He Is Mine

He Is Mine
Eps 68


__ADS_3

"Kenapa?" Keisya memeluk perut suami nya.


Diandra menoleh sebentar.


"Tidak ada." Jawab nya tersenyum.


Keisya membenamkan kepala nya di perut suami nya itu, lalu mengatakan bahwa dia tahu kalau saat ini Diandra tengah berbohong.


"Aku tahu itu, ada sesuatu yang mas sembunyikan." Gumam nya.


Diandra menatap dalam pada istri nya tersebut.


"Tidak mungkin aku menyembunyikan sesuatu dari kamu sayang." Diandra mengusap pelan kepala istri nya.


Diandra harus kembali berbohong, sudah jelas ada sesuatu hal yang sangat penting saat ini sedang dia sembunyikan.


Sepulang dari kantor Anya, Diandra terlihat murung dan tidak banyak berbicara atau sekedar tersenyum.


Tentu saja Keisya sebagai seorang yang tinggal dalam satu atap dengan nya dapat merasakan perubahan sikap dari suami nya tersebut.


"Kamu hari ini engga mau apa apa sayang?" Tanya Diandra.


Keisya menengadahkan kepala nya.


"Tidak, ade bayi nya lagi baik." Keisya mengusap perut nya.


Diandra mengubah posisi nya menjadi berbaring, sambil memeluk dan menatap istri nya.


"Kenapa?" Tanya Keisya.


"Tidak ada." Jawab Diandra pelan.


Terlihat dari sorot mata suami nya itu bahwa dia memang sedang tidak baik baik saja, namun Keisya memilih untuk bungkam enggan untuk bertanya lebih jauh lagi.


Keisya akan menunggu sampai suami nya itu mau berterus terang padanya, dengan sendiri nya.


"I love u." Ucap Diandra sambil mengusap pipi Keisya.


"I love u too, more than u know." Jawab Keisya sambil tersenyum.


***


Hari menjelang pagi, Keisya dan Diandra baru saja selesai sarapan.


"Ini mas.." Keisya menyimpan bekal untuk makan suami nya.


"Terimakasih sayang, apa jadinya aku tanpa kamu." Ujar Diandra.


Keisya sedikit tersipu mendengar pujian tersebut.


"Aku pamit kerja dulu ya.." Diandra mencium kening istri nya itu cukup lama, lebih lama dari biasa nya.


Keisya menyampaikan pesan untuk selalu berhati hati dan jangan lupa untuk membaca bismillah terlebih dahulu, sebelum melakukan aktivitas apapun.


Beberapa saat kemudian.


Mobil Diandra mulai keluar dari komplek perumahan elit, bingung saat ini dia rasakan.


Karna dia sebenarnya tidak ingin pergi ke kantor untuk hari ini, dan entah akan pergi kemana saat ini.

__ADS_1


Mood nya benar benar sedang hancur dengan permasalahan yang sedang di hadapi nya ini, terlebih lagi Rayna yang telah berani mengadukan hal ini pada Ibu berkemungkinan untuk bertindak lebih jauh lagi.


"Aku harus bagaimana.." Gumam nya.


Diandra menepikan mobil nya di pinggir jalan, dengan lunglai Diandra turun dan duduk di depan.


"Apa aku harus benar benar menikah dengan nya?" Gumam nya lagi.


"Nikah siri.." Itulah jalan keluar yang terbesit di benak nya saat ini.


Diandra kembali memasuki mobil dan memacu nya, untuk pergi ke kantor Anya dan meminta pendapat tentang hal yang baru saja terpikir oleh nya itu.


Cukup lama waktu berlalu, akhirnya Diandra tiba di kantor milik Anya.


"Selamat siang pak." Ucap salah satu karyawan.


"Siang mbak, apa Anya ada di ruangan nya?" Tanya Diandra.


"Kebetulan pagi ini Ibu sedang berada si ruang rapat pak, bersama dengan kolega kolega kerja nya." Jelas nya.


Diandra mengangguk anggukan kepala nya.


"Begitu ya.." Ucap nya pelan.


"Kalau bapak mau, bapak bisa menunggu karna kebetulan sebentar lagi rapat nya akan segera selesai karna telah berlangsung cukup lama."


"Baiklah, saya menunggu disini saja." Diandra berjalan menuju sofa, menunggu Anya selesai rapat terlebih dahulu.


