat kan dirinya dengan sang istri.
"Aku menyesal, aku menyesali semua nya." Ucap Diandra bersungguh sungguh.
"Iya, tapi sudah terlambat untuk itu." Jawab Keisya.
Diandra mencoba menggenggam tangan Keisya, namun Keisya menarik tangan nya.
"Kenapa?" Tanya Diandra.
Keisya diam, tidak menjawab pertanyaan dari suami nya tersebut.
"Mas, mungkin lebih baik kita berpisah saja." Ucap Keisya tiba tiba.
Diandra menatap Keisya, sambil menggelengkan kepala nya.
Tidak mungkin, dan tidak akan pernah ingin Diandra berpisah dengan Keisya.
"Kita bisa perbaiki semua nya." Ujar Diandra.
"Tidak mas, aku tidak akan sanggup berada dalam satu atap dengan perempuan lain, dan aku tidak pernah mau di madu." Jelas Keisya.
Keisya mengatakan pada Diandra untuk tetap berpisah, dan biarlah Keisya membesarkan anak mereka seorang diri karna Keisya merasa dirinya masih sanggup meskipun
harus menjadi single parent.
"Setelah aku menikah dengan Rayna, aku akan menceraikan nya. Kita bisa bersama kembali setelah itu." Ujar Diandra.
Keisya menutup mulut nya, merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja di sampaikan oleh suami nya itu.
Diandra benar benar kejam sekali jika sampai melakukan hal seperti itu, selain itu Keisya juga tidak menginginkan suami nya berbuat seperti itu.
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan?" Keisya menatap lirih suami nya.
"Anak yang di kandung oleh perempuan itu tidak bersalah, kamu jangan mengorbankan anak itu. Kamu harus bertanggung jawab." Lanjut Keisya.
"Tapi aku tidak menginginkan semua ini terjadi." Ucap Diandra.
"Tapi kamu yang membuat semua ini terjadi!" Jawab Keisya cepat.
Selama beberapa saat Keisya merasa emosi nya telah terpancing dengan semua penuturan dari Diandra.
Keisya menutup mata nya dan beristighfar.
"Mas, bagaimana pun mas harus menikahi perempuan itu dan bertanggung jawab secara penuh padanya." Ucap Keisya lembut.
Diandra menundukan kepala nya dan menutup matanya, hingga tiba tiba tubuh nya bergetar dan mata nya mulai menitikan air mata.
Bagaimana bisa ada perempuan yang begitu sangat sabar dengan perlakuan seorang suami yang telah berkhianat.
Bahkan saat ini Keisya tidak memperlihatkan sebuah kebencian padanya, dan malah membuatnya semakin merasa bersalah.
"Tidak. Aku tidak ingin berpisah dengan mu." Diandra menggelengkan kepala nya.
Keisya menghela nafas.
"Kita masih tetap bisa bertemu, walaupun kita tidak sudah tidak bersama lagi. Karna anak ini." Keisya mengusap perut nya.
"Kita bisa merawat nya bersama sama." Lanjut Keisya.
Diandra kembali menggelengkan kepala nya, dan menyuruh Keisya untuk diam dan mengehentikan pembicaraan yang semakin bertuju pada perpisahan mereka ini.
"Tolong, jangan seperti ini." Ucap Diandra.
Diandra sudah tidak tahan lagi, dengan gerakan cepat Diandra merentangkan tangan nya dan memeluk Keisya dengan erat.
"Aku sayang kamu." Bisik Diandra sambil sesegukan.
Selama beberapa saat Keisya terdiam dalam pelukan suami nya.
Pelukan dan kehangatan yang memang Keisya rindukan dari sang suami.
Keisya menutup mata nya, entah kenapa rasanya hati nya saat ini seperti di tusuk oleh sebuah pisau.
Begitu perih dan sakit dalam pelukan sang suami.
Air mata yang sedari tadi dia tahan kini tidak dapat terbendung lagi, perlahan lahan tubuh nya mulai bergetar.
Air mata mulai berjatuhan dari pelupuk mata nya.
Keisya tidak dapat menahan diri nya lagi, Keisya merentangkan tangan dan membalas pelukan dari suami nya.
"Kenapa mas lakukan semua ini padaku, kenapa?" Tangis nya semakin pecah.
"Apa selama ini kasih sayang dan perhatian yang aku berikan pada mas kurang?" Lanjut nya.
__ADS_1
Diandra mengusap punggung istri nya tersebut, dan semakin mempererat pelukan nya.
Tidak ada yang salah dan tidak ada kekurang dari Keisya untuk dirinya, hanya Diandra saja yang telat menyadari betapa berharga nya Keisya di hidup nya.