Ada rasa tidak enak dalam hati nya, karna hampir setiap hari dia datang ke kantor ini dan mungkin saja itu mengganggu aktivitas Anya juga.


Tapi untuk saat ini, tidak ada orang lain lagi selain Anya yang dapat dia percayai.


"Andra.." Panggil Anya.


Diandra menoleh sambil tersenyum.


"Hai.." Sapa Anya.


"Maaf harus menggangu waktu mu lagi." Ujar Diandra.


"Apanya yang mengganggu, jangan bicara seperti itu mari ke ruanganku."


Kedua nya berjalan menuju ruangan Anya.


"Wajah mu kusut sekali." Ucap Anya.


"Iya, semalam tidur ku tidak nyenyak." Jawab Diandra.


Kedua nya mengobrol ringan sebentar, hingga tiba pada saat dimana Anya bertanya tentang kabar permasalahan nya dengan Rayna.


Diandra menyandarkan tubuhnya.


"Ada satu jalan keluar yang terpikirkan oleh ku." Ucap nya pelan.


Anya membenarkan posisu duduk nya, dan menatap Diandra dengan serius.


"Apa itu?" Tanya Anya.


Diandra mulai menceritakan tentang jalan keluar yang dia maksud, dengan menikahi Rayna secara siri.

__ADS_1


Diandra berniat untuk menikah secara agama saja dengan Rayna, dan mungkin ini lah yang akan menjadi jalan keluar terbaik bagi mereka.


"Sekarang permasalahan nya ada pada Rayna, apakah dia siap menikah secara agama dengan mu?" Tanya Anya.


Diandra diam, apa yang di katakan oleh Anya benar.


Walaupun sudah ada jalan keluar untuk masalah ini, belum tentu juga Rayna dapat menyetujui hal ini juga.


Dan pasti akan timbul banyak pertanyaan dari Rayna dan keluarga besar nya jika sampai hal ini terjadi.


"Untuk itu aku belum terpikir sampai sana, tapi aku akan mencoba untuk berbicara dengan nya mengenai hal ini." Jawab Diandra.


Anya tersenyum.


"Bagus, itu ide yang baik dan sebaik nya kamu juga harus ceat bertemu dengan dia sebelum dia bertindak lebih jauh lagi." Jelas Anya.


Anya benar, Diandra harus segera bertemu dengan Rayna.


Diandra membuka ponsel nya, dan melakukan panggilan dengan Rayna.


Beberapa saat kemudian.


"Aku pergi dulu." Diandra berpamitan.


Saat ini Rayna ada di apartemen nya, dan kedua nya sudah sepakat akan bertemu untuk membicarakan hal ini di telpon barusan.


***


"Sayang.." Seperti biasanya, Rayna kegirangan ketika Diandra datang berkunjung ke apartemen nya.


Kedua nya masuk kedalam, Diandra duduk di sofa sedangkan Rayna pergi menuju dapur untuk membuat minuman terlebih dahulu.


"Ini kopi nya sayang, mau makan?" Tanya Rayna.


"Tidak, terimakasih aku sudah sarapan." Jawab nya.


"Lalu, apa yang akan kamu bicarakan dengan ku?" Tanya Rayna tanpa basa basi, tidak seperti biasanya.


"Aku akan menikahi mu." Ucap Diandra ragu.


Mendengar hal itu, tiba tiba wajah Rayna nampak sangat bahagia.


"Benarkah?" Tanya nya sambil memegang tangan Diandra.


"Iya, tapi secara agama." Jawab nya.


Rayna terdiam, tiba tiba raut ceria di wajah nya hilang perlahan lahan.


"Apa maksud mu?" Tanya Rayna.


"Iya, kita akan menikah." Jawab nya.


"Tapi kenapa harus nikah secara agama saja? Tidak secara negara." Tanya Rayna tidak percaya.


"Walaupun seperti itu, tetap saja pernikahan itu sah kan?" Ujar Diandra.


Iya memang benar, pernikahan itu tetap akan sah di mata agama.


"Kenapa kamu seperti ini, apa sesuatu hal yang kamu sembunyikan dariku? Siapa perempuan lain yang kamu sembunyikan dariku selama ini, siapa!" Ucap Rayna dengan nada sedikit meninggi.

__ADS_1


__ADS_2